[Unpad.ac.id, 11/04/2016] Banyak orang yang menganggap bahwa hipnosis merupakan sesuatu yang berkaitan dengan magis, mitos, atau misteri, dimana seseorang yang terkena hipnosis dapat kehilangan kesadaran atau berperilaku di luar kontrol. Padahal, hipnosis merupakan sebuah kajian ilmiah.

Dalam Vivat Academia Seminar yang digelar di Bale Sawala Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran Jatinangor, Senin (11/04), dibahas mengenai Hipnosis dalam 5 cabang keilmuan, yaitu Komunikasi, Fisika, Psikologi, Linguistik, dan Kesehatan. Dalam seminar yang dibuka oleh Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Ayi Bahtiar, Msi., hadir sejumlah dosen Unpad yang mendalami hipnosis dari lima cabang ilmu tersebut, yakni dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Dr. Antar Venus, MA Comm., dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Dr. Andri Abdurochman, S.Si., M.T., dosen Fakultas Psikologi Aulia Iskandarsyah, M.Psi., M.Sc., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Budaya Dr. Dian Ekawati dan Dr. Nani Damayanti, serta dosen Fakultas Kedokteran Gigi, Gilang Yubiliana, drg., M.Kes.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Venus menyampaikan bahwa inti dari hipnosis adalah komunikasi. Hipnosis sendiri merupakan proses pengiriman pesan verbal secara instruktif, parsipatif, repetitif, dan imajinatif untuk menanampakan sugesti kepada para penerima pesan.
“Hipnosis itu ya komunikasi, dan melibatkan ekspresi dan persepsi,” ujarnya.
Dr. Venus pun menyayangkan masih minimnya penelitian hipnosis di Indonesia, khususnya dari kajian Ilmu Komunikasi. Ia menyebutkan, penelitian mengenai hipnosis dilihat dari Ilmu Komunikasi sudah banyak dilakukan di sejumlah negara.
Sementara itu, Dr. Andri menjelaskan bahwa dalam Ilmu Fisika, dirumuskan model dalam melakukan hipnosis untuk kemudian dirumuskan cara “penyajian” atau dilakukan evaluasi. Ia menjelaskan, Fisika merupakan ilmu dasar yang bisa mengamati kondisi alam secara umum, salah satunya adalah manusia.
Seseorang yang terhipnotis pun dapat terukur, dilihat dari gelombang otaknya. Dr. Andri mengungkapkan, saat paling baik untuk memberikan sugesti pada seseorang adalah saat orang tersebut berada dalam gelombang theta. “Saat theta ini dia ekstrem relaks. Pada saat itu sangat bagus memeberikan sugesti,” jelasnya.

Sementara dari segi Ilmu Linguistik, Dr. Dian dan Dr. Nani, memaparkan hasil penelitian mereka sebagai suatu kajian pragmatik dan percakapan. Mereka mengungkapkan, bahasa yang digunakan dalam hipnosis biasanya terstruktur. Dari segi gaya bahasa, biasanya yang digunakan adalah gaya bahasa klimaks, paralelisme, antitesis, dan repetisi. Dari segi tindak tutur, tipe yang digunakan adalah aserif (menyatakan), direktif (memerintah), dan ekspresif (memuji).
Pembicara lain, Dr. Aulia mengungkapkan bahwa hipnosis merupakan fenomena keseharian, termasuk dalam ilmu kesehatan. Dalam ilmu kesehatan, hipnosis pun dikenal sebagai bagian dari behavioral medicine. “Anjuran perilaku pun dapat menjadi obat,” ujarnya.
Hipnosis dalam ilmu kesehatan pun telah dipraktikan oleh drg. Gilang. Ia mengungkapkan, dengan dental hypnosis, lebih efektif dalam mengurangi kecemasan pasien dan mendukung kesembuhannya dibandingkan dengan melakukan sedasi.
“Prosesnya itu terletak pada proses biologi transduksi komunika hipnodontik,” katanya.
Dijelaskan drg. Gilang, komunika hipnodontik merupakan kumpulan kata yang dirangkai menjadi kalimat dan dilengkapi dengan strategi kebahasaan tertentu yang bertujuan untuk membawa pasien menjadi lebih saantai dan tidak merasa kesakitan ketika dilakukan tindakan medis.
“Semakin santai, maka ambang toleransi pasien terhadap dental ansietas semakin besar hingga dapat menurunkan nyeri,” jelasnya.*
Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh
