[Unpad.ac.id, 25/04/2014] Human Leucocyte Antigen (HLA) merupakan istilah yang digunakan untuk kompleks histokompatibilitas mayor (major histocompatibility complex) pada manusia. Berdasarkan penelitian dari para ahli, HLA berperan penting dalam mempertahankan diri terhadap suatu penyakit di tubuh manusia, seperti diabetes melitus tipe A, penyakit celiac, atau sindrom nefrotik.

Demikian disampaikan oleh Prof. dr. Ramdan Panigoro, M.Sc., Ph.D., dalam orasi ilmiahnya berjudul “Polimorfisme Genetik HLA Populasi Indonesia: Dari Transplantasi Hingga Antropologi untuk Kesejahteraan Masyarakat” berkenaan dengan penerimaan Jabatan Guru Besar bidang Ilmu Biokimia Medik Fakultas Kedokteran Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri Bandung, Jumat (25/04).
Selain menjadi salah satu aspek penting dalam mempertahankan diri dari penyakit, HLA juga memiliki keragaman pola pada populasi manusia. “Keragaman pola HLA ini merupakan aspek yang banyak diteliti di dunia, termasuk Indonesia, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Prof. Ramdan.
Sejak ditemukannya metode transplantasi, atau memindahkan alat atau jaringan tubuh dari satu orang ke orang lain, sistem HLA berperan penting dalam sistem ketahanan tubuh terhadap gangguan dari luar. Sifatnya yang polimorfik sehingga mampu membedakan sel dari dalam tubuh atau dari luar. Dengan mekanisme ini, maka sel dari luar melalui transplantasi akan mudah dikenali sebagai benda asing atau tidak.
“Dengan mengetahui profil HLA seseorang, maka sejak dini dapat diketahui atau diantisipasi faktor risikonya terhadap penyakit-penyakit tertentu seperti diabetes tipe 1, lupus eritmatosus, tuberkulosa dan lepra,” kata Prof. Ramdan.
Di Indonesia sendiri tingkat polimorfisme HLA cukup tinggi akibat keberagaman suku bangsa yang ada. Sayangnya, penelitian yang mengarah ke sana masih sangat terbatas


Menurut Prof. Ramdan, data ini seharusnya dapat menjadi kajian penelitian para mahasiswa kedokteran untuk mengeksplorasinya, sehingga akan berguna untuk mendukung aplikasi biologi molekuler pada pelayanan kesehatan ataupun studi antropologi.
“Kepada para mahasiswa kedokteran dan bidang kesehatan lainnya di Indonesia dianjurkan untuk lebih memahami perkembangan biologi molekuler yang sangat cepat dan makin berperan dalam pencegahan, pengobatan, maupun peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia di masa mendatang,” ujar Prof. Ramdan.
Prof. Ramdan selama ini tercatat sebagai Direktur Kerjasama Unpad (2008 – 2012) dan Staf Khusus Bidang Kerjasama pada Wakil Rektor III Unpad (2012 – 2013). Beliau dilantik menjadi guru besar bidang Ilmu Biokimia Medik pada 10 Maret 2014 lalu oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia. Saat ini, Prof. Ramdan menjabat sebagai Kepala Departemen Biokimia dan Biomolekuler FK Unpad.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh *
