Pengembangan Bawang Merah dan Cabe Terkendala Empat Isu

[Unpad.ac.id, 27/11/2013] Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 di bidang Holtikultura salah satunya mempunyai arah kebijakan komoditas strategis, yaitu pengembangan bawang merah dan cabe merah. Namun, dua komoditas tersebut di pasaran masih mengalami fluktuasi produksi dan harga.

Logo Unpad *
Logo Unpad *

“Pengembangan bawang merah dan cabe merah sesuai RPJMN terkendala 4 isu, yaitu fluktuasi harga, ketersediaan di pasar, tata niaga, serta cuaca/iklim yang berpengaruh pada hasil produksi,” ujar Direktur Pangan dan Pertanian Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), Ir. Nono Rusono PG.DIP, Agr., Sci., M.Si., dalam acara “Focus Group Discussion Penyusunan RPJMN Holtikultura (Bawang Merah dan Cabe Merah)”, Rabu (28/11) di Hotel Mitra Bandung.

Acara tersebut digelar oleh Laboratorium Pembangunan Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Faperta Unpad bekerja sama dengan Perhepi, Kementrian Pertanian, dan Bappenas dan dibuka secara resmi oleh Dekan Faperta Unpad, Prof. Dr. Benny Joy, Ir., M.S.

Menurut Nono, produksi dan harga bawang merah dan cabe di pasaran dalam kurun 2009 – 2012 mengalami fluktuasi. Padahal, suplai kedua komoditas tersebut cenderung surplus. Kondisi tersebut disebabkan menurunnya angka konsumen bawang merah dan cabe merah di pasaran.

“Menurunnya konsumen bawang merah dan cabe merah membuktikan peningkatan pendapatan masyarakat yang kini lebih beralih pada hasil bawang dan cabe olahan,” ujar Nono.

Selama ini, fluktuasi harga di pasaran selalu diakibatkan adanya fluktuasi produksi sehingga pemerintah pun memonitor pergerakan dua laju tersebut. Hal tersebut disanggah oleh Dosen Faperta Unpad, Dr. Tommy Perdana, S.P., MM. Aspek petani merupakan penyebab utama dua fluktuasi tersebut.

“Pemerintah lupa memonitoring pengendalian rantai pasok pangan. Padahal, penyebab fluktuasi tersebut berasal dari hulunya, yaitu petani. Sebagian besar petani melakukan produksi berdasarkan ketersediaan lahan, sementara lahan semakin menyusut,” ungkap Dr. Tommy.

Dr. Tommy menambahkan, infrastruktur dalam sistem rantai pasok saat ini berada dalam kondisi tiudak baik. Ia menyebutkan kondisi seperti sistem irigasi untuk holtikultura yang rusak dan tidak berkembang, serta sebagian besar jalan di sentra produksi dan jalur distribusi yang juga mengalami kerusakan. Faktor hulu itulah yang menyebabkan terjadinya fluktuasi produksi dan harga pada 2 komoditas tersebut.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Santoso, pelaku agribisnis dari Agrofarm Cianjur. Infrastruktur pertanian holtikultura kurang mendapat perawatan dan perbaikan. Pergusuran tanah tanpa diimbangi pembukaan lahan holtikultura yang baru merupakan masalah yang dapat menyebabkan produktivitas menurun.

“Rantai pasok holtikultura dimulai dari produksi, pemrosesan, persediaan di pasar, dan distribusi. Jika aspek produksi menurun, maka ke bawahnya pun juga mengalami permasalahan,” ujar Santoso.

Oleh karena itu, dalam RPJMN 2015 – 2019, Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas telah membidik daerah-daerah sebagai potensi pengembangan 2 komoditas tersebut. Ada 17 provinsi untuk kawasan pengembangan bawang merah dan 21 provinsi untuk kawasan pengembangan cabe merah.

“Selain pengembangan kawasan, kami juga menyusun roadmap peningkatan produksi dan mutu, kelembagaan, serta penataan rantai pasokan untuk bawang merah dan cabe merah,” tambah Nono.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *

 

 

Share this: