[Unpad.ac.id, 13/04/2016] Menghadapi perubahan iklim global, sektor pertanian perlu memiliki sistem yang bisa mengatur efisiensi air. Hal ini guna menyiasati sulitnya air pada musim tertentu yang bisa memengaruhi supply and demand kebutuhan air tanaman.

Hal ini yang berhasil disiasati oleh para akademisi Unpad melalui program Academic Leadership Grant (ALG) 1-1-6. Salah satu tim yang diketuai Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, Prof. Dr. Hj. Nurpilihan Bafdal, Ir., M.Sc., menicptakan teknologi Self Watering Fertigation System. Teknologi ini merupakan sistem pemberian air secara otomatis tanpa menggunakan energi listrik.
Tim tersebut beranggotakan Dr. Ir. Edy Suryadi, M.T., Dr. Dwi Rustam Kendarto, S.Si., M.T., Ir. Chay Asdak, M.Sc., PhD., Dr. Santi Rosniawaty, M.P., Wawan Herawan, dan Dr. Ir. Wagiono. Teknologi ini dipasang pada mini greenhouse yang berlokasi di Kampus Jatinangor. Pada mini greenhouse tersebut ditanam tiga jenis tanaman, yaitu tomat ceri, melon, dan paprika.
Secara sederhana, sistem ini mengalirkan air hujan dari talang di atap greenhouse untuk ditampung di dua buah drum penyimpan. Setiap drum memiliki kapasitas 5.300 liter. Air dari drum tersebut kemudian dialirkan ke dalam 3 buah drum kecil di dalam greenhouse.
“Drum kecil ini yang akan mengalirkan air ke tanaman,” kata Prof. Nurpilihan saat ditemui di sela kegiatan panen buah dan sayuran di mini greenhouse, Rabu (13/04).
Air di dalam drum kecil tersebut kemudian dicampur dengan pupuk. Selanjutnya, air campuran tersebut kemudian dialirkan secara otomatis kepada pot tanaman. Adapun jenis pot tanaman yang digunakan merupakan autopot.
“Di dalam autopot itu, air yang dialirkan dari drum dikontrol oleh sebuah valve (katup). Katup akan mengatur air sesuai dengan kebutuhan tanaman. Air dialirkan ke tanaman tanpa menggunakan energi listrik,” paparnya.
Adapun media tanam sendiri, kata Prof. Nurpilihan, tidak menggunakan tanah. Ia menggunakan campuran arang sekam dengan bahan organik, arang sekam dengan humus, serta arang sekam dengan sabut kelapa. “Yang paling bagus adalah campuran arang sekam dengan humus,” kata Prof. Nurpilihan.
Dalam waktu tiga bulan, tanaman yang saat ini berjumlah 41 autopot tersebut telah panen sebanyak 12 kali. Ke depan, teknologi ini akan digunakan untuk 150 autopot. Kegiatan panen tersebut diikuti oleh para anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unpad. Turut hadir ketua DWP Unpad Tina Tri Hanggono Achmad.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh









