Sebanyak 168 Mahasiswa dari 20 Negara Ikuti Hybrid Summer Course Sekolah Pascasarjana Unpad

Suasana Hybrid Summer Course yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Senin (22/8/2022).

[Kanal Media Unpad] Sekolah Pascasarjana Universitas Padjadjaran bersama Pusat Unggulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan (PULIK) Unpad menggelar Hybrid Summer Course yang digelar Senin (22/8/2022) sampai Jumat (27/8/2022). Kegiatan ini diikuti oleh 168 peserta dari  20 negara.

Mengusung tema “Unlocking the Resilience of Traditional Bioproduction System Towards Climate Change”, acara ini juga didukung ITMoB Project yang merupakan kerjasama antara IGES Jepang, UPLB Filipina, dan PULIK Unpad.

Acara dibuka oleh Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti dan Dekan Sekolah Pascasarjana Unpad, Dr. med. Setiawan, dr. Kegiatan ini melibatkan 5 Keynote Speakers dan 10 Invited Speakers yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Para pembicara tersebut berasal dari Unpad, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Institute Research Indonesia – Jepang (IRIJ), serta dari mitra riset di luar negeri seperti Dr. Osamu Saito dari IGES Jepang, Prof. Dr. Juan Puhlin dari UPLB Filipina, Deepak K Verma, Ph.D dari Indian Institute of Technology Kharagpur India, Dr. AK. Mohd Rafiq AK, Matusin, dan Dr. Mohd. Alif bin Mohd. Puzi dari University Teknologi Malaysia (UTM).

Dalam sambutannya, Rektor Unpad mengatakan, Hybrid Summer Course ini merupakan bagian dari transformasi Unpad menuju Hybrid University yang dapat memberikan dampak sosial sekaligus mencapai tujuan akademik.

Sementara itu, Dr. Setiawan mengatakan bahwa 168 peserta berasal dari lebih dari 30 perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Dari 168 peserta tersebut,  56 di antaranya merupakan warga negara asing yang berasal dari Afghanistan, Bangladesh, Kamboja, China, Republik Demokratik Kongo, Mesir, Hungaria, Iran, Irak, Jepang, Korea, Malaysia, Maroko, Pakistan, Filipina, Perancis, Taiwan, Inggris, dan Vietnam.

Peserta yang mengikuti kegiatan secara luring akan melakukan kunjungan ke beberapa tempat yang merupakan sistem bioproduksi khas di sekitar Bandung dan Sumedang, yaitu sistem bioproduksi aren di Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat; ubi cilembu di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang; padi organik di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang; dan lebah teuweul di Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang.

Selain itu di hari terakhir, peserta luring akan mengunjungi Tangkubanparahu dan sekitarnya untuk melihat sistem bioproduksi teh yang berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (rilis)*

Share this: