Dr. Yuli Andriani., S.Pi., MP., “Pakan dari Bahan Lokal Bukan Cuma untuk Kepentingan Ekonomis, Tapi Juga Ekologis”

[Unpad.ac.id, 9/06/2014] Budidaya perikanan merupakan aset besar yang sangat potensial untuk dikembangkan dan menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia. Budidaya perikanan ini akan menggantikan produksi perikanan yang selama ini masih bergantung pada hasil tangkapan. Sayangnya, pakan untuk ikan budidaya masih menjadi kendala besar saat ini.

Dr. Yuli Andriyani., S.Pi., MP (Foto oleh: Purnomo Sidik)*
Dr. Yuli Andriani., S.Pi., MP (Foto oleh: Purnomo Sidik)*

Dr. Yuli Andriani., S.Pi., MP., dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad, mengatakan, pakan yang beredar dipasaran 70% kandungannya merupakan bahan impor sehingga apabila adanya perubahan ekonomi  global  harga bahan pakan tersebut akan semakin mahal. Jika masih terus bergantung kepada pakan dengan kandungan impor yang besar ini, Indonesia akan kesulitan meningkatkan produksi budidaya perikanan.

“Pakan merupakan hal paling krusial dalam budidaya perikanan karena pakan dibutuhkan dari mulai pembenihan sampai akhir masa budidaya. Jadi tidak heran bila pakan ini mencakup 60-70 persen total biaya budidaya,” ujar Dr. Yuli saat ditemui di ruang kerjanya di Kampus Unpad Jatinangor, belum lama ini.

Salah satu komponen pakan yang menyebabkan harganya mahal adalah tepung ikan, bahan yang di impor ini harganya terus meningkat.   “Apabila bahan pakan ini terus bergantung  pada bahan impor seperti tepung kedelai, bungkil tepung kedelai, tepung ikan, maka begitu nilai tukar rupiah kita melemah dari dolar, maka sejauh itu pula harga pakan akan naik. Untuk itu perlu diusahakan bahan lokal untuk alternatif pakan dalam mengurangi ketergantungan akan bahan pakan impor,” ungkap Dr. Yuli yang juga Kepala Laboratorium Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya FPIK Unpad.

Selama ini Dr. Yuli Andriani mengamati dan meneliti bahan lokal untuk alternatif pakan dengan memanfaatkan sumber-sumber bahan baku lokal termasuk pemanfaatan limbah hasil industri pertanian maupun peternakan yang relatif murah. Menurutnya limbah-limbah tersebut mudah ditemukan dimasyarakat sehingga sangat mudah untuk di aplikasikan.

“Setiap daerah memiliki jenis limbah yang berbeda-beda.  Adapun jenis limbah yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ikan seperti pada limbah pertanian, peternakan dan limbah perikanan itu sendiri. Semua limbah ini tidak bisa langsung dimanfaatkan sebagai pakan ikan, perlu adanya proses ekstraksi,” jelasnya.

Penelitiannya terkait pemanfaatan limbah  antara lain, inovasi bioproses pada limbah pertanian untuk penyediaan bahan baku pakan ikan, pemanfaatan cairan rumen sapi dalam fermentasi kulit umbi singkong sebagai bahan pakan ikan gurame dan penelitian-penelitian yang lainnya.  Dengan berbagai penemuannya tersebut, ia sering diundang sebagai pembicara dan penyuluh dalam berbagai kegiatan tentang budidaya perikanan.

Selain meneliti, Dr. Yuli pun rajin menulis baik untuk publikasi ilmiah maupun media masa. Melalui tulisan-tulisanya tersebut, ia ingin menyampaikan gagasannya  terhadap permasalahan budidaya perikanan. Dr. Yuli sadar betul, sebagai pengiat peneliti bahan pakan alternatif, pasti ada saja tanggapan dengan berkomentar pesimis. Tanggapan-tanggapan tersebut tidak justru membuatnya menyerah. Sebagai akademisi ia justru terpacu untuk terus berinovasi memanfaatkan limbah yang  ada di sekitarnya.

“Penyediaan pakan itu selain berdampak pada ekonomis juga pada ekologis. Untuk itu dengan memanfaatkan limbah sebagai pakan ikan, selain menekan biaya pakan dan meningkatkan keuntungan, juga  merupakan salah satu upaya  dalam menyelamatkan lingkungan,” Pungkas Dr. Yuli.*

Laporan oleh: Purnomo Sidik / eh *

Share this: