[Unpad.ac.id, 16/11/2015] Sebagai salah satu bentuk partisipasi dari kampanye dunia tentang pencegahan Diabetes Mellitus (DM), Padjadjaran Nursing Corps, salah satu Organisasi di Bawah BEM Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, menyelenggarakan kegiatan screening risiko DM, edukasi, photo booth dengan clue circle, dan pengumpulan dana untuk penderita DM. Kegiatan yang digelar pada 9-13 November 2015 lalu di Gerbang Lama Unpad ini diikuti oleh 138 pengunjung.

Dari jumlah tersebut, berdasarkan screening berdasarkan usia, indeks masa tubuh, riwayat keluarga DM, riwayat hipertensi, riwayat gula darah tinggi, pola diet dan kebiasaan olahraga, diketahui bahwa 70% diantaranya memiliki risiko DM pada kategori rendah, 24% mengalami sedikit peningkatan risiko DM, 4% risiko menengah, dan 2% risiko tinggi DM sangat tinggi.
Meski sebagian besar masih memiliki risiko DM rendah, bukan berarti mereka tidak berisiko. Bila mereka lalai menjaga diet, olah raga, dan pola hidup sehat lainnya, akan memungkinkan risiko DM menjadi lebih tinggi. Apalagi, sebagian bersar pengunjung mengaku tidak sepenuhnya mengetahui risiko DM dan upaya pencegahan DM. Bahkan, penelitian pada keluarga penderita DM yang pada dasarnya berinteraksi langsung dan terpapar dengan penderita DM juga menunjukkan hasil yang kurang lebih sama bahwa mereka tidak sepenuhnya melakukan perilaku pencegahan yang diharapkan, seperti periksa gula darah, menjaga diet, dan olah raga teratur.
Selain itu, sebagian besar masyarakat masih meyakini bahwa DM hanya diderita “orang tua”. Padahal data menunjukkan bahwa diabetes juga banyak ditemukan di kalangan anak-anak dan remaja yang disinyalir berhubungan erat dengan banyaknya temuan obesitas pada balita dan anak-anak. Temuan ini semakin memperkuat pentingnya peningkatan intensitas upaya edukasi dan screening guna meningkatkan kesadaran semua pihak pentingnya upaya pencegahan.
Melalui kampanye tersebut diharapkan setiap individu menyadari pentingnya melakukan pengecekan tingkat risiko DM sedini mungkin yang dengannya mereka bisa mengambil upaya penanganan ataupun menjaga pola hidup sehat sedini mungkin, Bila kesadaran ini muncul di masyarakat, maka diagnosa yang terlambat dan komplikasi akibat DM bisa ditekan.
Kegiatan ini juga digelar sebagai bagian dari memperingati “World Diabetes Day” setiap tanggal 14 November. Tahun ini, International Diabetes Federation (IDF) membawa dua pesan utama yang pada dasarnya menekankan pada pentingnya pencegahan melalui deteksi dini faktor risiko dan pengembangan budaya hidup sehat.
Di Indonesia, upaya pencegahan masih merupakan tantangan berat. Kebiasaan masyarakat yang menunggu sakit (muncul gejala) baru mau berkunjung ke puskesmas/rumah sakit akan menjadikan masyarakat merasa aneh bila dalam kondisi “sehat” diminta melakukan pemeriksaan ini itu. Merubah kebiasaan akan selalu tidak mudah.
Hingga kini, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu dari 10 negara dengan jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) terbanyak di dunia dan diperkirakan bahwa jumlah penderita DM akan terus meningkat, bahkan pada usia yang lebih muda.
Data juga menunjukkan banyak penderita DM yang terlambat terdiagnosa, bahkan banyak di antara mereka terdiagnosa secara tidak sengaja atau setelah mengalami komplikasi. Kondisi ini menyebabkan upaya penanganan dan pencegahan komplikasi lebih sulit dan cenderung tidak efektif. Selain jumlah yang terus meningkat, DM juga dikenal banyak menimbulkan dampak negatif baik secara fisik, psikis, sosial-spiritual, maupaun finansial baik bagi pasien maupun keluarga. *
Rilis oleh: Fakultas Keperawatan Unpad / art
