Saat Isolasi Mandiri, Makan Jadi Modal Penting untuk Tingkatkan Imunitas

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dr. Siska Wiramihardja, Sp.GK, (bawah) menjadi pembicara pada acara Ngobrol Edukasi Santai “Gaya Hidup saat Isoman” yang digelar Klinik Kesehatan Unpad secara virtual, Selasa (3/8) malam.

[unpad.ac.id] Seseorang yang terkena Covid-19 bergejala ringan/sedang mau tidak mau harus mengondisikan diri untuk melakukan isolasi mandiri. Untuk bisa kembali sehat, penderita Covid-19 perlu memperhatikan gaya hidupnya selama menjalani isolasi mandiri.

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dr. Siska Wiramihardja, Sp.GK, mengungkapkan, ada dua aktivitas utama yang berkaitan erat dengan gaya hidup kesehatan seseorang. Dua hal tersebut adalah aktivitas makan dan aktivitas fisik.

“Ketika sehat, makan dan aktivitas fisik berdekatan sekali dengan kesenangan. Namun ketika isoman, dua hal itu dimaknai sebagai usaha kita untuk (kembali) sehat,” ujar Siska pada acara Ngobrol Edukasi Santai “Gaya Hidup saat Isoman” yang digelar Klinik Kesehatan Unpad secara virtual, Selasa (3/8) malam.

Ahli gizi tersebut menjelaskan, aktivitas makan saat isolasi mandiri tetap mengacu pada upaya untuk meningkatkan imunitas tubuh berdasarkan rekomendasi WHO. Salah satu upaya untuk meningkatkan imunitas adalah mengonsumsi makanan yang bernutrisi.

Untuk itu, kunci utama untuk bisa pulih saat isolasi mandiri adalah pola gizi yang seimbang. “Jika saat sehat seseorang jarang memperhatikan pola gizi seimbang, ternyata dia jadi modal untuk tubuh kita agar mau bekerja seperti apa. Karena itu, mari kita berikan suplai untuk tubuh kita bekerja,” ujar Siska.

Selama isolasi mandiri, penting bagi penderita untuk mengonsumsi makanan yang “lengkap”. Dalam artian, dalam setiap porsi yang dimakan mengandung karbohidrat, protein, serta vitamin dan mineral, yaitu makanan pokok (nasi/ubi/kentang), sayuran, lauk-pauk berprotein, serta dilengkapi dengan buah-buahan.

Highlight-nya ada di protein, vitamin, dan mineral. Untuk bisa memenuhi kebutuhan ini tidak harus mahal. Vitamin dan mineral ada di sayuran dan buah-buahan,” kata Siska.

Baca juga: Mengenal Kondisi "Burnout": Penyebab dan Cara Mencegahnya

Tips Makan untuk yang Bergejala

Diakui Siska, tidak semua penderita Covid-19 yang sedang isolasi mandiri mampu untuk makan dengan normal. Selain kondisi tubuh yang lemah, adanya gejala-gejala Covid-19, seperti anosmia, kehilangan indra perasa, mual, hingga gangguan pencernaan akan menyulitkan penderita untuk bisa makan.

“Saat sakit, makan merupakan salah satu terapi untuk meningkatkan imunitas. Karena itu, kita perlu niatkan bahwa makan itu adalah ikhtiar kita untuk sehat,” ujarnya.

Untuk itu, selain jenis makanan, pola makan juga perlu disiasati. Ketika seseorang tidak bisa menghabiskan satu porsi makanan saat waktunya, maka aktivitas makan bisa diperbanyak dengan porsi yang lebih sedikit.

Ibarat minum obat, makan pun harus disiasati dengan menentukan dosisnya. Makan sedikit tetapi dengan intensitas waktu yang sering akan lebih efektif.

“Kita buat dulu jadwal mau makan jam berapa. Harus ada usaha buat menepatinya,” kata Siska.

Sekalipun porsinya lebih sedikit, usahakan kebutuhan protein, vitamin, dan mineral tetap tercukup. Dengan demikian, kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi meskipun porsi yang bisa dimakan hanya sedikit.

“Ketika sudah jamnya dan makanan terhidang, silakan berdoa dan niatkan bahwa ini adalah ikhtiar, dan berusaha makan suap demi suap,” kata Siska.*

Share this: