Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Rina Indiastuti didampingi pimpinan universitas dan fakultas menyerahkan SK pengangkatan guru besar kepada 14 guru besar baru di lingkungan Unpad di ruang Executive Lounge Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Selasa (22/8/2023). (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Sebanyak 14 guru besar baru di lingkungan Universitas Padjadjaran menyampaikan gagasan terkait kepakarannya di hadapan Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti dan jajarannya di Ruang Executive Lounge, Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Selasa (22/8/2023).

Penyampaian gagasan ini dilakukan dalam acara penyerahan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional di lingkungan Unpad.

Para guru besar dengan gagasannya tersebut, yaitu:

Prof. Dr. Dolih Gozali, Drs., Apt., M.Si.

Prof. Dolih dari Fakultas Farmasi diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Farmasetika. Ia banyak berkiprah dalam penelitian bahan baku obat. Salah satu penelitiannya yaitu untuk meningkatkan efektivitas Atorvastatin sebagai salah obat untuk penyakit jantung.

Ia melakukan penelitian untuk meningkatkan kelarutan atorvastatin dengan merekayasa sifat fisikokimia, di antaranya dalam bentuk kokristal. Penelitian juga dilakukan dengan menggunakan software atau secara komputerisasi.

“Semoga penelian ini bermanfat khususnya bagi pemenuhan bahan baku obat dalam negeri dan bagi kita semua,” harapnya.

Prof. Dr. R. Widya Setiabudhi Sumadinata, S.Si., S.IP., M.T., M.Han.

Prof. Widya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Keamanan Global. Keilmuan ini merupakan bagian dari ilmu hubungan internasional. Prof. Widya berkomitmen untuk melakukan riset-riset untuk mendukung keamanan nasional dan berkontribusi pada keamanan dunia.

Prof. Widya pun menekankan adanya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam mendukung keamanan global ini. Ia dan tim berkolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan FMIPA Unpad untuk mengembangkan diplomasi digital.

“Kolaborasi adalah suatu keniscayaan. Tidak lagi bisa kita lakukan sendiri,” ujar Prof. Widya.

Prof. Nur Atik, dr. M.Kes, Ph.D.

Prof. Nur Atik dari Fakultas Kedokteran diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Kedokteran Dasar. Ia banyak mengkaji imunologi yang banyak membahas mengenai ketahanan tubuh manusia.

Salah satu penelitian yang ia dan tim lakukan adalah mengenai respons di dalam tubuh pada pasien autoimun yang terkena Tuberkulosis (TB).

“Kita paham TB menjadi masalah utama di Indonesia bahkan masalah global, khususnya di Jawa Barat juga. Kami menemukan beberapa teori yang kiranya bisa menjadi pertimbangan di masyarakat kalau seandaianya pasien autoimun yang terkena TB ingin diperiksakan itu pada saat bagaimana sebaiknya,” jelasnya.

Prof. Dr. Susanne Dida, M.M.

Prof. Susanne dari Fakultas Ilmu Komunikasi diangkat sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Komunikasi. Keahlian Prof. Susanne khususnya di bidang komunikasi kesehatan. Prof. Susanne sendiri tertarik komunikasi kesehatan yang menyasar anak dan remaja, dengan harapan manfaat yang dirasa akan lebih panjang dan luas.

Salah satu karyanya adalah tokoh “Jojo anak Jatinangor” untuk mengedukasi kesehatan anak di masa pandemi. Tokoh ini hadir dalam tiga buku komik. Selain buku komik, sosok Jojo juga hadir melalui kanal youtube dan Instagram. Selanjutnya, Jojo juga akan berperan mengedukasi anak-anak dalam topik kesehatan lainnya.

“Semoga ke depan anak Indonesia makin sehat,” harapnya.

Prof. Dr. Drs. Endang Rusyaman, M.S.

Prof. Endang dari Fakultas MIPA diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Matematika Analisis. Dalam paparannya Prof. Endang mengatakan bahwa ada banyak hal yang bisa dikaji dan dikembangkan dalam matematika analisis, terutama terkait analisis fraksional. Ia pun banyak mengkaji penerapan analisis ini untuk diterapkan di berbagai bidang.

“Ada banyak sekali aplikasi dari analisis fraksional ini,” ujar Prof. Endang.

Penerapan aplikasi tersebut di antaranya untuk bidang energi, ekonomi, dan kesehatan. Dalam bidang energi yaitu pengukuran dalam memadukan zat, di bidang ekonomi yaitu dalam penentuan harga saham, serta kesehatan untuk pengendalian hama tanaman dan penyakit pada manusia.

Prof. Dr. Memed Sueb, S.E., M.Si.

Prof. Memed dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Akuntansi Sosial dan Perpajakan. Prof. Memed menekankan pentingnya keadilan memanfaatkan sumber daya alam untuk generasi masa mendatang serta pentingnya melaksanakan kewajiban pajak.

Terkait tingginya pencemaran udara di Indonesia, Prof. Memed pun menyarankan adanya pajak karbon. Pajak karbon ini diterapkan bagi masyarakat yang beraktivitas menghasilkan karbon. Dengan demikian, akan ada tambahan penerimaan negara, di sisi lain juga akan ada upaya pelestarian lingkungan.

“Bumi kita juga akan tetap langgeng, sustain,” kata Prof. Memed.

Prof. Dr. Suwandi Sumartias, M.Si., M.Si.

Prof. Suwandi dari Fakultas Ilmu Komunikasi diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Komunikasi Politik. Prof. Suwandi mengatakan bahwa dunia digital membawa perspektif baru di dunia komunikasi politik. Dengan digitalisasi, banyak hal menjadi transparan dan akuntabel.

Media sosial pun menjadi kajian dari bidang ini. Di media sosial, selain sajian informasi untuk mengangkat citra tokoh politik, juga ada konflik dari masyarakat daring yang dapat dikaji.

Prof. Dr. Dra. Eli Halimah, M.Si.

Prof. Eli dari Fakultas Farmasi diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik. Prof. Eli menuturkan bahwa ia banyak meneliti tanaman untuk antikanker, terutama kanker payudara dan serviks.

“Penelitian-penelitian yang sudah saya lakukan pencarian dari potensi–potensi bahan alam yang bisa mengatasi kanker,” ungkap Prof. Eli.

Sejumlah tanaman yang memiliki potensi anti kanker sudah dikembangkan, salah satunya dari tanaman puspa. Pada penelitian yang ia lakukan, pengobatan akan difokuskan pada sel yang ditarget dan tidak merusak sel tubuh lain. Dengan demikian, efek samping pengobatan akan diminimalisir.

Prof. Dr. Ir. Emi Sukiyah, M.T.

Prof. Emi dari Fakultas Teknik Geologi diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Geomorfologi Kuantitatif. Prof. Emi menjelaskan bahwa di bidang ini, penelitian geomorfologi dilakukan dengan sangat terukur. Keilmuan ini pun dapat diaplikasikan di banyak hal. Sejak tahun 2009 hingga sekarang, ia melakukan riset dan penerapannya di Jawa Barat Selatan.

“Riset saya tahun 2009 itu lebih ke pengembangan mikrohidro di Jawa Barat Selatan. Sekarang ini juga masyarakat masih menggunakannya untuk mengembangkan energi terbarukan di sana dengan sumber air,” ungkapnya.

Prof. Dr. Tiana Milanda, M.Si., Apt.

Prof. Tiana dari Fakultas Farmasi diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Biologi Farmasi . Dalam paparannya Prof. Tiana mengatakan bahwa ia fokus pada kajian mikrobiologi dan bioteknologi. Ia melakukan penelitian pada metabolit sekunder bahan-bahan alam.

“Kiprah saya adalah pada pengembangan bahan-bahan alam yang metabolit sekundernya itu diubah oleh bakteri menjadi suatu metabolit yang lain,” jelas Prof. Tiana.

Prof. Dr. Yoni Fuadah Syukriani, M.Si.

Prof. Yoni dari Fakultas Kedokteran diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Prof. Yoni mengatakan bahwa saat ini setidaknya ada dua masalah yang dihadapi bidang kedokteran forensik dan membutuhkan dukungan berbagai keilmuan lain.

Permasalahan tersebut yaitu tentang indepedensi dan imparsialitas pemeriksaan kedokteran forensik di Indonesia, dan ketiadaan pemeriksaan kematian yang independen di Indonesia.

“Seharusnya, negara itu punya kewajiban mengetahui, bukan hanya jumlah yang meninggal itu berapa, tapi kenapa, dan itu sensus sifatnya jadi harus tercatat semuanya,” ujar Prof. Yoni.

Prof. Dr. med. Setiawan, dr., AIFM.

Prof. Setiawan dari Fakultas Kedokteran diangkat sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Faal (Fisiologi). Prof. Setiawan menekankan pentingnya aktif bergerak atau beraktivitas fisik untuk mendukung kesehatan manusia. Ia mengatakan bahwa ketidakaktifan fisik dapat menjadi ancaman bagi kesehatan tubuh.

Dalam risetnya, ia meneliti mekanisme molekuler, dimana ada bagian tubuh yang akan meningkat fungsinya jika beraktivitas fisik. Ia juga fokus pada kajian kardiovaskuler.

Prof. Setiawan pun mendorong adanya program kampus sehat dalam hal keaktifan fisik. Selain itu, kampus juga harus mampu menjadi bagian upaya promotif preventif kesehatan.

Prof. Dr. Desi Harneti Putri Huspa S., S.Si., M.Si.

Prof. Desi dari Fakultas MIPA diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Kimia Organik Bahan Alam. Dalam paparannya Prof. Desi menuturkan, potensi bahan alam Indonesia yang begitu besar mendorongnya untuk meneliti senyawa aktif bahan tersebut. Penelitian terutama dilakukan untuk bahan alam Indonesia yang tidak atau jarang ditemukan di negara lain.

Penelitian yang ia lakukan bertujuan untuk mencari potensi anti kanker. Fokus kajian dilakukan untuk tanaman genus Aglaia. Dari sepuluh spesies Aglaia yang sudah diteliti, berhasil diisolasi 60 senyawa metabolit sekunder.

Dari 60 senyawa tersebut, ditemukan 6 senyawa yang paling berpotensi untuk dilakukan ke penelitian lanjut, karena senyawa tersebut dilihat mampu menghambat pertumbuhan sel kanker namun tidak menghambat pertumbuhan sel normal. “Artinya dia bersifat selektif,” ungkapnya.

Prof. Dr. Diah Chaerani, S.Si., M.Si.

Prof. Diah dari Fakultas MIPA diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu Matematika Terapan. Prof. Diah mengungkapkan bahwa ia menggeluti riset operasi dan optimisasi. Ketertarikannya di bidang ini karena ingin menjawab pertanyaan dasar dari masyarakat pada umumnya, yaitu untuk menekan kerugian dan meningkatkan keuntungan.

Prof. Diah juga melakukan kajian optimisasi terkait ketidaktentuan data. Disini, permasalahan perlu diatasi dengan kondisi data yang tidak tentu.

Hasil kajiannya di bidang ini sudah diterapkan untuk penerapan kebijakan di berbagai hal, di antaranya terkait manajemen bencana, rantai pasok, pengolahan lahan, perlistrikan, dan analisis transportasi. (arm)*

Share this: