Dr. Jenny Ratna Suminar, M.Si., “Hoaks Kesehatan Paling Masif Ditemukan di WhatsApp”

Laporan oleh Arif Maulana

WhatsApp

Dr. Jenny Ratna Suminar, M.Si. (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id, 9/3/2021] WhatsApp merupakan aplikasi percakapan singkat yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Akan tetapi, di balik popularitasnya, WhatsApp menjadi aplikasi dengan tingkat penyebaran hoaks paling masif di Indonesia.

Salah satu sebaran informasi hoaks paling tinggi di WhatsApp adalah informasi mengenai kesehatan. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, informasi kesehatan menjadi hal krusial yang ingin diketahui banyak orang. Jika tidak disaring, pengguna akan rentan mendapat informasi bohong atau hoaks.

Fenomena penyebaran informasi hoaks seputar kesehatan menjadi kajian bagi dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Dr. Jenny Ratna Suminar, M.Si. Bersama dosen Fikom Unpad lainnya, Dr. Purwanti Hadisiwi, M.Ext.Ed., Jenny mengkaji mengenai peran penangkis hoaks (hoax buster) dalam membendung informasi kesehatan yang beredar di grup WhatsApp.

“(Penelitian) saya berangkat dari fenomena kehidupan keseharian banyak orang. WhatsApp paling masif penggunaannya, sehingga peredaran informasi termasuk komunikasi kesehatan kenyataannya itulah yang terbanyak,” ungkap Jenny.

Dari penelusuran yang dilakukan ke sejumlah orang, Jenny berpendapat, hampir semua pengguna WhatsApp memiliki grup-grup percakapan. Bahkan, ada orang yang mempunya minimal 10 grup di akun WhatsAppnya. Hal ini akan mendorong pusaran informasi mengenai kesehatan masif terjadi.

Menurut Jenny, hoaks kesehatan sangat mudah dipercayai oleh pengguna media sosial. Apalagi oleh kelompok usia 40 tahun ke atas. Jenny menganalogikan kelompok usia ini dengan istilah kelompok baby boomers atau digital immigrant di media sosial.

Kelompok ini, kata Jenny, rentan menelan beragam informasi kesehatan dengan mentah. Padahal, informasi tersebut belum tentu benar. Kurangnya literasi penggunaan media sosial yang baik akan mudah memicu hoaks ini menyebar luas.

“Orang Indonesia sangat mudah menerima dan mengiyakan informasi yang belum tentu kebenarannya,” kata Jenny.

Dengan kemampuan literasi yang kurang, ditambah tidak melakukan konfirmasi akan kebenaran informasi tersebut mendorong orang mudah percaya dan kembali menyebarkan hoaks tersebut ke grup WhatsApp lainnya.

Jenny mencontohkan, banyak orang percaya mengonsumsi produk tertentu yang diklaim ampuh menyembuhkan penyakit. Padahal, belum ada sumber referensi ilmiah yang membenarkan klaim tersebut. Sejatinya, beragam informasi terkait kesehatan perlu dibarengi dengan bukti ilmiahnya.

“Kita sering menerima informasi, membacanya, lalu menyebarkan kembali tanpa dibarengi konfirmasi terlebih dahulu. Bahkan, ada orang yang menerima lalu melihat judulnya bagus, dan langsung disebar, tanpa dibaca isinya,” papar Jenny.

Motif Hoaks di WhatsApp

Pakar komunikasi kesehatan ini menjelaskan, ada beberapa motif yang bisa kita indentifikasi apakah informasi tersebut benar atau hoaks.

Pertama, jika informasi itu berisi klaim bisa mengobati atau menyembuhkan penyakit serta diikuti dengan kalimat promotif yang bersifat anjuran. Klaim ini perlu ditelusuri kebenarannya dengan mencari bukti ilmiahnya.

Kedua, kata Jenny, apabila informasi tersebut berisikan ajakan untuk menyebarkan lebih luas ke pengguna lainnya. Bisa dipastikan, informasi tersebut cenderung mengarah ke hoaks.

Terakhir, apabila informasi tersebut tidak menyertakan sumber, pengguna mesti berhati-hati akan kebenarannya. Ada sumber pun, pengguna juga mesti mengonfirmasi kebenarannya. Tidak jarang, banyak info yang mencantumkan nama dokter atau ilmuwan yang sebenarnya tidak ada sosoknya.

“Ternyata setelah dicek ke data di IDI, atau di Google, nama tersebut tidak ada. Ini bisa dipastikan hoaks,” kata Jenny.

Lebih lanjut Jenny menjelaskan, tingkat pendidikan ternyata tidak memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengidentifikasi hoaks. Ada banyak di antara kelompok dengan tingkat pendidikan tinggi ternyata ikut menyebarkan hoaks.

Maka dari itu, Jenny menyimpulkan bahwa seseorang bisa dengan mudah termakan hoaks disebabkan oleh tingkat literasi teknologi dan media sosial yang masih rendah.

Penangkis Hoaks

Masifnya penyebaran hoaks kesehatan di WhatsApp kemudian menggugah sejumlah pengguna untuk melakukan tabayun atau konfirmasi terhadap kebenaran informasi tersebut. Ujung-ujungnya, kelompok pengguna seperti ini didefinisikan sebagai penangkis hoaks atau hoax buster.

Dalam penelitian yang dilakukannya, Jenny mewawancarai delapan narasumber yang berperan sebagai penangkis hoaks. Narasumber tersebut terdiri dari beragam profesi. Mulai dari ibu rumah tangga, dokter, karyawan, praktisi, akademisi, hingga pensiunan.

Sukarelawan penangkis hoaks sangat berperan penting dalam mencegah meluasnya hoaks kesehatan. Mereka akan mengorbankan waktu dan tenaganya untuk menelusuri kebenaran dari informasi yang didapat. Bisa dengan mencari referensi ilmiahnya di Google bahkan hingga konfirmasi melalui telepon jika pada informasi tersebut mencantumkan alamat dan nomor telepon.

“Bahkan ada juga yang rela mendatangi langsung ke alamat yang dituju untuk memastikan,” kata Jenny.

Lewat kerja keras mereka, hoaks kesehatan setidaknya bisa terbendung di satu grup WhatsApp. Walaupun dalam praktiknya, sukarelawan juga kerap mendapat penolakan dari pengguna lain. Tanggung jawab moral menjadi alasan mengapa para narasumber ini rela bertindak sebagai penangkis hoaks.

“Mereka itu pahlawan informasi, karena sukarela mau melakukan konfirmasi dengan effort yang tidak sedikit,” tutur Jenny.

Jenny berharap akan banyak pengguna WhatsApp yang sadar dan mau menjadi penangkis hoaks. Hal ini membutuhkan peran serta generasi muda untuk membantu menyadarkan kelompok pengguna yang masih gagap informasi.

“Kita harus bisa konfirmasi dengan baik dan jangan sungkan untuk menyebarluaskannya kalau sudah mendapatkan komunikasi. Tabayun dengan benar adalah keharusan,” kata Jenny.*