Paparan Singkat Orasi Ilmiah Guru Besar Baru FTG Unpad

Kiri ke kanan: Prof. Dr. Ir. Ildrem Syafri, DEA, Prof. Euis Tintin Yuningsih, M.T., PhD, Prof. Dr. Ir. Vijaya Isnaniawardhani, M.T., dan Prof. Dr. Winantris, M.S. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Sebanyak empat guru besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran menyampaikan orasi ilmiah berkenaan dengan penerimaan jabatan guru besar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35 Bandung, Rabu (6/12/2023).

Pada kesempatan tersebut, Guru Besar bidang Petrologi Prof. Dr. Ir. Ildrem Syafri, DEA menyampaikan Orasi Ilmiah berjudul “Pemahaman Batuan Alas sebagai Reservoar Hidrokarbon untuk Peningkatan Produksi Migas dI Indonesia”.

Prof. Ildrem menjelaskan, batuan alas merupakan batuan beku dari komposit asam hingga ultrabasa. Batuan ini hadir sebagai reservoar hidrokarbon di beberapa tempat di dunia. Granit dan batuan asosiasinya merupakan jenis reservoar batuan alas yang paling besar hidrokarbonnya.

“Batuan metamorfik derajat rendah seperti filit, batusabak, kuarsit, dan marmer, hingga derajat tinggi seperti genes dan serpentinit merupakan jesni lain dari batuan alas yang juga berperan sebagai reservoar hidrokarbon,” ujar Prof. Ildrem.

Di Indonesia juga telah terbukti kehadiran batuan alas sebagai reservoar hidrokarbon dan beberapa di antaranya sudah berproduksi sejak masa penjajahan Belanda. Kini, reservoar jenis ini telah menjadi target eksplorasi dan produksi migas di Indonesia.

Guru Besar dalam bidang Geologi Sumber Daya Mineral Prof. Euis Tintin Yuningsih, M.T., PhD, membacakan Orasi Ilmiah berjudul “Sumber Daya Mineral Logam dan Perkembangan Metode Eksplorasi Endapan Mineral di Indonesia”.

Prof. Euis mengatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan sumber daya mineral yang cukup besar dan memiliki potensi geologi yang menjanjikan. Untuk itu, perbaikan dan pengembangan dunia usaha pertambangan di Indonesia harus terus dilakukan oleh semua pihak yang terlibat.

“Kegiatan pertambangan harus dilaksanakan berdasarkan good mining practice dan good corporate governance. Eksplorasi yang berwawasan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam merupakan faktor kunci dalam pembangunan ekonomi,” kata Prof. Euis.

Prof. Euis menilai, pemanfaatan kemajuan teknologi baik dalam penggunaan alat maupun perangkat lunak dalam mengidentifikasi suatu endapan mineral sangat membantu kegiatan eksplorasi. Dengan demikian, kemampuan para ahli eksplorasi mineral terkait penggunaan teknologi maupun penguasaan teori perlu terus ditingkatkan.

Guru Besar Bidang Biostratigrafi Prof. Dr. Ir. Vijaya Isnaniawardhani, M.T., membacakan orasi ilmiah berjudul “Biostratigrafi Kuantitatif Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan”.

Prof. Vijaya menjelaskan, biostratigrafi merupakan studi lapisan-lapisan batuan dengan didasarkan pada organisme terawetkan (fosil) yang terkandung di dalamnya. Pemanfaatan studi biostratigrafi juga didorong adanya eksplorasi sumber daya alam dan isu lingkungan.

Lebih lanjut ia mengatakan, tuntutan untuk memberikan hasil analisis yang lebih akurat telah menggeser studi biostratigrafi deskriptif bertransformasi ke arah kuantitatif. Selain itu, kajian biostratigrafi dengan pendekatan monodisiplin dirasakan perlu adaptif terhadap pengayaan dari multidisiplin lainnya.

Menurut Prof. Vijaya,  data kuantitatif hasil suatu observasi cermat terhadap berbagai kumpulan mikrofosil dalam suatu kajian terintegrasi akan mampu mendeteksi gejala geologis dengan interval waktu yang pendek.

Selain untuk dunia industri, biostratigrafi dapat mengambil peran yang lebih luas dalam pengelolaan lingkungan. Studi ini mampu mendeteksi penurunan kualitas lingkungan dan pemanasan global, prakiraan bencana, serta melengkapi data daya dukung bagi pembangunan infrastruktur.

“Interpretasi optimal didapatkan dari suatu kajian holistik, dimana biostratigrafi kuantitatif telah dan akan menjadi bagian penting,” kata Prof. Vijaya.

Guru Besar Bidang Palinologi Prof. Dr. Winantris, M.S., membacakan orasi ilmiah berjudul “Palinomorf Penanda Umur dan Lingkungan Pengendapan Satuan Batupasir Formasi Ciletuh Geopark Ciletuh-Palabuhanratu”.

Dijelaskan Prof. Winantris, ketika menelaah fenomena geologi, hampir selalu melibatkan analisis umur dan lingkungan pengendapan. Hal ini juga yang dilakukan pada kajian Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.

“Pemilihan Kawasan geopark ini memiliki beberapa alasan. Salah satunya adalah fungsi Geopark untuk melindungi warisan geodiversitas dan biodiversitas, di samping memegang peran dalam pendidikan. Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu menyimpan banyak hal yang masih perlu untuk dikaji lebih mendalam,” ujar Prof. Winantris.

Lebih lanjut Prof. Winantris mengatakan, kajian paleodiversitas yang terfokus pada bidang diversitas kehidupan masa lampau menjadi perhatian karena dari data keragaman fosil dapat diperoleh pengetahuan kehidupan pada masanya, meliputi bentang alam, sejarah biota, serta perubahan iklim yang sangat erat kaitannya dengan fenomena geologi.

Penelitian ia lakukan dengan tujuan untuk menganalisis umur satuan batupasir dan lingkungan pengendapan, yang merupakan bagian terbesar di Formasi Ciletuh.

Dalam penelitiannya, setelah ditemukannya polen penanda umur Restioniidites punctulosus dan Podocarpus pollen, umur relatif satuan batupasir Formasi Ciletuh dapat ditentukan pada zona E6, yaitu Eosen tengah bagian atas, pada kisaran 37-39 juta tahun.

“Fakta ini telah memperbaharui temuan sebelumnya sehingga menjadikan rentang umur satuan batupasir menjadi lebih spesifik,” ujarnya. (arm)*

Share this: