Membedah Karya Abdulrazak Gurnah, Peraih Nobel Sastra 2021

Dosen Departemen Susastra dan Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Lestari Manggong, M.A., menjadi pembicara pada diskusi  Satu Jam Berbincang Ilmu “Menggoyak Alpa, Menolak Lupa: Pengabaian dalam Karya Abdulrazak Gurnah” dengan moderator Prof. Susi Dwi Harijanti, Sabtu (6/11/2021).*

[Kanal Media Unpad] Sastrawan Inggris Abdulrazak Gurnah meraih hadiah Nobel Sastra 2021. Dalam kajian sastra secara umum, karya-karya Gurnah dinilai menjadi panutan karena menampilkan realitas kehidupan yang digambarkan dalam tokoh fiksi.

Demikian disampaikan Dosen Departemen Susastra dan Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Lestari Manggong, M.A., pada diskusi  Satu Jam Berbincang Ilmu “Menggoyak Alpa, Menolak Lupa: Pengabaian dalam Karya Abdulrazak Gurnah”, Sabtu (6/11/2021).

Sastrawan asal Pulau Zanzibar, Tanzania, ini dikenal sebagai penulis yang mengangkat isu identitas dan diskriminasi kaum imigran di Eropa. Hal ini tergambarkan dalam 10 novel yang ditulisnya sejak 1987 hingga 2020.

“Dari pemaparan garis besar cerita 10 novel tersebut, tampak bahwa isu utama yang mengemuka adalah dampak dari persitegangan di tanah kelahiran yang menyebabkan para karakter dalam cerita tersebut pergi ke tempat baru dengan membawa ingatan sejarah kolonial mereka dan identitas ras yang membuat mereka didiskriminasi,” papar Lestari.

Kepergian ini, lanjut Lestari, memaksa mereka untuk mengabaikan tanah kelahiran dan melalaikan masa lalu. Namun, hal ini sulit dilakukan karena ingatan akan tanah kelahiran terus mengemuka.

Kondisi ini banyak ditemukan dan dipermasalahkan pada karya sastra poskolonial, atau karya sastra yang berfokus pada dampak kolonialisme Eropa di wilayah koloninya.

Kendati tidak secara langsung berbicara mengenai pengalamannya sebagai imigran di Inggris, Abdulrazak Gurnah nyatanya memanfaatkan karakter fiksi untuk menjelaskannya.

Lestari memaparkan, dari dua novel Gurnah misalnya, yaitu Desertion (2005) dan Admiring Silence (1996), tersebar banyak pemarkah yang mengindikasikan bahwa kedua novel tersebut merupakan karya narasi hidup yang difiksikan.

“Kata ‘memoar’ yang secara eksplisit disebut dalam Desertion, di satu sisi memvalidasi bahwa kisah yang ditulis merujuk pada pengalaman pribadi Amin (tokoh dalam novel). Namun, di sisi lain, ada maksud terselubung yang memberi petunjuk bahwa kisah yang ditulis merujuk pada pengalaman Gurnah yang difiksikan,” ungkap Lestari.

Peneliti sastra poskolonial ini mengatakan, dalam kajian poskolonial, karya-karya Abdulrazak Gurnah membantu pembaca memahami persitegangan antara wilayah koloni (periferi) dengan pusat (imperium).

Namun, dalam konteks lebih luas, karya-karya Gurnah membantu menghadirkan representasi sosok yang mengalami penindasan, ketidaksetaraan, dan diskriminasi. “Karya-karya Gurnah dapat membantu masyarakat luas mendapatkan gambaran mengenai apa saja yang melatari perlakuan tersebut,” kata Lestari.*

Share this: