Internasionalisasi Telah Mengakar Kuat dalam Perjalanan Fapsi Unpad

fapsi unpad
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Zahrotur Rusyda Hinduan, S.Psi., MOP, PhD. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran terus berupaya meningkatkan kualitas. Peningkatan kualitas tersebut dilakukan Fapsi Unpad untuk menembus pemeringkatan internasional di bidang Psikologi.

Dekan Fapsi Unpad Zahrotur Rusyda Hinduan, S.Psi., MOP, PhD, mengatakan, satu-satunya rujukan pemeringkatan internasional bidang Psikologi saat ini adalah QS World University Ranking by Subject. Sampai saat ini, belum ada fakultas atau program studi Psikologi di Indonesia yang berhasil terindeks pemeringkatan tersebut.

“Kita lihat, belum ada perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki fakultas/program studi yang masuk ke daftar itu karena treshold-nya tinggi, yaitu minimal menghasilkan 60 publikasi ilmiah per tahun dan harus bertahan tiga tahun berturut-turut,” tutur dekan yang akrab disapa Rosie saat diwawancarai Kanal Media Unpad.

Rosie menjelaskan, Fapsi Unpad terus berupaya agar publikasi ilmiah meningkat. Pada 2022, sekira 40 publikasi ilmiah internasional berhasil dilahirkan sebagian besar oleh para dosen dan mahasiswa program Doktoral. Hal yang menarik, sebagian besar publikasi tersebut berada di kategori Q1 dan Q2.

Jumlah tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Rosie mengatakan, saat ini para dosen sudah terdorong untuk melakukan publikasi ilmiah. “Di Psikologi selama ini lebih ke memberikan pelayanan, sehingga publikasi menjadi sesuatu yang baru. Sekarang relatif banyak , baik dari dosen maupun mahasiswa S-3 yang melakukan publikasi,” imbuhnya.

Di sisi lain, internasionalisasi juga terus diperkuat. Aktivitas ini telah mengakar dalam perjalanan Fapsi Unpad sebagai pelopor fakultas psikologi di Indonesia. Di bidang penguatan rekognisi internasional, kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri telah banyak dilakukan.

Rosie memaparkan, selama 2022, ada 77 mahasiswa asing yang mengikuti berbagai kegiatan internasionalisasi di Fapsi Unpad, seperti kegiatan magang (internship), summer course, hingga joint course.

Di bidang penyelenggaraan perkuliahan, sudah dua tahun berturut-turut Fapsi Unpad berkolaborasi dengan Radboud University of Nijmegen, Belanda, untuk menyelenggarakan mata kuliah pain perception. Penyelenggaraan kuliah dan praktikum diselenggarakan secara hybrid.

Sebelumnya, Fapsi juga telah menggelar program “Virtual Mobility” dengan Maastricht University, Belanda sejak 2015. Pada program ini, mahasiswa Unpad dan Maastricht mengerjakan tugas bersama-sama. “Ada satu tugas yang dikerjakan bersama-sama, sehingga mahasiswa belajar bagaimana berkomunikasi, menyesuaikan waktu, dan berusaha menyelesaikan permasalahan bersama,” tutur Rosie.

Lebih lanjut Rosie mengatakan, banyaknya dosen yang berhasil melakukan publikasi Q1 dan Q2 mendorong mereka mendapatkan tawaran untuk menjadi tim penilai (reviewer) jurnal ilmiah hingga tawaran untuk kolaborasi riset. Hal ini mendorong kolaborasi internasional di Fapsi Unpad terus menguat.

Menurut Rosie, kolaborasi internasional berperan penting dalam penguatan kualitas Fapsi Unpad. Di tingkat internal, kolaborasi dapat meningkatkan standar pendidikan sehingga pendidikan yang diselenggarakan tidak hanya mengejar pencapaian capaian pembelajaran lulusan (CPL), tetapi memfasilitasi keterampilan baru yang bisa diperoleh lulusan.

“Jadi tidak hanya mengajarkan apa yang menjadi CPL Prodi-nya, tetapi ada hal lain yang membantu mereka (lulusan) memiliki skill yang bagus,” ujar Rosie.*

Share this: