Dr. Nita Fitria, S.Kp., M.Kes., AIFO, “Olahraga Dapat Meningkatkan Kebahagiaan”

olahraga
Dr. Nita Fitria, S.Kp., M.Kes., AIFO. (Foto: Arif Maulana)*

[unpad.ac.id] Untuk dapat menjalani aktivitas harian optimal, dibutuhkan kondisi tubuh yang sehat dan bugar. Olahraga, diyakini menjadi salah satu kunci penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, Dr. Nita Fitria, S.Kp., M.Kes., AIFO mengatakan, masyarakat masih banyak yang belum paham bahwa untuk mendapatkan hasil optimal, olahraga harus terukur dan terprogram.

“Seperti obat, ada dosis, semuanya harus terukur dan terprogram, begitu juga dengan olahraga,” ujar Dr. Nita saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Dr. Nita mengatakan bahwa penting menerapkan formula FITT dalam olahraga, yaitu memperhatikan frekuensi, intensitas, tipe, dan waktu (frequency, intensity, type, & time). Semuanya bergantung pada usia dan kebutuhan.

“Jangan sampai overdosis,” ujar dosen di Ilmu Keperawatan Dasar Fkep Unpad ini.

Selain sehat secara fisik, olah raga juga dinilai dapat meningkatkan kesehatan psikis. Olahraga dapat mengeluarkan hormon endorfin yang dapat meningkatkan kebahagiaan.

Salah satu penelitian Dr. Nita yaitu mengenai pengaruh Senam Jantung Sehat Seri-1 terhadap kebugaran jasmani pada lansia depresi tingkat ringan dan sedang. Berdasarkan penelitiannya, diketahui bahwa Senam Jantung Sehat Seri-1 dapat meningkatkan kebugaran jasmani, sekaligus dapat menurunkan tingkat depresi ringan dan tingkat depresi sedang pada lansia.

“Saya di sini ingin membantu upaya pemerintah melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas),” ungkap Dr. Nita menjelaskan latar belakang penelitiannya.

Dr. Nita pun ingin berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan para lansia. Secara teori, seseorang berusia di atas 60 tahun akan menurun tingkat kebugaran jasmaninya.

“Enam minggu setelah treatment Senam Jantung Sehat Seri-1 pada lansia yang sehat, mereka itu kebugaran jasmaninya meningkat,” ungkap dosen yang juga mendalami ilmu fisiologi dan kesehatan olahraga ini.

Selanjutnya, Dr. Nita ingin melihat kaitan senam tersebut pada kondisi psikis. Diketahui, masalah kesehatan yang paling banyak dialami lansia adalah depresi. Namun, yang menjadi masalah adalah gejalanya depresi  sulit dideteksi.

Untuk itu, Dr. Nita memanfaatkan biomarker, yaitu penanda dalam tubuh yang bersifat genetik. Penanda tersebut meliputi ekspresi protein plasma TNF-α, NF-kB dan BDNF, selain pengukuran melalui instrumen Geriatric Depression Scale (GDS-15). Pengambilan darah dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan treatment.

Dijelaskan Dr. Nita, penanda tersebut dapat melihat adanya peningkatan peradangan dan  penurunan fungsi kognitif pada tubuh seseorang yang menunjukkan adanya depresi.

“Ketika lansia sulit dideteksi depresinya, salah satunya adalah diambil darah untuk melihat apakah terjadi peningkatan atau penurunan fungsi kognitif. Itu menjadi marker untuk depresi, salah satunya pada lansia,” jelasnya.

Pemberian treatment sendiri dilakukan selama 12 minggu, dengan olah raga dilakukan setiap 3 minggu sekali. Hasilnya, diketahui ada peningkatan fungsi kognitif.

Penelitian tersebut dilakukan di di Pusat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (PRSLU) dan Pemeliharaan Makam Pahlawan (PMP) Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Ciparay Bandung Jawa Barat.

“Jadi dari hasil disertasi itu saya mendapatkan setitik ilmu, ternyata orang yang depresi pada lansia itu bisa kita treatment melalui non-farmakologi, serta ini sangat mudah dan murah, yang penting prosesnya harus dikontrol dengan baik,” ujar Dr. Nita yang juga menekuni ilmu keperawatan jiwa.

Selain Senam Jantung Sehat Seri-1, olah raga lain pada lansia juga dapat dilakukan sesua dengan minat lansia, tetapi dengan tetap memperhatikan FITT. Olah raga dapat dilakukan tigaminggu sekali dengan intensitas sedang.

Jenis olah raga yang dilakukan berupa olahraga aerobik dengan waktu tidak lebih dari 60 menit . Selain itu perlu diperhatikan gerakan olahraga yang tidak terdapat hentakan dan mengangkat kedua kaki karena berbahaya terhadap sistem muskulo skeletal.

“FITT itu harus menjadi pegangan,” tegas Dr. Nita.(arm)*

Share this: