Perlu Kesadaran Orang Tua dalam Memelihara Kesehatan Gigi dan Mulut Anak

Dosen
Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Prima Andisetyanto, drg., Sp.KGA, menjadi pembicara pada Webinar “Senyum Anak: Tugas Kita untuk Menjaganya” yang digelar pada Sabtu (11/12/2021).

[Kanal Media Unpad] Menjaga kesehatan gigi dan mulut anak perlu dilakukan sedini mungkin. Selain mengajarkan dan mendampingi anak saat menyikat gigi, orang tua juga perlu mengajak anak rutin memeriksakan giginya ke dokter gigi.

Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Prima Andisetyanto, drg., Sp.KGA, mengatakan, orang tua acap tidak menyadari pentingnya memelihara kesehatan gigi dan mulut anak. Kunjungan ke dokter gigi pun biasanya dilakukan saat anak sudah memiliki keluhan terkait kondisi gigi atau rongga mulutnya.

“Tanpa kita sadari kalau tidak kita periksa baik-baik atau tidak kita bawa ke dokter gigi kita bisa menemukan hal yang sudah terlambat,” kata Prima dalam Webinar “Senyum Anak: Tugas Kita untuk Menjaganya” yang digelar pada Sabtu (11/12/2021).

Dikatakan Prima, sebaiknya anak mulai diperkenalkan ke dokter gigi saat kondisi masih baik atau tidak memiliki permasalahan yang parah. Hal ini dinilai dapat menghindari rasa takut dan trauma anak terhadap dokter gigi.

“Supaya di kunjungan awal tidak ada tindakan yang terlalu invasif dan menyakitkan,” kata Prima.

Kunjungan ke dokter gigi sebaiknya dilakukan tiga hingga enam bulan sekali. Sejak anak masih bayi, orang tua sudah perlu memeriksakan kesehatan rongga mulut anaknya ke dokter gigi.

Selain itu, orang tua perlu menjadi role model yang baik dalam menjaga kesehatan gigi. Saat orang tua melakukan perawatan ke dokter gigi, anak dapat diajak dan diperlihatkan bagaimana rasa aman dan nyaman saat menjalani perawatan.

Karies Gigi

Diungkapkan Prima, permasalahan terbesar gigi dan mulut anak saat ini adalah karies. Ada 4 faktor besar yang menyebabkan terjadinya karies, yaitu jumlah bakteri di rongga mulut, kualitas email dan air ludah, diet atau pola makan, serta waktu atau berapa lama faktor-faktor pencetus karies berada di rongga mulut.

Dari empat faktor tersebut, Prima mengatakan bahwa setidaknya faktor jumlah bakteri dan diet merupakan hal yang bisa dikendalikan untuk menghindari karies.

Terkait jumlah bakteri, Prima menekankan pentingnya membersihkan rongga mulut dengan sikat gigi secara teratur. Menurutnya, anak perlu terus didampingi saat sikat gigi hingga anak berusia 8 tahun. Meski anak sudah dapat sikat gigi sendiri, orang tua perlu memeriksa kembali kebersihan giginya.

“Motorik halus anak pada saat menyikit gigi memang akan berkembang seiring pertambahan usianya. Namun, dalam proses tersebut perlu pendampingan dari orang tua,” ujar Prima.

Selain itu, anak juga perlu memperhatikan apa yang dimakan. Menurut Prima, anak perlu mengurangi makanan manis dan lengket guna meminimalkan risiko terjadinya karies. Makanan yang manis dan lengket juga dapat menjadi makanan bakteri di rongga mulut.

Dijelaskan Prima, kualitas gigi dan mulut akan memengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak secara umum. Hal ini juga dapat berpengaruh pada kualitas belajarnya.

“Mari kita mulai kebiasan menjaga kesehatan mulut yang baik secara dini,” tuturnya.

Webinar ini merupakan salah satu acara yang digelar Kelompok RK 088 mata kuliah Olah Kreativitas dan Kewirausahaan untuk memberikan edukasi kepada orang tua dan anak mengenai cara menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut.

Selain webinar, pada kesempatan tersebut juga dilakukan peluncuran awal buku berjudul “Kanin si Murah Senyum”. Buku ini dinilai bukan hanya akan disukai anak tapi juga membantu mengenai cara menjaga kesehatan gigi.

“Proyek kami ini pembuatan activity book untuk anak dengan topik seputar kesehatan rongga mulut,” kata dosen mentor kelompok RK088 Dewi Zakiawati, drg., M.Sc.(arm)*

Share this: