Dr. Dicky Muslim, M.Sc.*

[Unpad.ac.id, 19/07/2016] Di balik difungsikannya Jatinangor sebagai kawasan pendidikan dan permukiman yang berkembang dengan pesat, ada potensi bencana krusial yang sewaktu-waktu bisa mengancam. Ini akan menelan kerugian jiwa maupun materi yang sangat besar apabila tidak dilakukan mitigasi kebencanaan sejak dini.

Dr. Dicky Muslim, dosen Fakultas Teknik Geologi Unpad (Foto oleh: Dadan T.)
Dr. Dicky Muslim, dosen Fakultas Teknik Geologi Unpad (Foto oleh: Dadan T.)

Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Dr. Ir. Dicky Muslim, M.Sc., mengatakan, setidaknya ada tiga potensi bencana yang mengancam di wilayah Jatinangor. Tiga potensi tersebut yaitu longsor, gempa bumi, dan kemungkinan kembali aktifnya Gunung Manglayang.

“Kita tinggal di daerah yang tidak aman, tetapi kita malah memanfaatkan ketidakamanan ini menjadi suatu benefit,” ujar Dicky saat menjadi pembicara dalam “Sosialisasi dan Informasi Kemitigasian Universitas Padjadjaran” di Bale Rucita Unpad Kampus Jatinangor, Senin (18/07).

Menurut Dicky, tiga potensi bencana ini sewaktu-waktu bisa saja terjadi bersamaan. Berdasarkan hasil penelitian bersama mahasiswa FTG selama bertahun-tahun, ia menemukan banyak wilayah yang rawan longsor dan gempa. Ia mencontohkan, bila kawasan tersebut mengalami gempa dan hujan bersamaan, sementara beban permukiman di atasnya yang berat, bukan tidak mungkin akan mengalami longsor.

Secara geologi, Jatinangor berada di sebelah timur kawasan Cekungan Bandung yang merupakan kawasan rawan gempa. Ini didasarkan pada adanya sesar (patahan) yang berada di wilayah Lembang. Berdasarkan penelitian, sejak ribuan tahun yang lalu, kawasan Cekungan Bandung pernah mengalami gempa besar yang kekuatannya mencapai 6,5 skala Richter.

“Berdasarkan penelitian, jika Bandung (kembali) mengalami gempa seperti itu, akan mengalami kerugian sekitar 4 triliun,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengandaikan, apabila gempa dan hujan terjadi bersamaan, sementara beban permukiman di atasnya sangat banyak, bukan tidak mungkin akan mengalami longsor. Potensi bencana ini juga melingkupi kawasan kampus Unpad Jatinangor. Jika konstruksi gedung dan mitigasi kebencanaan yang tidak baik, Dicky mengatakan, kerugian yang akan dialami Unpad akan banyak.

Sementara terkait potensi kembali aktifnya Gunung Manglayang, Dicky mengatakan, hal ini serupa dengan bencana erupsi di Gunung Sinabung. “Gunung Sinabung mengalami proses ‘tidur’ selama 700 tahun dan bahkan sudah dianggap mati. Tapi ternyata meletus kembali. Kami mencoba melihat potensi ini terjadi atau tidak di Manglayang. Prediksi ini penting untuk mengurangi risiko,” paparnya.

Namun, pemaparan yang disampaikan Dicky bukan untuk menakut-nakuti. Apabila proses mitigasi bencana dilakukan sejak dini, maka segala bentuk kerugian pada saat bencana terjadi akan berkurang.  Selain itu, urusan mitigasi kebencanaan bukan menjadi tugas satu bidang ilmu atau lembaga saja, tetapi memerlukan bantuan antar disiplin ilmu, lembaga, maupun masyarakat.

Radio Amatir Mitigasi Bencana
Meski sedikit terlambat, Unpad kini memiliki sistem mitigasi bencana. Pada 25 Juni 2015 lalu, Unpad melalui Unit Pramuka Unpad Gudep 06015 – 06016 mendirikan Stasiun Radio Amatir 7A1P. Stasiun radio amatir yang didirikan atas kerja sama Unpad-Kemeristek Dikti-Kemenkoinfo ini merupakan klub stasiun radio komunikasi mitigasi bencana.

KRT. Adikoesoemo, mantan Petinggi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang juga menjadi pembicara dalam sosialisasi tersebut mengatakan, stasiun radio amatir ini merupakan satu-satunya stasiun radio mitigasi bencana yang dimiliki Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia.

Stasiun radio yang berlokasi di Ciparanje, komplek Kampus Unpad Jatinangor, ini selain sebagai media pemasyarakatan pengetahuan mitigasi kebencanaan di wilayah Unpad, juga merupakan standardisasi bidang mitigasi yang harus dimiliki Lembaga Sertifikasi Profesi P1 mitigasi kebencanaan yang ada di Unpad.

Selain membangun jaringan komunikasi mitigasi bencana di Unpad, stasiun radio ini juga diharapkan mampu menjaring minat untuk terjun di dunia mitigasi bencana. Stasiun ini terhubung dengan jaringan BNPB, serta memiliki sistem DX yang mampu menjalin komunikasi jarak jauh dengan stasiun radio lain di seluruh dunia.

“Ini adalah suatu embrio mitigasi kebencanaan di Unpad,” tutur Dosen Fakultas Pertanian Unpad, Dr. Ir. Rachmat Haryanto, M.S., yang juga sebagai salah satu pendiri Stasiun Radio Amatir 7A1P Unpad.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Share this: