Dr. Muhamad Adji, M.Hum, “Novel Populer Miliki Peran dalam Perkembangan Mental Masyarakat”

[Unpad.ac.id, 15/02/2016] Novel populer memiliki peran besar terhadap perkembangan mental dan perilaku masyarakat, terutama generasi muda. Hal ini diyakini dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran, Dr. Muhamad Adji, M.Hum. Menurutnya, novel populer itu hakikatnya tidak hanya merekam realitas yang ada pada saat itu, tetapi juga memproduksi nilai-nilai baru yang dapat ditiru oleh masyarakat.

Dr. Muhamad Adji, M. Hum. (Foto oleh: Dadan T.)*

Dr. Muhamad Adji, M. Hum. (Foto oleh: Dadan T.)*

Dr. Adji menjelaskan, novel populer sangat bergantung pada situasi dan kondisi realitas yang terjadi. Inilah yang menjadi ciri khas novel populer. “Novel populer sangat menekankan kekinian dan kedisinian. Jadi betul-betul menggambarkan realitas pada masanya. Sehingga novel populer itu bisa dijadikan dokumen sosial,” ungkapnya.

Ia pun mencontohkan bahwa pada novel “Ali Topan Anak Jalanan” yang muncul tahun 1970-an, dengan “Lupus” yang muncul di akhir 1980an, memiliki gambaran anak muda yang berbeda. Ali Topan digambarkan sebagai anak muda yang urakan dan cenderung memberontak terhadap sistem sosial yang ada di lingkungannya. Hal ini menggambarkan kondisi anak muda pada saat itu. Tahun 1970-an, diketahui sedang terjadi banyak perubahan pada sistem sosial dan tata nilai di Indonesia.

“Ada unsur pemberontakan terhadap pranata-pranata sosial pada masa itu,” tutur Koordinator Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) FIB Unpad ini.

Berbeda dengan tokoh Lupus, yang cenderung adaptif terhadap keadaan sosial. Tokoh ini pun dikenal lebih sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan lingkungannya. Pada masa novel ini ditulis, kondisi negara memang sedang stabil.

“Sehingga, kalau kita lihat tokohnya pun yang apolitis. Lupus itu kan apolitis. Mungkin itu pengaruh dari pemerintah orde baru yang sudah bisa membuat depolitisasi,” ujar Dr. Adji yang pada tahun 2012 pernah bertugas mengajar Bahasa dan Budaya Indonesia di Universitas Beograd, Serbia, selama satu semester.

Bukan hanya menggambarkan realitas yang ada, novel populer pun dapat menghasilkan ikon atau nilai baru yang dapat ditiru oleh pembacanya. Misalnya saja pada era Lupus, anak muda kala itu banyak yang meniru gayanya, dari cara berkomunikasi hingga cara berpakaian.

Sementara pada awal 2000an, ada perubahan mainstream. Era ini erat kaitannya dengan reformasi, dimana terjadi kebebasan berpendapat di berbagai media, termasuk novel populer. Tokoh-tokoh yang dimunculkan pun bukan lagi berasal dari Jakarta sebagai pusat kekuasaan, melainkan tokoh daerah. Sebut saja “Ayat-Ayat Cinta”, “Negeri 5 Menara”, dan “Laskar Pelangi”. Namun demikian, tokoh ini tetap berhasil menjadi tokoh panutan dan menciptakan nilai baru bagi pembacanya.

“Itu memberikan gambaran bahwa untuk menjadi sukses itu tidak hanya untuk orang-orang yang memiliki fasilitas yang baik, tidak harus orang Jakarta, tetapi dia juga bisa dari daerah yang terpencil, dan secara materi tidak berpunya. Jadi itu memberikan gambaran yang baru terhadap profil generasi muda,” jelas pria kelahiran Lahat, 21 November 1975 ini.

Dr. Adji pun melihat bahwa saat ini novel populer sudah berkembang baik. Misalnya, penulis novel populer saat ini memiliki pengalaman yang lebih luas dalam dunia global, sehingga berpengaruh pula pada perspektif mereka dalam menulis novel.

“Pengarang-pengarang sekarang juga punya ideologi sendiri. Berbeda dengan ideologi novel-novel pada era sebelumnya,” ujar lulusan Program Doktor Ilmu Sastra konsentrasi Kajian Budaya Unpad ini.

Menurut Dr. Adji, saat ini masih sedikit orang yang mengkaji novel populer. Padahal setiap tahunnya, ada banyak novel populer yang diterbitkan. Novel populer seringkali dianggap memiliki estetika yang rendah (dibandingkan dengan novel sastra/serius) sehingga dalam kajian akademik seringkali diabaikan.

Meski novel populer sudah muncul di Indonesia sejak akhir 1800-an, pengkategorisasiasian novel populer dengan novel sastra/serius sendiri baru muncul di awal tahun 1970an. Selain dekat dengan realitas, ciri lain dari novel populer yaitu bahasanya yang mudah dipahami, lebih banyak berkisah anak muda, dan bertujuan untuk menghibur pembaca.

“Saya sih tidak mau mengkontraskan dan memperbandingkan bahwa novel populer ini kualitasnya rendah, novel sastra itu kualitasnya tinggi, karena soal kualitas ini juga masih diperdebatkan. Novel populer bisa juga kualitasnya bagus, dari segi teknik bercerita, dan sebagainya,” tutur Dr. Adji yang sudah menulis beberapa buku, salah satunya tentang novel populer.

Menurut Dr. Adji, saat ini novel populer lebih banyak bermunculan karena dipengaruhi oleh mudahnya menerbitkan buku. Dulu penerbit buku tidak terlalu banyak, dan seleksi bisa dilakukan hingga memakan waktu lama. Sementara saat ini, banyak bermunculan penerbit kecil yang lebih memudahkan penulis dalam menerbitkan buku. Permasalahannya, tidak semua penerbit memiliki editor tetap sehingga dari segi bahasa, masih banyak novel yang belum memiliki tata bahasa baik.

Meski demikian, terkait semakin maraknya novel populer saat ini, Dr. Adji berpendapat bahwa itu adalah hal yang positif, karena dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap kegiatan menulis dan membaca. Menurutnya, novel populer bisa menjadi media untuk mendukung gerakan Indonesia membaca dan menulis.

Kepada para penulis, Dr. Adji pun berpesan agar dapat memberikan aspek edukatif dalam novelnya. Terutama bagi pembacanya yang kebanyakan anak muda yang sedang mencari jati diri. “Jika novel banyak aspek negatifnya, maka mereka (anak muda) akan mudah untuk menirunya,” tuturnya.*

E-mail Dr. Muhamad Adji, M.Hum <m.adji@unpad.ac.id>

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh