[Unpad.ac.id, 14/10/2014] Selain sebagai komoditi pangan, perikanan juga memiliki nilai yang strategis bagi perekonomian. Sebagai komoditi ekonomi, ikan memiliki peranan penting sebagai penghasil devisa negara melalui ekspor. Dengan demikian, diperlukan peningkatan daya saing, dengan menjaga mutu dan keamanan pangan.

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Narmoko Prasmadji, SH., MH. mengatakan bahwa perlu adanya standardisasi keamanan produksi ikan di Indonesia. Selain untuk meningkatkan daya saing dalam pasar dunia, juga untuk menjamin kesehatan bagi masyarakat yang mengonsumsinya. Sebagai konsumen, masyarakat pun perlu mengetahui standar keamanan tersebut agar dapat mengonsumsi ikan dengan sehat.
“Kita kalau beli ikan, enggak pernah ditanya ditangkapnya kapan, dibudidayakan secara benar atau tidak,” tutur Narmoko saat menjadi pembicara pada “Seminar Prospek Daya Saing Produk Perikanan dan Hasil Pemantauan Hama dan Penyakit Ikan di Wilayah Jawa Barat”. Acara ini digelar atas kerja sama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad dengan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Bandung, di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, kampus Jatinangor, Selasa (14/10).
Ketika ada statement “makan ikan menjadikan cerdas dan menyehatkan” maka harus diperhatikan dahulu terkait kandungan ikannya. Jika ikan tersebut mengandung formalin misalnya, tentu pernyataan tersebut menjadi tidak benar.
Dalam penanganan ikan, masih banyak juga yang belum memperhatikan tekniknya dengan baik, seperti cara penyimpanan, pengaturan temperatur, cara dan alat untuk memotong, higienitas, dan sebagainya. Menurut Narmoko, hal tersebut menjadi persoalan dan tantangan di negeri ini. Bukan hanya dengan membuat berbagai peraturan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana menghadapi budaya yang sudah ada.
“Tantangan kita juga memberikan masukan agar bisa melakukan budidaya ikan dengan cara yang benar. Bukan hanya dengan mengajarkan caranya, tetapi juga memberi tahu bahayanya,” tutur Narmoko.
Selain itu, penting diperhatikan juga bagaimana agar ikan terhindar dari hama dan penyakit. Dalam hal ini, perlu adanya karantina. Narmoko menuturkan, penyakit ikan bisa berkembang dari satu negara ke negara lain secara cepat. “Ini yang berbahaya. Kita harus perhatikan proses-proses bagaimana menghindarinya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Narmoko juga mengajak peserta yang hadir untuk sama-sama mengkampanyekan Gerakan Masyarakat Sadar Mutu Keamanan Hasil Perikanan dan Kesehatan Ikan. Minimal, informasi tersebut dapat diberitahukan ke orang-orang sekitar.*
Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh
