Tanaman Aglaia Punya Potensi Sebagai Obat Kanker

Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran Prof. Desi Harneti Putri Huspa S., S.Si., M.Si., menjadi narasumber pada diskusi Satu Jam Berbincang Ilmu yang digelar Dewan Profesor Unpad secara daring, Sabtu (14/10/2023).*

[Kanal Media Unpad] Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran Prof. Desi Harneti Putri Huspa S., S.Si., M.Si. mengatakan bahwa tumbuhan aglaia memiliki potensi sebagai obat kanker. Peluang bagi peneliti pun menjadi terbuka untuk menguji senyawa potensial dari aglaia sebagai antikanker dengan efek samping minimal.

Dikatakan Prof. Desi, terapi kanker yang ada saat ini umumnya masih menimbulkan efek samping, seperti kerontokan rambut, mual, muntah, rasa lelah, nyeri kepala, dan berat badan menurun.

“Ini artinya treatment yang dilakukan tidak hanya menyasar kepada sel kanker, tetapi juga kepada sel sehat lainnya sehingga kurang selektivitasnya. Oleh sebab itu pencarian senyawa atau treatment dari senyawa bahan alam ini menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi efek samping ini,” kata Prof. Desi dalam Sajabi “Potensi Tumbuhan Aglaia Indonesia sebagai Obat Kanker” yang digelar Dewan Profesor Unpad secara daring, Sabtu (14/10/2023).

Dalam penelitian yang dilakukan, Prof. Desi dan tim meneliti kandungan metabolit sekunder dan kandungan aktivitas toksisitas dari sejumlah tumbuhan aglaia. Penelitian in vitro telah dilakukan di laboratorium terhadap sel murine leukeimia, sel kanker payudara, kanker serviks, melanoma, dan kanker prostat.

“(Sel kanker) ini dipilih karena selain sensivitasnya, juga tingginya tingkat kejadian di Indonesia,” ungkap Prof. Desi.

Selain itu, penelitian juga dilakukan dengan mempelajari hubungan struktur kimia dengan aktivitas senyawa dengan aktivitas sitotoksiknya.

Tim pun telah berhasil mengisolasi 60 metabolit sekunder dari 11 tumbuhan aglaia Indonesia, meliputi  25 kelompok triterpenoid, 14 seskuiterpen, 13 steroid, 2 alkaloid, 2 flavanoid, 2 fenil alanin, 1 lignan, dan 1 flavaglin.

“Dari studi hubungan struktur dan aktivitas maka flavagin ini memiliki aktivitas sitotoksik yang paling tinggi dari semua kelompok senyawa lain,” ujar Prof. Desi.

Diungkapkan Prof. Desi, dari senyawa potensial akan dilakukan studi mekanisme penghambatan sel kanker. Selanjutnya, penelitian akan dilanjutkan dalam beberapa tahap, seperti derivatisasi dan sintesis parsial senyawa potensi untuk menentukan kandidat senyawa aktif pada obat, studi biosintesis, hingga uji klinis dan komersialisasi. (arm)*

Share this: