Narasumber dan moderator pada Seminar Nasional Studi Wilayah Pertahanan di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Kamis (9/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 9/10/2014] Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, berbicara di hadapan para peserta Pasis Dikreg LII Seskoad Tahun Ajaran 2014, mahasiswa, dan tamu undangan pada Seminar Nasional Studi Wilayah Pertahanan di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Kamis (9/10).

Narasumber dan moderator pada Seminar Nasional Studi Wilayah Pertahanan di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Kamis (9/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Narasumber dan moderator pada Seminar Nasional Studi Wilayah Pertahanan di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Kamis (9/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Dalam kesempatan tersebut, Rektor menegaskan makna pembinaan teritorial yang menjadi paham TNI AD dalam menyiapkan sistem pertahanan rakyat semesta. Menurutnya, istilah “pembinaan teritorial” akan memunculkan stigma adanya dikotomi antara TNI dengan rakyat.

“Kalau istilah ‘pembinaan teritorial’ itu artinya TNI ada di sana dan rakyatnya yang dibina,” ujar Rektor yang menyampaikan tema “Globalisasi dan Identitas Nasional dalam Pertahanan Negara”.

Jika dilihat dari perspektif tersebut, maka dikotomi akan memunculkan pendekatan yang bersifat konflik. Hal inilah yang mesti diubah khususnya oleh TNI sendiri. Dalam melakukan ketahanan negara, TNI dan rakyat adalah unsur yang saling berhubungan.

Lebih lanjut Rektor menerangkan, sebagai unsur yang lahir dari rakyat, TNI tidak boleh melakukan pemisahan terhadap rakyat. Sehingga, hal pertama yang mesti dilakukan justru bukan pada aspek pembinaan, tetapi lebih terfokus pada mengubah pola piker rakyat tentang pentingnya ketahanan negara.

“Kalau istilah dibina, kesannya seolah-olah rakyat dicurigai. Kenapa kalau sama-sama dari rakyat, tapi ujung-ujungnya TNI yang harus dihormati,” tegas Rektor.

Terkait dengan Program Manunggal, sebuah program terpadu yang menjadi solusi untuk menyejahterakan masyarakat daerah, setiap anggota TNI wajibmemiliki kepekaan yang tinggi terhadap rakyat di sekitarnya.

humas unpad_2014_10_09_00012258Dengan demikian, mengubah pola piker adalah tugas utama TNI dalam membangun system pertahanan rakyat semesta sehingga rakyat merasa selalu dekat dengan TNI. Hal inilah yang dilakukan oleh TNI dengan rakyat pada masa awal-awal berdirinya TNI sebagai alat pertahanan negara yang berdaulat.

“Harusnya semboyan ‘Bersama TNI, rakyat kuat’ diubah menjadi ‘Bersama rakyat, TNI kuat’,” kata Rektor.

Selain Rektor, seminar ini juga menghadirkan pembicara Marsekal Madya Djoko Setyono, Kepala LP2M Unhan, dan Mayor (CPL) Tumpal Raines Napitupulu dengan moderator Tina Talisa. Turut hadir dalam seminar ini Wakil Kepala Staf TNI AD, Letjen TNI Muhammad Munir.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *

 

Share this: