[Unpad.ac.id, 23/03/2015] Kegiatan masyarakat di sekitar daerah aliran sungai Citarum dan anak sungainya, serta kegiatan yang ada di Waduk Cirata sudah memperlihatkan dampak negatif pada perairan Waduk Cirata. Kondisi perairan tercemar bahan organik (hypereutrofik) yang diindikasikan dengan warna air berwana hijau dan ditutupi oleh Eceng Gondok (Eichornia crassipes).

Dalam rangka mewujudkan potensi sumber daya hasil perikanan yang berdaya saing berkelanjutan, Forum Peningkatan Masyarakat Sadar Mutu Karantina Ikan Jawa Barat bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad melakukan kegiatan “Ngaraksa Cirata” pada Rabu (18/03) lalu. Kegiatan tersebut diikuti oleh 350 peserta yang terdiri dari pembudidaya ikan Cirata, serta perwakilan mahasiswa FPIK angkatan 2010, 2011, 2012 dan 2013. Acara dibuka oleh Kepala Badan Karantina Ikan Pengelolaan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan RI, R. Narmoko Prasmadji.
Aktivitas yang dilakukan adalah pengangkatan eceng gondok dan sampah yang menutupi perairan Waduk Cirata dan Saresehan. “Kegiatan pengangkatan eceng gondok dan sampah dilakukan di 4 wilayah meliputi Cipicung, Ganda Soli, Cirata dan Cipeundeuy,” tutur dosen FPIK Unpad, Dra. Titin Herawati. M.Si. dalam rilis yang diterima Humas Unpad.
Titin menyebutkan, Ngaraksa Cirata merupakan suatu tindak dari kepedulian terhadap Cirata. Apabila kondisi buruk tersebut terus dibiarkan, akan terjadi dampak eutrofikasi, yakni perairan waduk tidak sesuai dengan fungsinya. “Minimal perairan Cirata tidak tertutup eceng gondok,” kata Titin.*
Rilis oleh: FPIK Unpad / art
