Para narasumber Workshop Penulisan Buku yang digelar di Ruang Oemi Abdurrachman, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Jatinangor, Rabu (6/04). (Foto oleh: Dadan T.)*

[Unpad.ac.id, 6/04/2016] Menulis buku merupakan salah satu proses untuk lebih mengaktualisasikan diri kita sebagai manusia sejarah, dan membedakan kita dari manusia pra-sejarah. Menulis buku pun dapat dikatakan sebagai proses untuk mengabadikan diri kita, dimana karya kita akan dapat dibaca hingga beratus-ratus tahun kemudian.

Para narasumber Workshop Penulisan Buku yang digelar di Ruang Oemi Abdurrachman, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Jatinangor, Rabu (6/04). (Foto oleh: Dadan T.)*
Para narasumber Workshop Penulisan Buku yang digelar di Ruang Oemi Abdurrachman, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Jatinangor, Rabu (6/04). (Foto oleh: Dadan T.)*

“Ketika kita membuat buku, sesungguhnya kita sedang mengabadikan diri kita,” kata Drs. Mahpudi, S.I.K., M.T dari Ikapi Jawa Barat dalam acara Workshop Penulisan Buku yang digelar di Ruang Oemi Abdurrachman, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Jatinangor, Rabu (6/04).

Mahpudi mencontohkan, dengan menulis Negarakertagama, Mpu Prapanca dapat dikenal hingga sekarang. Bisa jadi, pada masa itu ada banyak orang yang ahli pada ilmu-ilmu tertentu, namun tidak mereka tulis sehingga namanya tidak pernah disebut hingga kini.

“Dengan Negarakertagama, Mpu Prapanca disebut sampai sekarang, sudah 500 tahun lebih namanya masih disebut. Jadi kalau kita sepanjang hayat kita tidak pernah menulis satupun buku, sehebat apapun ilmu kita, boleh jadi kita tidak akan pernah disebut,” ujarnya.

Lalu, bagaimana cara mulai menulis buku? Mahpudi mengatakan bahwa jangan menjadikan menulis sebagai perkara sulit, meski bukan juga perkara yang mudah. Hakikatnya, dalam setiap otak manusia ada “buku”, tinggal bagaimana kita mengeluarkannya.

Sementara itu, Kepala UPT Unpad Press Dr. Gugun Gunardi, M.Hum. mengungkapkan kiat-kiat belajar menulis buku. Dimulai dari menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan, menjadikan kegiatan menulis sebagai sesuatu yang menyenangkan, hingga  tidak mudah menyerah.

“Mengawali sebuah tulisan itu luar biasa susahnya. Tetapi ketika kita sudah berjalan, maka itu menjadi suatu hiburan. Apalagi kalau sudah menjadi buku, maka itu menjadi satu hadiah buat kita,” ujar Dr. Gugun.

Dalam menulis, terutama buku ajar, maka yang paling penting adalah adanya tanggung jawab keilmuan yang benar. Dengan demikian, penting adanya editor. “Jangan editor bahasa saja, tetapi juga editor keilmuan,” kata Dr. Gugun.

Pembicara lain, Dra. Hj. Rema K. Soenendar dari Ikapi Jabar mengungkapkan bahwa untuk menemukan penerbit buku yang tepat, sebaiknya penulis mempelajari terlebih dahulu mengenai profil penerbit yang akan dituju.

“Jangan sembarangan memilih penerbit. Rata-rata sekarang penerbit punya website, bisa dipelajari dari situ mereka bergerak di buku apa,” ujar Rema.

Workshop penulisan buku ini dibuka oleh Direktur Inovasi, Korporasi Akademik, dan Usaha Prof. Dr. Tualar Simarmata, Ir., M.S., dan diikuti oleh 85 peserta yang merupakan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan di lingkungan Unpad.  Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bale Pabukon Unpad, Direktorat Inovasi, Korporasi Akademik dan Usaha, UPT Unpad Press, serta dudukung oleh Ikapi Jawa Barat sebagai mitra strategis di bidang penerbitan dan diseminasi keilmuan.

“Tujuan kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi menulis, menjaring naskah-naskah dari sivitas akademika Unpad, serta menjadi sebuah publikasi karya ilmiah atau buku pada penerbit yang bereputasi,” ungkap Manajer Bale Pabukon, Andri Yanto, S.Sos., M.I.Kom.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Share this: