Mendikbudristek: MBKM Jadi Contoh Panutan Transformasi Pendidikan Tinggi

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI Nadiem Anwar Makarim melakukan dialog dengan sivitas akademika Universitas Padjadjaran dalam acara “MBKM Unpad Expo” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Senin (17/1/2022). (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengharapkan Indonesia menjadi panutan perubahan transformasi pendidikan tinggi. Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) diharapkan menjadi transformasi baik bagi perguruan tinggi.

“Indonesia tidak hanya mengejar ketertinggalan. Indonesia harus jadi contoh panutan perubahan transformasi pendidikan tinggi. Orang akan menulis sejarah transformasi pendidikan tinggi kita,” ungkap Nadiem Makarim dalam acara “MBKM Unpad Expo” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Senin (17/1/2022).

Nadiem mengatakan, program MBKM bertujuan merangsang dan mendorong institusi perguruan tinggi melakukan perubahan. Perubahan dilakukan untuk mengembalikan relevansi dan roh kemerdekaan dalam institusi pendidikan.

Diakui Nadiem, MBKM sengaja dilakukan perubahan besar. Ada perbedaan signifikan dari sistem tersebut. Hal ini dilakukan guna mengatasi ketertinggalan dari sistem pendidikan tinggi yang saat ini berjalan.

“Perubahan kebijakan di Kampus Merdeka sengaja dilaksanakan untuk berikan shock therapy. Kalau tidak lakukan hal-hal ‘gila’, tidak akan mencapai tujuan untuk mengejar ketertinggalan tersebut,” ucapnya.

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mencoba aplikasi VNurslab karya tim Fakultas Keperawatan Unpad dalam pameran acara “MBKM Unpad Expo” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Senin (17/1/2022).

Nadiem yang akrab disapa Mas Menteri ini mengatakan, perubahan yang didorong dalam program MBKM bisa dilihat dari delapan indikator kinerja utama yang ditetapkan ke setiap perguruan tinggi.

Delapan IKU tersebut meliputi jumlah lulusan mendapat pekerjaan layak, jumlah mahasiswa yang belajar di luar kampus minimal satu semester, jumlah dosen yang punya pengalaman di luar kampus, jumlah praktisi yang mengajar di kampus, jumlah riset terapan yang menghasilkan manfaat nyata, jumlah program studi yang melakukan kemitraan, jumlah akreditasi internasional, serta berapa persen mata kuliah yang penilaiannya berdasarkan project based learning.

Karena itu, lanjut Nadiem Makarim, pembelajaran dalam kampus yang bersifat masuk kelas, diceramahi dosen, dan dinilai oleh ujian sudah tidak relevan saat ini. Semua mata kuliah harus bisa diterapkan dalam aspek kolaborasi. Multidisplin menjadi arah baru dalam sistem pendidikan tinggi.

Ia pun mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan program MBKM tersebut. Program ini menjadi momentum terbaik bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan bekerja sama, komunikasi, keberanian, hingga berjiwa sosial.

“Kapan lagi Anda bisa lakukan proyek sosial? Ini kesempatan baik untuk mengasah otak intelektual, kemampuan problem solving, juga mengasah jiwa sosial dan jiwa Pancasila,” kata Nadiem Makarim.

Acara yang dipandu langsung Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti ini diikuti oleh perwakilan mahasiswa peserta program MBKM di Unpad. Turut hadir Plt. Dirjen Diktiristek Prof. Nizam, sejumlah pimpinan Unpad, dan beberapa pimpinan perguruan tinggi di Kota Bandung.

Usai berdialog, Nadiem mengapresiasi positif keberhasilan mahasiswa Unpad yang mengikuti program MBKM. Banyak mahasiswa yang mendapat pengalaman baik saat mengikuti program tersebut.

“Masukannya benar-benar positif, mereka tidak mengira bisa mendapatkan kesempatan seperti ini,” kata Nadiem Makarim.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor mengatakan bahwa Unpad telah siap melakukan transformasi melalui program MBKM. Unpad sendiri telah melaksanakan program MBKM sejak 2020.*

Share this: