[Unpad.ac.id, 3/08/2012] Tahun ajaran baru sudah dimulai. Mahasiswa baru tahun akademik 2012/2013 pun mulai menjalankan aktivitas perkuliahan. Salah satu mata kuliah dasar atau yang lebih dikenal dengan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) yang wajib diikuti oleh mahasiswa baru adalah Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn).

“Mata Kuliah PKn diberikan kepada mahasiswa baru yang bertujuan untuk membentuk kepribadian sehingga diharapkan dapat membentuk kecerdasan intelektual bukan hanya bersifat kognisi namun juga afeksi dan psikomotorik,” ujar Koordinator Mata Kuliah PKn UPT Bidang Studi Unpad, Dr. H. Fahmy Lukman, M.Hum., saat menyampaikan overview Pendidikan Kewarganegaraan dalam kegiatan Video Conference Kuliah Terintegrasi Pendidikan Kewarganegaraan, Senin (03/09), di auditorium Bale Sawala Gedung Rektorat Kampus Unpad Jatinangor.
Kuliah Umum Pkn ini diikuti oleh mahasiswa baru dari semua fakultas. Dengan menggunakan metode teleconference (learning broadcasting) mahasiswa baru dapat menyimak perkuliahan melalui streaming yang dipusatkan di Bale Sawala ke beberapa lokasi di area Kampus Unpad Jatinangor dan Bandung. Untuk di lokasi Bale Sawala sendiri, kuliah umum ini dihadiri oleh mahasiswa dari Fakultas Farmasi dan Fakultas Psikologi.
Perkuliahan diisi dengan penyampaian materi kuliah Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia. Mengambil judul “Bangunlah jiwa untuk Indonesia Raya”, Rektor mengajak mahasiswa untuk memaknai salah satu lirik dari lagu kebangsaan Indonesia tersebut. Ia menekankan, bahwa proklamasi kemerdekaan yang telah diraih oleh pejuang terdahulu adalah sebuah anugerah.
“Kalau kita berbicara proklamasi, jelas bahwa kemerdekaan adalah anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri. Pertanyaannya ialah bagaimana cara mensyukurinya?” ujar Rektor.
Rektor mengemukakan, salah satu cara mensyukurinya yaitu mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat dan sesuai dengan kehendak Tuhan. “Logikanya, karena kemerdekaan itu adalah pemberian Tuhan, maka kita harus memanfaatkannya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Namun kenyataannya kita sering salah mengisi kemerdekaan tersebut,” sebutnya.
Dalam pemaparannya, Rektor menerangkan mengenai kondisi negara saat ini. Salah satunya ialah tingkat pengangguran yang masih tinggi, yakni sekitar 6-7% dan sebagian besar penganggur merupakan sarjana.
Berhasil atau tidaknya negara ini ditentukan oleh sumber daya manusianya, sehingga bisa dikatakan bahwa roh dari pembangunan ada pada tiap-tiap jiwa bangsanya. Namun, Rektor menyayangkan saat ini yang terjadi di Indonesia adalah krisis budaya dan karakter seperti pada aspek kejujuran, tanggung jawab, disiplin, taat hukum ,sopan santun, kepedulian, kerja keras, saling menghargai, toloreansi, dan semangat kebangsaan yang semakin menurun. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus, karakter bangsa ini semakin lama semakin menurun, bahkan hilang sama sekali.
Selain anugerah, kemerdekaan pun merupakan sebuah amanah yang harus dijaga. Ini yang harus dilakukan oleh generasi-generasi penerus. Rektor pun mengingatkan mahasiswa baru untuk selalu menjaga amanah kemerdekaan tersebut agar tidak terjadi lagi krisis karakter yang dapat melemahkan identitas bangsa.
“Kemerdekaan adalah amanah. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan pahlawan yang gugur setelah melihat kondisi negara kita seperti sekarang ini,” ujar Rektor.*
