Waspadai Dampak Kehidupan Hybrid Akibat Pandemi Covid-19

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Siska Wiramihardja, dr., MKes., SpGK., menjadi pembicara pada Webinar “Wellbeing in Hybrid Life” yang digelar secara daring, Rabu (25/8).

[unpad.ac.id] Pandemi Covid-19 membuat mayoritas masyarakat akrab dengan kehidupan hybrid. Meski dinilai memiliki banyak manfaat untuk mencegah penularan Covid-19, masyarakat juga perlu waspada agar kehidupan hybrid tidak berdampak negatif pada kesehatan.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Siska Wiramihardja, dr., MKes., SpGK., mengatakan bahwa gaya hidup sehat sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan hybrid. Hal ini bertujuan untuk mencegah berbagai dampak negatif, seperti zoom fatigue dan obesitas.

 “Gaya hidup sehat di era hybrid ini telah menjadi keniscayaan,” kata Siska pada Webinar “Wellbeing in Hybrid Life” yang digelar secara daring, Rabu (25/8).

Dikatakan Siska, dalam menjalani kehidupan hybrid, seseorang biasanya kurang beraktivitas fisik sehingga  dapat meningkatkan berat badan. Banyak orang yang bekerja sambil duduk bahkan rebahan, ditambah kudapan yang kurang sehat. Gaya hidup tidak sehat ini dapat berdampak pada peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT).

“Pandemi Covid-19 ini meningkatkan kasus obesitas,” kata Siska.

Lebih lanjut Siska menjelaskan, obesitas dapat meningkatkan risiko kesehatan, salah satunya risiko infeksi Covid-19. Jika terpapar infeksi Covid-19, orang dengan obesitas berisiko memiliki gejala yang lebih parah dibandingkan mereka yang memiliki IMT normal.

Untuk itu, Siska mengatakan bahwa sangat penting untuk mencapai berat badan ideal.

“Bagaimana caranya? Tentu adalah dengan menjalankan gaya hidup sehat, dengan mengatur pola makan yang tepat dan meningkatkan aktivitas fisik,” ujarnya.

Dampak kesehatan lain dari kehidupan hybrid adalah potensi zoom fatigue, atau kondisi kelelahan akibat aktivitas rapat dan bekerja secara daring.

Dijelaskan Siska, penyebab zoom fatigue antara lain karena menatap layar telalu intens, terjebak pada konsentrasi tinggi, melihat diri sendiri secara konsisten, mobilitas fisik berkurang, dan lingkungan yang kurang kondusif.

Untuk terus menjaga keseimbangan bekerja di era hybrid ini, Siska menyarankan untuk dapat mengatur jadwal rapat atau menggunakan alternatif lain dalam menjalani aktivitas. Selain itu, ia juga menyarankan untuk tetap menjaga kesehatan mata.

Selain dr. Siska, acara ini juga menghadirkan sejumlah pembicara yang membahas kesejahteraan diri di era hybrid dari berbagai aspek. Acara ini menghadirkan pembicara kunci Human Capital & Legal Director PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Tina T. Kemala Intan, Psikolog.,

Acara ini juga menghadirkan pembicara Kepala Departemen Psikologi Klinis dan Perkembangan Fakultas Psikologi Unpad Dr. H. Ahmad Gimmy Prathama, M.Si., Psikolog, Guru Besar Fakultas Keperawatan Unpad Prof.  Suryani, S.Kp.,MH.Sc.,PhD, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Dr. Nindi Aristi, S.Sos.,MA.Comn., dan pesohor yang juga alumnus Fakultas Hukum Unpad Donna Agnesia.

Webinar ini merupakan salah satu dari Webinar Series yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-64 Unpad. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan soft launching Pusat Inovasi dan Pengembangan Kesehatan (PIPKes) Unpad.(arm)*

Share this: