BRIN Dorong PKR Biomassa dan Biorefineri Jadi Salah Satu Kekuatan Riset Indonesia

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN Agus Haryono saat membuka acara Temu Nasional dan FGD PKR Biomassa dan Biorefineri secara virtual, Rabu (3/8/2022).

[Kanal Media Unpad] Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong Pusat Kolaborasi Riset Biomassa dan Biorefineri yang dimotori Universitas Padjadjaran terus berkembang serta merangkul lebih banyak periset dan mitra dalam maupun luar negeri. Sampai saat ini, ada empat PTN lain yang bergabung dalam PKR Biomassa dan Biorefineri.

“Diharapkan di tahun berikutnya makin bertambah, sehingga kekuatannya jadi lebih kuat,” kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN Agus Haryono saat membuka acara Temu Nasional dan FGD PKR Biomassa dan Biorefineri secara virtual, Rabu (3/8/2022).

Agus mengatakan, pembentukan PKR sejatinya menjadi wadah kolaborasi bagi periset sejenis. Kolaborasi ini dapat meminimalisasi riset yang tumpang tindih. “Sebagai contoh, di Indonesia riset biorefineri ini banyak. Kalau kita bisa kumpulkan di sini (PKR), potensi tumpang tindih akan berkurang, dan efisiensi anggaran riset dapat dilakukan,” imbuhnya.

Untuk itu, PKR didorong untuk terbuka melakukan kolaborasi. Berbagai kekurangan dari riset yang ada dapat didukung dan dikolaborasikan, sehingga kekuatan Indonesia, salah satunya di sektor biomassa dan biorefineri dapat makin kuat.

Agus pun mendorong kolaborasi yang dilakukan PKR Biomassa dan Biorefineri menjadi kerja sama dengan mitra internasional. Diharapkan, kolaborasi ini akan mendorong Indonesia menjadi sentra penting dalam riset mengenai biomassa dan biorefineri.

“Nanti, orang kalau bicara refineri di Asia Tenggara diarahkannya ke sini (PKR), bukan lagi negara lain. Ini kekuatannya akan sangat masif karena mengikutsertakan kekuatan dalam negeri dan mitra luar negeri,” jelasnya.

Selain berkolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi pemerintah, PKR Biomassa dan Biorefineri juga didorong menjalin kolaborasi dengan mitra industri. Kerja sama ini diharapkan mendorong proses hilirisasi riset makin cepat.

Senada dengan Agus, Direktur Riset dan Pengabdian pada Masyarakat Unpad Prof. Rizky Abdullah, PhD, mengatakan, PKR Biomassa dan Biorefineri menjadi wadah yang dikembangkan Unpad mengenai penguasaan teknologi kunci pengolahan biomassa dengan konsep biorefineri agar menjadi produk bermanfaat, baik dalam bidang pangan, kesehatan, energi, dan biomaterial.

Adanya kegiatan ini juga diharapkan merumuskan kebijakan pendukung dari berbagai sisi akademik, peneliti, industri, pemerintah, dan masyarakat umum. Perumusan kebijakan dilakukan untuk mencari permasalahan terbaik seputar implementasi biorefineri di Indonesia, khususnya melalui pembentukan pusat riset inklusif, kolaboratif, dan mampu merangkul semua ahli.

Temu Nasional dan FGD PKR Biomassa dan Biorefineri ini menghadirkan sejumlah narasumber. Di sela acara, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad dengan Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk; FTIP dengan pabrik kelapa sawit PT. Condong Garut, serta PKS antara PKR Biomassa dan Biorefinery dengan Safe Network.*

Share this: