Empat Guru Besar FISIP Unpad Sampaikan Hasil Riset dan Pemikirannya

Dua guru besar FISIP Unpad menjalani Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (24/10/2023). (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Sebanyak empat guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran menyampaikan orasi ilmiah pada Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Selasa (24/10/2023).

Empat guru besar tersebut ialah Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, M.T., M.Han; Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri, M.M; Prof. Dr. Suryanto, M.Si., dan Prof. Dr. Ria Arifianti, M.Si. Upacara pengukuhan dan orasi ilmiah tersebut dibagi ke dalam dua sesi.

Prof. Widya Setiabudi Sumadinata

Prof. Widya menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Perluasan Dimensi Keamanan Global: Keharusan Revisi Strategi Keamanan Negara”. Prof. Widya diangkat sebagai guru besar bidang Keamanan Global pada FISIP Unpad.

Secara singkat, Dekan FISIP Unpad tersebut menjelaskan, terjadinya perluasan dimensi keamanan global harus direspons oleh negara secara tepat, dalam hal ini oleh TNI, Polri, dan lembaga terkait lainnya. Respons dilakukan untuk menyusun model baru dari strategi keamanan negara.

Penggunaan teknologi, serta pelibatan elemen sipil, baik individu maupun lembaga yang memiliki kompetensi yang relevan dengan tujuan ini menjadi sebuah keniscayaan.

“Kolaborasi antara TNI, Polri dan perguruan tinggi khususnya, dan tentu saja dunia bisnis dan mitra kerja relevan lainnya harus ditingkatkan, dibangun dalam suasana yang saling respek, dalam naungan atmosfer akademik yang kuat,” kata Prof, Widya.

Prof. Benny Alexandri

Prof. Benny menyampaikan orasi berjudul “Inovasi Finansial di Indonesia: Literasi, Kebijakan, dan Transformasi Teknologi Nasional”. Prof. Benny diangkat sebagai guru besar bidang Manajemen Keuangan Bisnis.

Secara singkat, Prof. Benny yang juga Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Organisasi FISIP Unpad tersebut menjelaskan, literasi keuangan menjadi kunci penting untuk mendukung inklusi keuangan secara nasional. 

Dengan meningkatnya pertumbuhan masyarakat dan permintaan transaksi keuangan yang juga meningkat, peningkatan literasi keuangan sangat penting untuk menciptakan akses keuangan yang merata. Apalagi, hal ini juga dipengaruhi oleh masifnya perkembangan inovasi teknologi.

Hadirnya industri financial technology (fintech) juga terus menjadikan peran literasi keuangan makin penting. Ada lima urgensi penting terkait literasi keuangan tersebut, yaitu mampu menilai keandalan dan kepercayaan pada fintech, mengoptimalkan manfaat inovasi keuangan digital, mendorong inklusi keuangan, mengatasi ketimpangan akses teknologi, serta sarana pendidikan dan pemberdayaan konsumen.

Prof. Suryanto

Prof. Suryanto membacakan orasi ilmiah berjudul “Era Industri Fintech di Indonesia: Peluang dan Tantangan”. Ia diangkat sebagai guru besar bidang Administrasi Bisnis FISIP Unpad.

Senada dengan Prof. Benny, Prof. Suryanto juga membahas mengenai fenomena industri fintech. Menurutnya, fintech merupakan era baru industri keuangan yang menggunakan basis teknologi.

“Industri fintech akan terus berpeluang berkembang karena ada beberapa faktor, antara lain: kemudahan akses internet; teknologi digital yang berkembang; populasi gen z dan milenial yang meningkat; serta fleksibilitas,” ujarnya.

Bagi pelaku industri fintech sendiri, ada sejumlah tantangan yang mesti dihadapi, seperti literasi dan inklusi keuangan masyarakat yang masih rendah, rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat, kurangnya talenta SDM terampil, minimnya bank data untuk menilai kelayakan calon pengguna, serta adanya perspektif negatif terhadap industri fintech.

“tantangan-tantangan tersebut menjadi tanggung jawab bersama antara pelaku industri fintech dan pemerintah sebagai regulator,” jelasnya.

Prof. Ria Arifianti

Prof. Ria menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Supply Chain Management dalam Bisnis Ritel”. Prof. Ria diangkat sebagai guru besar bidang Manajemen Operasi.

Prof. Ria menyampaikan, industri ritel saat ini mengalami peningkatan persaingan ketat. Hal ini mendorong perusahaan untuk mampu menguatkan efisiensi hingga menciptakan model strategi bisnis. Salah satu modelnya adalah dengan memperhatikan supply chain management atau manajemen mata rantai pasokan.

“Perusahaan memperhatikan dan menggunakan supply chain management /mata rantai pasokan (SCM) untuk menyampaikan produk yang dijual agar sampai ke tangan konsumen,” ujarnya.

Supply Chain Management dianggap mampu menghubungkan antara manufaktur, supplier, retail outlet, distribusi dan konsumen. Hal ini, perusahaan yang produknya didapat melalui sistem impor akan sangat mengutamakan adanya manajemen logistik yang memiliki jangkauan yang lebih luas.

Dengan peran Supply Chain Management, retailer lebih mampu memangkas biaya berlebihan dan mengirimkan produk ke konsumen lebih cepat melalui kontrol yang lebih ketat terhadap persediaan internal, produksi internal, distribusi, penjualan, dan inventory sebuah perusahaan.*

Share this: