Kondisi Cuaca Juga Pengaruhi Kualitas Air Waduk Saguling

[Unpad.ac.id, 8/07/2013] Banyak isu mengabarkan jika kondisi perairan di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, sangat kritis. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya pencemaran limbah yang terjadi di sekitar aliran air sungai Citarum Hulu. Namun, apakah kondisi kritis kualitas perairan itu berlaku sepanjang tahun atau hanya pada musim tertentu saja?

Prof. Dr. Ir. H. Masyamsir, MS *

“Aktivitas industri tersebut diduga menjadi penyebab kritisnya Waduk Saguling. Namun, perlu ada penelitian lebih lanjut terkait dinamika kualitas air di Waduk Saguling,” ujar guru besar FPIK Unpad, Prof. Dr. Ir. H. Masyamsir, MS., saat memberikan orasi ilmiah pada Senin (8/07) di Aula Dekanat FPIK Unpad Kampus Jatinangor. Orasi ilmiah tersebut digelar dalam rangka Dies Natalis ke-8 FPIK Unpad

Prof. Masyamsir membawakan orasi berjudul “Dinamika Spasial dan temporal Produktivitas Primer Perairan Waduk (studi kasus Waduk Saguling)”. Guna menjawab pertanyaan tersebut, dilakukan penelitian dinamika kualitas air yang meliputi keseluruhan aliran utama waduk selama setahun yang meliputi musim kemarau dan musim hujan.

Ia pun melakukan penelitian spasial di tiga tempat, yaitu Maroko di bagian inlet waduk, Cihaur di bagian salah satu teluk waduk, dan Cigelap di bagian hilir waduk, dalam kurun waktu 1997 – 1998. Pengambilan tersebut dilakukan dalam dua musim, yakni pada musim kemarau sebanyak dua titik sampling, dan pada musim hujan sebanyak tiga titik sampling.

Tiga lokasi tersebut dipilih berdasarkan tingkat kandungan bahan organiknya, yaitu zona bahan organik berat di Maroko, zona bahan organik sedang di Cihaur, dan zona bahan organik ringan di Cigelap.

Penelitian tersebut difokuskan kepada produksi produktivitas primer perairan di waduk Saguling. Hasilnya, pada musim kemarau net produktivitas primer perairan umumnya menurun di Maroko dan Cihaur, dan relatif baik di daerah hilir yang merupakan zona bahan organik ringan, yaitu Cigelap.

Sementara untuk musim hujan, net produktivitas primer dan kualitas air di tiga lokasi pada umumnya baik, sehingga menyebabkan proses pengenceran karena debit serta arus air yang meningkat dan menyebarkan bahan organik ke seluruh bagian waduk.

“Proses pengenceran itulah yang menyebabkan proses pengikatan zat logam organik di dalam air waduk Saguling,” jelas Prof. Masyamsir.

Dapat ditarik kesimpulan, kualitas air di Waduk Saguling tidak semuanya kritis sehingga masih dapat digunakan untuk budidaya perikanan. Pada musim kemarau, budidaya ikan karamba jaring apung dapat dilakukan pada bagian waduk sekitar Cigelap dan teluk-teluk yang berada di bagian hilir waduk.

“Di lokasi hilir, kualitas air pada musim kemarau masih memadai sehingga bisa dimanfaatkan untuk budidaya dan memancing. Namun, sama sekali tidak dianjurkan di lokasi Maroko dan Cihaur,” ujarnya.

Sementara untuk musim hujan, kegiatan budidaya dapat dilakukan di tiga lokasi. Hal ini disebabkan kualitas air pada musim hujan relatif baik di tiga lokasi tersebut. ”Ini bisa disiasati dengan membangunan konstruksi karamba yang bersifat mobile,” ujarnya saat menjelaskan cara budidaya yang tepat di kawasan tersebut.

Selain Prof. Masyamsir, orasi ilmiah tersebut juga diisi oleh pemaparan dari Prof. Dr. Ir. H. Sukaya Sastrawibawa, S.U., dengan judul “Peningkatan Produksi Benih Ikan Berkualitas melalui Penerapan Bioteknologi.”

Laporan oleh: Maulana /  eh*

Share this: