Peran Penting Nutrisi untuk Obati dan Cegah Penyakit Mulut

Kiri ke kanan: Rovina Ruslami, dr. Sp.PD., PhD, Elizabeth Fitriana, drg., Sp.PM, Dadang Arief Primana, dr., MSc., Sp.KO., Sp.GK (Foto oleh: Artanti)*

[Unpad.ac.id, 17/1/2015] Bila terjadi gangguan (penyakit) di mulut, pasien biasanya kesulitan untuk makan yang mengakibatkan ia mengalami kekurangan nutrisi. Hal ini justru akan memperparah penyakitnya, karena pasien akan mengalami gangguan pada sistem imunnya. Maka, yang dibutuhkan oleh pasien dalam membantu penyembuhannya adalah terapi nutrisi, yakni memberikan zat-zat gizi berupa protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan sebagainya sesuai dengan yang dibutuhkan pasien.

Kiri ke kanan: Rovina Ruslami, dr. Sp.PD., PhD, Elizabeth Fitriana, drg., Sp.PM, Dadang Arief Primana, dr., MSc., Sp.KO., Sp.GK (Foto oleh: Artanti)*
Kiri ke kanan: Rovina Ruslami, dr. Sp.PD., PhD, Elizabeth Fitriana, drg., Sp.PM, Dadang Arief Primana, dr., MSc., Sp.KO., Sp.GK (Foto oleh: Artanti)*

“Oleh karena itulah diperlukan kerja sama antara dokter gigi dengan dokter spesialis gizi,” ujar Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Rumah Sakit Immanuel Bandung, Dadang Arief Primana, dr., MSc., Sp.KO., Sp.GK., saat menjadi pembicara pada pertemuan ilmiah Oral Medicine One Day Seminar (OMODS) 3. Acara ini diselenggarakan oleh Program Studi Dokter Gigi Spesialis Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unpad di  Auditorium Rumah Sakit PendidikanUnpad (RSP) Unpad, Jln. Eijkman 38 Bandung, Sabtu (17/01).

Hal senada diungkapkan pembicara lain, Koordinator Program Studi Dokter Gigi Spesialis Ilmu Penyakit Mulut  FKG Unpad, Elizabeth Fitriana Sari, drg., Sp. PM. Ia mengungkapkan bahwa peran nutrisi sangatlah besar dalam mengatasi penyakit mulut. Menurutnya, banyak penyakit mulut (paling banyak dialami adalah sariawan) yang faktor pemicu utamanya adalah defisiensi nutrisi.

Ia menegaskan bahwa dalam proses penyembuhan penyakit perlu dilakukan juga dengan perbaikan nutrisi. Selain dapat turut mengobati penyakit mulut, pemberian nutrisi yang baik juga dapat berperan untuk mencegah munculnya penyakit mulut.

“Nutrisi adalah suatu bagian yang penting untuk mencegah dan mengobati penyakit mulut. Banyak penyakit mulut juga secara jelas di-trigger oleh kurangnya kondisi nutrisi,” ujar drg. Elizabeth.

Bagaimana nutrisi dapat mendukung suatu penyembuhan luka? Elizabeth menjelaskan, proses penyembuhan luka akan meningkatkan aktivitas metabolik. Peningkatan metabolism ini tentu juga akan meningkatkan kebutuhan tubuh akan nutrisi.

“Pada status inflamasi, terutama pada inflamasi yang kronis, tentu suksesnya penyembuhan adalah dibutuhkan nutrisi yang tinggi, yang di-supply pada daerah yang rusak, dan nutrisi ini bias merupakan suatu bentuk dari makanan, imunonutrisi, ataupun terintegrasi dari herbal medicine,”jelas drg. Elizabeth.

Penjelasan mengenai herbal medicine pun dijelaskan oleh salah satu pembicara, Rovina Ruslami, dr., Sp.PD., PhD selaku Kepala Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Unpad. Ia menuturkan, dalam pengembangan herbal medicine, diperlukan kerja sama interdisiplin yang terintergrasi. “Yang sifatnya lintas program untuk mengembangkan bahan alam tersebut betul-betul sampai ke tujuannya sebagai terapi yang bisa diyakini safety dan efikasinya,” ujar dr. Rovina.

Sementara itu, Ketua Panitia OMODS 3, Tenny Setiani Dewi, drg., M.Kes., Sp.PM mengatakan bahwa OMODS merupakan kegiatan ilmiah yang kali ini digelar untuk ketiga kalinya. OMODS 3 mengangkat tema “Oral Medicine Today: Conventional  and Complementary Therapy”. Peserta seminar terdiri dari dokter gigi umum, dokter gigi Spesialis Penyakit Mulut, dokter gigi PPDGS, dan mahasiswa Kedokteran Gigi. Peserta berjumlah 130 orang, yang berasal dari berbagai daerah antara lain Bandung, Jakarta, Surabaya, Sulawesi, dan Kalimantan.

Acara dibuka oleh Dekan FKG Unpad, Dr. Nina Djustiana, drg.,M.Kes. “Diharapkan OMODS mampu mendorong  para praktisi kesehatan, baik di Kedokteran Umum maupun Kedokteran Gigi untuk senantiasa semakin baik dalam bekerja sama menangani kasus-kasus penyakit mulut serta meningkatkan pengetahuan masyarakat,” tutur Dr. Nina.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Share this: