Perlunya Pengembangan Inovasi Untuk Majukan Peternakan di Indonesia

[Unpad.ac.id, 07/11/2012] Peternakan di Indonesia masih menyimpan banyak potensi yang dapat digali lebih dalam lagi. Oleh karena itu, dibutuhkan berbagai macam inovasi dari para pelaku peternakan itu sendiri guna menguak peluang-peluang di dalam industri ini.

Logo Unpad*

“Untuk peternakan masalah inovasi ini sangat terbuka luas, mulai dari yang paling hulu yaitu bagaimana kita mengembangkan bibit benih dan bibit yang berkualitas serta paling efisien itu merupakan peluang untuk kita kembangkan,” ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Ir. Syukur Iwantoro, MS., MBA., ketika menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan 4 yang digelar di Gedung 5 lantai 3 Fakultas Peternakan Unpad, Jatinangor, Rabu (07/11).

Lebih lanjut, ia juga memaparkan beberapa inovasi yang telah berhasil dicapai dalam bidang peternakan. Salah satunya adalah dengan berhasilnya kita mencapai swasembada semen untuk sapi. Produksi semen beku kita telah melebihi kebutuhan konsumsi semen beku yang dibutuhkan oleh sapi yang ada.

Kemudian untuk sapi perah, kita juga telah menghasilkan empat proven bull di bulan Desember tahun kemarin. Rencananya pada Desember tahun ini juga, empat proven bull akan bertambah lagi. “Jadi kita sudah mampu menghasilkan  pejantan unggul sapi perah dengan kondisi tropik yang optimal,” tutur Syukur.

Sementara itu, untuk unggas kita juga sudah banyak menghasilkan rumpun-rumpun unggas lokal. Dalam waktu dekat, bahkan akan diluncurkan ayam lokal-sembawa, dimana tingkat produksi telur ayam lokal tersebut diatas ayam lokal biasa namun masih sedikit dibawah ayam broiler.

Selain berbagai macam pencapaian dari hasil inovasi-inovasi yang ada, Syukur juga tak menampik bahwa masih banyak kelemahan dan kekurangan yang terjadi. Salah satunya dalam bidang pakan dimana negeri ini masih tergantung pada impor. “70% bahan baku pakan kita masih impor, diantaranya sumber protein hewani kita,” tambahnya.

Salah satu masalah lainnya yang timbul dalam bidang peternakan ini adalah dari segi industri olahan dimana Rumah Pemotongan Hewan (RPH) kita masih belum mampu menghasilkan daging yang sesuai dengan permintaan konsumen.  Selain itu, kita juga hanya baru mampu menghasilkan sebulan 100 ribu ton sementara yang dibutuhkan oleh konsumsi kita sekitar 500 ribu ton perbulan.

“Oleh karena itu bagaimana kita mengembangkan inovasi di RPH-RPH ini sehingga mampu menghasilkan jenis-jenis daging yang sesuai dengan permintaan konsumen,” ajak Syukur.

Masalah lainnya muncul dalam hal distribusi, kita juga masih kesulitan menekan harga distribusi yang cukup tinggi diantara daerah kita sendiri bila dibandingkan dengan impor. Salah satu contohnya adalah bagaimana biaya transportasi sapi dari NTT ke Jakarta yang lima kali lebih besar bila dibandingkan dengan pembelian sapi dari Darwin, Australia.

Melihat berbagai macam persoalan dan peluang yang ada di bidang peternakan, diakhir Syukur juga mengajak para peserta seminar yang hadir pada saat itu untuk terus mengembangkan inovasi yang cukup luas tersebut termasuk didalamnya inovasi yang terkait dengan rekayasa genetika.

Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis Fakultas Peternakan. Selain Ir. Syukur Iwantoro, MS., MBA., dalam seminar ini turut juga hadir pembicara lainnya yaitu Prof. Roostita L. Balia, PhD. Seminar ini diselenggarakan untuk memberikan rekomendasi bagi para pemangku kebijakan dalam hal pengembangan pembangunan peternakan.

Selain itu, seminar ini juga merupakan forum ilmiah bagi akademisi, peneliti, stakeholder, pengambil kebijakan, dan praktisi serta industri peternakan. Seminar yang pada tahun ini mengusung tema “Inovasi Agribisnis Peternakan Untuk Ketahanan Pangan” ini, berhasil mengumpulkan 184 makalah yang berasal dari Perguruan Tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah daerah dari seluruh wilayah Indonesia.*

Laporan oleh: Indra Nugraha/mar

 

 

Share this: