[Unpad.ac.id, 19/09/2016] Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Unpad, Bachti Alisjahbana, dr., Sp.PD-KPTI, Ph.D., meraih hibah penelitian internasional dari The United States Agency for International Development (USAID), pada awal September 2016. Hibah ini diperoleh untuk penelitian yang akan dilakukannya berjudul “Increasing TB Notification through one STop clinics and Engagement with Private Health Care Providers in Bandung, Indonesia (INSTEP)”.

“Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan deteksi penyakit tuberculosis (TB) di Bandung yang saat ini baru tercapai sekitar seperlima dari estimasi yang jumlah kasus yang ada. Langkah pertama yang akan dilakukan adalah membuat sistem pencatatan dan database online untuk pelaporan pasien TB. Sekarang kan kalau pelaporan pasien Tuberculosis (TB) itu hanya melulu dari Puskesmas saja,” ungkap dr. Bachti saat ditemui di ruang kerjanya di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jumat (16/09).
Adapun pelaporan yang dimaksud adalah catatan pada setiap pertemuan dokter atau tenaga medis lain dengan pasien TB atau diduga TB. Catatan ini kemudian direkapitulasi oleh Dinas Kesehatan hingga Kementerian Kesehatan, agar dapat didukung pengobatannya hingga tuntas. Laporan ini diantaranya meliputi catatan waktu pertemuan pertama, tindakan diagnostik seperti foto rontgen dan pemeriksaan dahak yang dilakukan, serta waktu mulai pengobatan hingga program pengobatan selesai selama 6 bulan.
“Mengapa (terkait) penyakit menular itu wajib lapor? Karena penyakit menular itu bukan berefek pada pasien sendiri, tapi juga berefek pada keluarga dan lingkungannya. Jadi penyakit menular itu wajib lapor di Indonesia, tetapi itu belum pernah jalan dengan baik,” ujar dr. Bachti.
Laporan tersebut semestinya dibuat berkala setiap bulan. Namun yang terjadi saat ini, pelaporan belum berjalan optimal. Diungkapkan dr. Bachti, saat ini pelaporan yang harus dilakukan tenaga medis masih bersifat manual (berbasis kertas), dengan mengisi sejumlah formulir yang harus dilakukan setiap hari dan dilaporkan setiap bulan.
Belum optimalnya sistem pelaporan saat ini mengakibatkan adanya ketidaksesuaian angka penderita TB yang tercatat pemerintah dengan angka yang sebenarnya. Berdasarkan data laporan rutin tahun 2014 diketahui jumlah penderita TB di Indonesia adalah sekitar 1:1000 (penduduk), sedangkan berdasarkan survei TB nasional, setidaknya penderita TB berjumlah 6:1000.
Jika penelitian ini berhasil, dr. Bachti mengungkapkan bahwa angka penderita TB di Kota Bandung yang terlapor pun akan mencuat tinggi. “Harusnya jumlah pasien TB yang dilaporkan bisa 2-3 kali lipat dari yang dilaporkan sekarang,” ungkap Ketua Pusat Studi TB-HIV FK Unpad ini.
Ekspektasi tersebut didasarkan atas banyaknya pasien TB yang saat ini diobati di sarana kesehatan non pemerintah. Di sarana kesehatan swasta ini, pasien TB sering tidak mentuntaskan pengobatannya karena terlalu cepat merasa sembuh dan tidak bisa dibina lebih lanjut oleh petugas kesehatan. Pelaporan yang semakin baik diharapkan akan diikuti dengan pengobatan yang baik sesuai standar sehingga dapat menurunkan angka kejadian TB dalam jangka lebih panjang.
Aplikasi online yang akan dikembangkan dr. Bachti beserta tim akan mempermudah sistem pelaporan bagi para tenaga medis. Pelaporan bahkan dapat digunakan melalui smartphone. “Di penelitian ini kita perbaiki sistemnya, supaya semua dokter dan tenaga medis bisa melapor dan mau melapor,” ujarnya.
Para dokter dan tenaga medis ini pun akan mendapatkan informasi yang cukup, disertai pelatihan mengenai cara diagnosis dan pengobatan TB yang benar. Selain itu, agar para petugas kesehatan mau menggunakan sistem ini dan mau melakukan pelaporan secara berkala, akan ada semacam penghargaan yang diberikan pada petugas kesehatan yang melaksanakannya. Kemudian, untuk memudahkan pasien mendapatkan layanan, penelitian ini juga akan mengadakan fasilitas diagnosis TB, meliputi pemeriksaan radiologi dan dahak mikroskopik secara gratis.
Penelitian ini akan dilakukan selama 3 tahun di 8 kecamatan sampel di Bandung. Bila berhasil akan dikembangkan di seluruh Bandung secara bertahap. Penelitian ini juga menggandeng mitra peneliti dari sejumlah perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Selain tim dari Unpad, peneliti yang akan terlibat tersebut berasal dari Telkom University (Indonesia), Harvard University (Amerika Serikat) , Radboud University Nijmegen (Belanda), dan University of Otago (Selandia Baru).
Diharapkan, dengan sistem informasi ini, maka kasus TB akan lebih banyak terdeteksi di Bandung. Dengan ini, jumlah penderita akan lebih tepat diketahui dan semuanya akan terinformasikan pada Puskesmas yang bisa membina pasien dan keluarganya hingga meningkatkankualitas pengobatan yang dijalaninya. Dengan demikian, diharapkan kedepannya jumlah penderita TB di Indonesia akan menurun.
“Kalau terealisasi, kita akan mempunyai suatu sistem pengembangan sistem informasi layanan kesehatan yang bagus, yang bisa diaplikasikan di seluruh Indonesia dan bukan hanya untuk tuberkulosis,” harap dr. Bachti.*
Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh
