Tujuh Tim Wirausaha Mahasiswa Unpad Raih Pendanaan P2MW Ditjen Dikti

Stan Pusat Inkubasi Bisnis/Oorange Universitas Padjadjaran. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Sebanyak tujuh kelompok wirausaha mahasiswa Universitas Padjadjaran berhasil mendapatkan pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi atau Ditjen Dikti Kemendikbudristek RI.

Direktur Pusat Inkubasi Bisnis/Oorange Unpad Rivani, M.M., DBA, mengatakan, P2MW merupakan program Ditjen Dikti Kemendikbudristek untuk mendukung pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Program ini fokus diberikan bagi mahasiswa yang sudah memiliki usaha melalui bantuan dana pengembangan dan pembinaan.

“Tahun ini, Unpad mengirimkan tim mahasiswa, diseleksi di nasional, dan tujuh di antaranya berhasil didanai. Dananya berkisar Rp 12 – 25 juta,” ujar Rivani saat dihubungi Kanal Media Unpad.

Melalui dana tersebut, setiap tim mahasiswa beserta dosen pembimbingnya dan dibantu Oorange akan mengimplementasikan usahanya dalam 4 – 5 bulan ke depan. Setelah proses implementasi selesai, tim akan dievaluasi dan diseleksi kembali untuk lolos ke ajang Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) 2023.

Lebih lanjut Dosen Program Studi Administrasi Bisnis FISIP Unpad tersebut menjelaskan, kelompok yang mengajukan P2MW adalah mereka yang berhasil melewati proses penjaringan di tingkat internal. Sebagian besar kelompok merupakan pemenang Hibah Inovasi Pre-Startup Mahasiswa Unpad (HIPSMU).

“Karena beberapa pernah mendapat HIPSMU, jadi relatif lebih matang sehingga peluang mendapat pendanaan lebih besar,” ujar Rivani.

Hal ini juga selaras dengan kebijakan P2MW yang merekomendasikan pendanaan untuk bisnis mahasiswa yang sudah berjalan. “P2MW diprioritaskan untuk usaha yang sudah berjalan. Kalau yang masih sebatas ide itu lebih ke PKM Kewirausahaan,” imbuh Rivani.

Setelah mendapat pendanaan, setiap tim akan melakukan konsolidasi dengan dosen pembimbing dan dilakukan pendampingan oleh Oorange. Pendampingan dilakukan berupa konsultasi, pemberian pelatihan, serta fasilitasi akses ekosistem kewirausahaan, seperti akses pasar, teknologi, ahli, hingga akses legal jika dibutuhkan.

“Kita berharap kerja sama dengan dosen pembimbing dan program studi masing-masing, mahasiswa bisa optimal impelementasinya, sehingga ketika di-review Dikti bisa dipanggil semuanya ke tingkat nasional,” tutur Rivani.

Rivani mendorong agar setiap kelompok dapat memanfaatkan dana yang diperoleh sehingga dapat mengembangkan bisnis yang bermanfaat bagi diri sendiri, tim, universitas, maupun masyarakat.

“Manfaatkan secara optimal, karena ini benar-benar fasilitasi pemerintah untuk mahasiswa yang punya usaha,” tutup Rivani.*

Share this: