Prof. Dr. Ponpon S. Idjradinata, dr., SpA(K) saat memberikan Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-55 Unpad, Selasa (11/09).* (Foto: Tedi Yusup)

[Unpad.ac.id, 11/09/2012] Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan aspek vital dalam pembangunan sebuah negara. Kualitas SDM tersebut di masa yang akan datang akan sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak saat ini yang merupakan calon generasi penerus bangsa. Oleh karena itu diperlukan anak-anak yang sehat secara fisik maupun mental untuk menjamin terciptanya negara yang sejahtera.

Prof. Dr. Ponpon S. Idjradinata, dr., SpA(K) saat memberikan Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-55 Unpad, Selasa (11/09).* (Foto: Tedi Yusup)

“Untuk mendapat SDM berkualitas diperlukan upaya menjaga tumbuh kembang optimal anak sejak dilahirkan,” ujar Prof. Dr. Ponpon S. Idjradinata, dr., SpA(K) ketika memberikan Orasi Ilmiah dengan judul “Peningkatan Kualitas Anak Indonesia Mengantisipasi Bonus Demografi” pada Dies Natalis ke-55 Universitas Padjadjaran di Aula Grha Sanusi Hardjadinata, Selasa (11/09).

Lebih lanjut, Prof. Ponpon juga menjelaskan bahwa tumbuh kembang anak dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor baik genetik maupun lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang penting adalah nutrisi. Dipandang dari sudut nutrisi, pengaruh mikronutrien besi terhadap tumbuh kembang anak sangatlah menentukan.

Melihat sangat luas dan pentingnya peran mikronutrien besi, apabila terjadi defisiensi besi (DB) maka akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kognisi, motorik, emosi, pemusatan perhatian, memori, fungsi pendengaran, visual, dan perilaku. Bila DB tersebut bersifat kronis, maka ia akan menjadi anemia defisiensi besi (ADB) yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi yang permanen.

“Selain itu, sehubungan dengan perannya dalam mekanisme imun tubuh, maka DB akan menyebabkan gangguan mekanisme pertahanan tubuh yang dapat berakibat anak mudah terkena penyakit,” jelas mantan Pembantu Rektor bidang Akademik Unpad ini.

Sehubungan dengan hal tersebut, filosofi bahwa mencegah selalu lebih baik daripada mengobati itu dipandang sangat penting. Upaya pencegahan DB terlebih ADB merupakan bagian penting demi anak dan bangsa ini. Terdapat dua macam pencegahan, yaitu primer dan sekunder. Pencegahan primer dapat berbentuk konseling kesehatan terhadap bayi, anak, dan remaja.

Sementara itu, pencegahan sekunder dapat terdiri dari skrining, diagnosis, dan pengobatan ADB. Pemerikasaan kadar Hb dan Hematokrit (Ht) merupakan pemeriksaan laboratorium yang paling sering digunakan untuk skrining ADB. Pemeriksaan ini sebagai penanda anemia mudah dilakukan dan harganya murah. Namun, penggunaan anemia sebagai penanda ADB bergantung pada prevalensi ADB di populasi. Makin tinggi prevalensi ADB di populasi makin baik positive predictive value dari anemia sebagai alat tes untuk DB.

Prof. Ponpon juga mengingatkan bahwa pencegahan sejak dini terutama di masa bayi akan sangat menentukan pertumbuhan anak. “Sekali lagi saya sampaikan bahwa tidak noleh terjadi DB dalam masa bayi karena akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan otak yang sedang tumbuh sangat pesat,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Ponpon juga menyinggung bagaimana peran perguruan tinggi dalam menindaklanjuti tingginya prevalensi ADB dan DB serta dampak serius terhadap tumbuh kembang anak dikemudian hari. Perguruan tinggi dan organisasi profesi memiliki kewajiban dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam hal ini. Penanggulangan ADB dan DB tidak mungkin dilakukan oleh tenaga kesehatan saja, diperlukan kerjasama dengan tenaga profesi lain dan lintas disiplin ilmu seperti pertanian, farmasi, peternakan, ekonomi, hukum, dan lain-lain.

“Hanya dengan kerjasama antara pihak-pihak terkait maka pencegahan DB dan penanggulangan ADB ini dapat terlaksana. Dengan demikian, kegiatan ini akan merupakan kontribusi yang penting dan bermakna dalam membangun SDM Indonesia yang berkualitas,” tandasnya.

Laporan oleh: Indra Nugraha/mar*

Share this: