[Unpad.ac.id, 19/11/2016] Mengembangkan kesenian semestinya dilakukan secara tersistem dan bersifat kelembagaan, bukan bergantung pada orang-perorang. Peran pemerintah pun sangat diperlukan melalui kebijakan-kebijakan yang bisa lebih menghidupkan kesenian.

“Kita harusnya tidak lagi berbicara tentang orang, kita harus berbicara tentang sistem, kita berbicara tentang kelembagaan, dan dengan cara seperti itu kita harapkan bahwa kesenian ini bisa terus berkembang,” kata Guru Besar Universitas Padjadjaran Unpad sekaligus Budayawan, Prof. Ganjar Kurnia dalam Peluncuran dan Bedah Buku “Viatikara: dari Bandung untuk Dunia”di Bale Rumawat Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jumat (18/11) kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ganjar mengapresiasi buku karya Mahpudi dan Enton Supriyatna ini. Buku ini merupakan Biografi kelompok seni Viatikara, yang mengisahkan sejarah perkembangan Viatikara sejak awal terbentuk, termasuk perkembangan kreatifitas kesenian Sunda.
Menurut Prof. Ganjar, buku yang berkaitan dengan perkembangan organisasi kesenian sangatlah jarang, termasuk buku-buku yang berkaitan dengan sejarah kesenian. Melalui buku ini, dapat diketahui pula bahwa kreatifitas masyarakat Sunda dalam berkesenian tidak penah padam. Kreatifitas kesenian Sunda setidaknya sudah ditunjukan sejak tahun 1960-an, dimana kelompok seni Viatikara sudah diakui eksistensinya hingga di tingkat internasional.
“Dengan adanya buku ini menurut saya ini patut kita apresiasi secara bersama-sama,” ucap Rektor kesepuluh Unpad ini.
Prof. Ganjar pun menyayangkan mengapa saat ini eksistensi Viatikara di Bandung tidak sebaik perkembangan Viatikara di Surabaya. Menurutnya, gagasan untuk mengembangkan kembali Viatikara di Bandung sangat penting. Viatikara pun harus dapat menjadi pintu masuk masyarakat yang ingin memasuki dunia seni tradisi.
Kegiatan ini juga turut menghadirkan Budayawan Sasmiyarsi Sasmoyo sebagai pembahas buku. Ia pun mengharapkan, untuk meningkatkan eksistensi Viatikara Bandung, perlu adanya “suntikan” generasi baru, dengan tetap melibatkan penari senior yang telah banyak pengalamannya sebagai penasihat.
Viatikara sendiri merupakan kelompok tari yang telah berdiri sejak tahun 1961. Kampus Unpad dinilai sangat dekat dengan keberadaan Viatikara, karena sejak awal berdiri, pengurus Viatikara didominasi oleh mahasiswa Unpad. Bahkan Aula Unpad selama beberapa tahun menjadi tempat latihan Viatikara.
Selain peluncuran dan bedah buku, kehadiran Viatikara di Unpad juga diisi dengan pentas tari “Sendratari Nasional Indonesia Modern” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Jumat (18/11) malam.
Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad pun menyambut baik digelarnya kegiatan ini di Unpad. Diungkapkan Rektor, telah sejak lama Unpad memiliki komitmen dalam menjaga kebudayaan. Kehadiran Viatikara dalam berbagai kegiatannya di Unpad pun menjadi inspirasi dan energi untuk memperkuat misi Unpad dalam melestarikan kebudayaan.
Rektor pun mengatakan bahwa buku “Viatikara” dapat menjadi media penting bagi generasi berikut terkait catatan sejarah budaya di Indonesia. Diharapkan, sisi kekuatan akademik dapat lebih memberikan warna pada buku ini.*
Foto-foto oleh: Tedi Yusup dan Dadan T (Humas Unpad)
Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh





















