[Unpad.ac.id, 28/10/2016] Langkah pemerintah terkait promosi bahasa Indonesia dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN dinilai kurang aktif. Meskipun kerja sama melalui program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) gencar dilakukan di tingkat internasional, promosi di regional ASEAN sendiri dipandang tidak terlalu aktif.

Demikian disampaikan ahli bahasa Indonesia, Prof. Dr. Dendy Sugono, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia “Mengenang Kiprah JS Badudu dalam Pengembangan Bahasa Indonesia” yang diselenggarakan program studi Sastra Indonesia Unpad di Aula Pusat Studi Budaya Jepang Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Kamis (27/10).
Selain Prof. Dendy Sugono, seminar ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. Bambang Kaswanti Purwo (Guru besar Universitas Atma Jaya), dan Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum., (Guru besar FIB Unpad). Selain seminar, kegiatan ini juga diisi dengan sesi paralel penyamapaian makalah oleh para pemakalah dari beberapa perguruan tinggi se-Indonesia. Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FIB Unpad, Yuyu Yohana Risagarniwa, PhD.
Prof. Dendy mengatakan, belum dibukanya program BIPA di tingkat ASEAN menjadi alasan pemerintah tidak aktif dalam mengembangkan bahasa Indonesia. Di sisi lain, masyarakat Indonesia sendiri tidak proaktif dalam mempelajari bahasa-bahasa yang digunakan di negara anggota ASEAN. Padahal, bahasa merupakan salah satu indikator kesiapan negara dalam menghadapi MEA.
“Kalau kita mau usaha, mau promosi ke sana, mau dagang di sana, harus tahu bahasa orang-orang di sana,” kata Prof. Dendy.
Mantan Kepala Pusat Bahasa (sekarang Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud) ini menuturkan, masyarakat lebih memilih mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa regional ASEAN. Selain bahasa Inggris, dalam dua dasawarsa terakhir, bahasa Mandarin, Jepang, dan bahasa Korea telah banyak dipelajari hingga di tingkat sekolah.
Sebagai bahasa dengan penutur terbanyak kelima di dunia, seharusnya bahasa Indonesia bisa “menguasai” seluruh negara di kawasan ASEAN. Prof. Dendy mengusulkan, sasaran paling strategis sebagai pelaku promosi bahasa Indonesia ialaj para generasi yang sedang berperan di bidang diplomasi, perdagangan, kebudayaan, pariwisata, tenaga kerja, dan pendidikan.
Selanjutnya, pemerintah juga menyusun dua strategi utama, yaitu penyiapan generasi muda untuk belajar bahasa-bahasa di Asia Tenggara, serta menyusun strategi penguatan pembelajaran BIPA di ASEAN.
Terkait pengembangan BIPA, Prof. Dendy juga membagi dua langkah pengembangan, yaitu pengembangan di negara-negara ASEAN yang tidak berbahasa Melayu, serta penguatan BIPA sendiri di Indonesia. Di Indonesia, program BIPA sendiri dibuka di beberapa perguruan tinggi serta di lembaga kebahasaan. “BIPA di Perguruan Tinggi masih belum semuanya membuka, kita akan terus dorong,” tambahnya.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh
