Tingkatkan Kesadaran Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Ali Muakhir (kiri), Baban Banita (tengah) selaku moderator, dan Dr. Acep Iwan Saidi, M.Hum. (kanan), pada Seminar yang bertajuk “Bangga Berbahasa, Sebentuk Cinta pada Bangsa” yang digelar dalam rangka peringatan Bulan Bahasa di Aula PSBJ FIB Unpad, Jatinangor, Rabu (24/10). (Foto: Tedi Yusup)

[Unpad.ac.id, 24/10/2012] Agaknya, saat ini sudah semakin sulit ditemukan generasi muda bangsa Indonesia yang bangga dan mencintai bahasa Indonesia. Dalam artian, generasi yang mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebagai contoh, dewasa ini banyak bermunculan ragam-ragam bahasa yang secara eksplisit bertentangan dengan kaidah-kaidah ketatabahasaan Bahasa Indonesia.

Ali Muakhir (kiri), Baban Banita (tengah) selaku moderator, dan Dr. Acep Iwan Saidi, M.Hum. (kanan), pada Seminar yang bertajuk “Bangga Berbahasa, Sebentuk Cinta pada Bangsa” yang digelar di Aula PSBJ FIB Unpad, Jatinangor, Rabu (24/10). (Foto: Tedi Yusup)

Penulis dan pemilik sekolah tulis “Winner Class”, Ali Muakhir berpendapat bahwa saat ini Bahasa Indonesia sedang berada di titik nadir. Bermunculan ragam-ragam bahasa baru, seperti bahasa SMS dan Alay, merupakan femonena kebahasaan yang secara perlahan menghancurkan kaidah Bahasa Indonesia. Padahal, Bahasa Indonesia sendiri sudah dijunjung tinggi oleh para pemuda 84 tahun lalu, seperti yang tertuang dalam Kongres Sumpah Pemuda.

“Saya bayangkan, apabila para generasi pencetus Sumpah Pemuda ada pada zaman sekarang, mungkin mereka akan sedih,” ujar Ali saat menjadi pembicara dalam Seminar Bulan Bahasa di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Jatinangor, Rabu (24/10).

Fenomena tersebut salah satunya disebabkan oleh kurangnya pendidik Bahasa Indonesia yang berasal dari lulusan Pendidikan Bahasa atau Sastra Indonesia. Bahkan, ada pendidik yang “dipaksa” untuk mengajar Bahasa Indonesia walaupun bukan berasal dari lulusan Bahasa. Efeknya adalah, para siswa pun belajar Bahasa Indonesia secara asal-asalan, karena tidak diajar oleh pengajar yang benar-benar mengerti Bahasa Indonesia.

“Ini sangat mengkhawatirkan, mengingat orang-orang asing saja menganggap Bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat eksotis,” ungkapnya.

Menjamurnya media elektronik dan media sosial di internet juga turut memengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia. Padahal, menurutnya media elektronik seperti telepon genggam dan media sosial di internet merupakan media paling baik dan simpel untuk belajar bahasa Indonesia.

“Kita bisa kirim SMS dengan menggunakan bahasa yang baik dan tidak disingkat-singkat. Dalam media sosial misalnya, kita pun bisa menulis status dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” ujarnya.

Senada dengan Ali, Dosen ITB, Dr. Acep Iwan Saidi, M.Hum., yang juga menjadi pembicara dalam seminar ini mengungkapkan bahwa penyebab lain memudarnya eksistensi atau kesaktian dari Bahasa Indonesia disebabkan oleh memudarnya kemampuan menulis. Semakin hari tingkat kemampuan menulis, khususnya di kalangan akademisi, sangat memprihatinkan. Tidak jarang ditemukan akademisi yang belum bisa berbahasa dan menulis sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sejatinya, untuk hidup di zaman sekarang dan nanti, ada tiga kemampuan yang mesti dimiliki oleh setiap orang. “Ada tiga kemampuan yang harus dimiliki oleh kita untuk bisa hidup di masa kini dan nanti, yaitu kemampuan berbahasa, kemampuan menulis, dan kemampuan berbicara,” jelasnya.

Seminar yang bertajuk “Bangga Berbahasa, Sebentuk Cinta pada Bangsa” ini digelar oleh Himpunan Mahasiswa “Gelanggang” Program Studi Sastra Indonesia Unpad. Dimoderatori oleh Baban Banita, M.Hum., seminar tersebut merupakan momentum untuk memperingati Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober setiap tahunnya. Menurut ketua pelaksana kegiatan, Novi Andriani, seminar ini digelar untuk memberikan kesadaran bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang telah dijunjung tinggi melalui Kongres Sumpah Pemuda.*

Laporan oleh: Arief Maulana/mar

Share this: