Antisipasi Kelainan Gigi dan Mulut dengan Deteksi Mandiri

Dosen
Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Dr. Netty Suryanti, drg., MARS, menjadi pembicara pada Webinar Series Pengabdian Pakar FKG Unpad yang digelar secara daring, Sabtu (23/7/2022).*

[Kanal Media Unpad]  Dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Padjadjaran Dr. Netty Suryanti, drg., MARS, mengatakan, penting bagi masyarakat untuk rutin melakukan deteksi mandiri kondisi gigi dan mulutnya. Deteksi mandiri ini diperlukan sebagai bentuk antisipasi dini terhadap kemungkinan munculnya kelainan yang ada di gigi dan mulut.

“Jadi bisa mendeteksi segera. Sehingga kalau ada suatu kelainan di gigi atau mulut kita, kita bisa segera tahu dan bisa datang langsung konsultasi ke dokter gigi,” kata Netty dalam Webinar Series Pengabdian Pakar FKG Unpad yang digelar secara daring, Sabtu (23/7/2022).

Netty mengatakan, permasalahan pada gigi dan mulut perlu ditangani sedini mungkin. Jika tidak, dapat semakin parah atau muncul permasalahan lain. Salah satunya adalah gigi yang sakit dapat menjadi fokal infeksi di tempat lain.

“Biasanya ada luka terbuka di dalam mulut. Dari situ bakteri masuk ke pembuluh darah dan membawa bakteri ke anggota tubuh yang lain,” ujar Netty.

Selain itu, sakit di gigi dan mulut juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan, kesulitan mengunyah makanan, kesulitan berbicara, hingga mengganggu kualitas hidup. Jika sudah parah, biaya yang harus dikeluarkan juga tinggi dan memerlukan waktu pemulihan yang lama.

Deteksi Mandiri

Adapun cara deteksi mandiri  kesehatan gigi dan mulut dapat dilakukan menggunakan cermin atau kamera pada ponsel.

“Berdiri di depan cermin, mulutnya buka lebar-lebar, lalu miringkan ke atas sehingga kelihatan gigi yang belakang, gigi di atas. Kalau kurang terang cahayanya gunakanlah senter atau nisar dari handphone,” ujarnya.

Saat mendeteksi, perlu diperhatikan gigi, gusi, dan lidah. Pada gigi, dilihat apakah ada gigi yang hitam atau berlubang. Pada gusi, diperhatikan apakah ada kemerahan, pembengkakan, gusi turun, benjolan, luka pedih, atau sariawan. Pada lidah, diperhatikan apakah ada selaput putih, merah sakit, bengkak, atau luka.

Selain itu, perlu juga diperhatikan kemungkinan adanya kelainan seperti sensitif atau berwarna, ada gigi yang goyang atau berdarah, ada plak atau kalkulus, adanya susuan gigi yang berjejal atau mengganggu, atau adanya sakit pada sendi rahang.

“Lakukan deteksi tersebut rutin. Perlu satu atau dua menit sebulan sekali saja, itu bisa menolong supaya gigi kita tetap sehat,” kata Netty.

Konsultasi

Setelah mendeteksi adanya kelainan pada gigi dan mulut, Netty pun menekankan perlunya konsultasi dan pemeriksaan lanjut ke dokter gigi. Jangan sampai diabaikan atau diobati sendiri.

“Kalau dokter gigi itu penuh dengan pertimbangan-pertimbangan, analisis, kemudian merencanakan bagaimana risikonya supaya minim. Semuanya itu harus kita perhitungkan,” ujarnya.

Ia juga menganjurkan adanya kunjungan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Hal ini penting untuk mendeteksi lebih akurat kelainan gigi dan mulut karena banyak kelainan yang tidak disadari atau tidak mudah dideteksi sendiri.

Kawat Gigi

Selain Netty, acara tersebut juga menghadirkan pembicara Prof. Dr. Endah Mardiati, drg., Sp. Ort (K) yang membahas mengenai perawatan kawat gigi pada usia remaja. Dalam paparannya, Prof. Endah menekankan pentingnya pemasangan kawat gigi pada tenaga yang kompeten, yaitu ortodontis.

“Kami sangat prihatin jika adik-adik merawat gigi dengan memasang behel pada tenaga yang tidak kompeten,” ujar Prof. Endah.

Prof. Endah mengatakan bahwa kawat gigi jangan sampai dijadikan mainan. Pemasangan kawat gigi yang tidak tepat akan berbahaya.

“Karena memang harus dilakukan oleh seseorang yang mengerti betul mengenai perawatan kawat gigi,” ujar Prof. Endah.

Selain pemaparan pembicara, acara yang diikuti oleh pelajar dan guru  SMA PGII Bandung tersebut juga diisi dengan konsultasi kesehatan gigi para peserta secara daring melalui breakout rooms pada aplikasi Zoom.

“Konsultasi dapat dilakukan oleh seluruh siswa dan guru pada kurang lebih 30 dokter gigi yang juga bertugas sebagai dosen FKG Unpad, kemudian juga 20 dokter gigi residen orto dan 26 dokter gigi muda,” ungkap Dekan FKG Unpad Dr. Dudi Aripin, drg., Sp.KG saat membuka acara. (arm)*

Share this: