Hasilkan Buku, Pius Lustrilanang Tularkan Pemikiran Kritis kepada Mahasiswa

Anggota VI BPK RI yang juga Mantan Aktivis 98 Pius Lustrilanang berbicara di hadapan mahasiswa dalam acara Kuliah Umum dan Bedah Buku “Aldera: Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1998” yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Selasa (6/12/2022) kemarin. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Masa-masa menjadi mahasiswa menjadi momentum untuk memiliki kematangan akademik serta kedewasaan berpikir dan bersikap. Hal ini terlihat dari bagaimana masifnya gerakan aktivis mahasiswa di Indonesia, salah satunya di era 90an.

Demikian disampaikan Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan RI yang juga Mantan Aktivis 98 Pius Lustrilanang dalam acara Kuliah Umum dan Bedah Buku “Aldera: Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999” yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Selasa (6/12/2022) kemarin.

Di hadapan mahasiswa, Pius bercerita mengenai karier aktivis mahasiswanya pada 1993-1999. Saat itu, untuk menjadi seorang aktivis tidak sekadar memiliki pemikiran yang kritis, tetapi berani menghadapi dan melawan langsung tirani. Hal ini dilakukan Pius dengan membentuk organisasi aktivis mahasiswa “Aliansi Demokrasi Rakyat” atau “Aldera”.

Pius yang pernah menjadi Sekjen Aldera mengatakan, aktivis mahasiswa biasanya memiliki tiga pilar pergerakan. Mulai dari membentuk kelompok studi, melahirkan pers mahasiswa, hingga fase turun ke jalan.

Kelompok studi lahir untuk menjadi ruang diskusi untuk melahirkan berbagai pemikiran kritis. Pemikiran kritis tersebut kemudian ditularkan lebih luas melalui peran pers. Terakhir, gerakan turun ke jalan merupakan pamungkas dari dua pilar tersebut.

“Bagi refleksi saya sendiri, turun ke jalan adalah kelompok lengkap. Turun ke jalan berarti dia harus bikin selebaran aksi, harus mampu menjelaskan melalui pembenaran intelektual, dan harus mampu juga menjadi pers mahasiswa,” jelasnya.

Gerakan perjuangannya dalam “Aldera” kemudian ditulis Pius menjadi sebuah buku. Ia berharap, nilai-nilai perjuangan yang terkandung dalam buku tersebut bisa mengilhami anak-anak muda untuk tetap berpikir kritis terhadap kekuasaan.

“’Spesies’ mahasiswa adalah spesies unik. Sebagai sebuah spesies mahasiswa punya peran penting dalam sejarah Indonesia. Semoga sikap kritis ini tetap ada,” kata Pius.

Acara kuliah umum dan bedah buku ini juga dihadiri Kepala Kejaksaan Tinggi Jabar Prof. Asep N. Mulyana, Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti dan sejumlah tamu undangan lainnya. Dalam sambutannya, Prof. Asep mengapresiasi buku yang ditulis oleh Pius tersebut.

“Ada beberapa hal yang bisa dilihat bagaimana dalam buku ini nampak perjuangan kebenaran dengan keberanian luar biasa. Buku ini meninggalkan banyak pelajaran pada kita. Perjuangan menyampaikan opini saat itu tidak semudah sekarang,” terangnya.

Rektor juga berharap, acara ini dapat membuka wawasan untuk memiliki tambahan pengetahuan yang bisa memperkaya mahasiswa.

Sesi bedah buku ini menghadirkan pembahas Kepala Departemen Administrasi Publik FISIP Unpad Dr. Asep Sumaryana, M.Si., Dosen Prodi Administrasi Publik FISIP Unpad Dr. Dedi Sukarno, M.Si., serta Kabag SDM Mahkamah Konstitusi RI Dr. Andi Hakim.*

Share this: