Konsorisum Riset SAMS Horizon 2020 Uni Eropa Populerkan Kembali Budidaya Lebah

[unpad.ac.id, 27/2/2019] Proyek konsorsium Smart Apiculture Management Services (SAMS) yang didanai Horizon 2020 Uni Eropa (EU) telah menginjak interval tahun pertama dari tiga tahun pelaksanaan. Universitas Padjadjaran sebagai satu-satunya perguruan tinggi Indonesia yang terlibat dalam proyek kerja sama internasional tersebut.

Suasana rapat penyelenggara (Steering Committee Meeting) Proyek konsorsium Smart Apiculture Management Services (SAMS) Horizon 2020 Uni Eropa (EU) di Universitas Graz, Austria, 19 – 23 Februari lalu.*

Sebagai evaluasi dari pelaksanaan tahun pertama konsorsium SAMS EU, Unpad mengikuti rapat penyelenggara (Steering Committee Meeting) yang digelar di Universitas Graz, Austria, 19 – 23 Februari lalu. Rapat ini merupakan pertemuan keempat pasca proyek SAMS EU dijalankan sejak Februari 2018 lalu.

Ketua penelitian kerja sama internasional SAMS EU Dr. Dwi Purnomo, M.T., mengatakan, rapat digelar untuk membahas kemajuan dan evaluasi dari riset pengembangan teknologi SAMS. Pembahasan tersebut meliputi perkembangan manajemen proyek, strategi pengembangan kapasitas, rencana penyelenggaraan workshop, hingga pengembangan purwarupa produk yang akan dirancang.

“Selama satu tahun ini juga, kegiatan ini telah menghasilkan publikasi internasional yang dilakukan bersama dengan anggota konsorsium,” ujar Dr. Dwi dalam rilis yang diterima Kantor Komunikasi Publik Unpad.

Proyek SAMS EU merupakan konsorsium riset yang bergerak untuk pengembangan inovasi digital pada manajemen perlebahan (apiculture). Proyek ini melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset dari berbagai negara yang memiliki perhatian pada pengembangan budidaya lebah, seperti Universitas Kassel, Universitas Grazz dan Latvia Agriculture University, serta lembaga riset Holeta dan Iceaddis dari Ethiopia dan Primari Indonesia Labtek Indie dari Indonesia.

Selama satu tahun pertama, proyek SAMS EU berhasil memopulerkan kembali pentingnya budidaya lebah bagi kelestarian lingkungan. Khusus di Indonesia, telah didapatkan karakteristik dasar pelaku budidaya lebah di Indonesia.

Proyek ini menggunakan pendekatan user centered design (UCD), suatu pendekatan yang mengembangkan produk teknologi yang didasarkan sesuai kebutuhan penggunanya. Meski demikian, butuh pendekatan yang baik agar pembudidaya lebah madu dapat mengadopsi teknologi ini.

“SAMS telah melahirkan fundamental riset yang baik dalam mengawinkan teknologi informasi dengan budidaya lebah sebagai jawaban atas tantangan Pembangunan berkelanjutan di masa yang datang,” terang Dr. Dwi.

Keikutsertaan Unpad dalam konsorsium riset internasional ini menjadi pembelajaran berharga, terutama dari aspek mengorganisasi penelitian yang melibatkan beragam pihak internasional.

“Ini menjadi sebuah wadah pembelajaran bagaimana secara kolaboratif dapat menciptakan penelitian-penelitian yang mengusung teknologi maju, tapi diarahkan untuk menciptakan dampak luas bagi kesejahteraan dan kelestarian lingkungan yang bekelanjutan,” kata Dr. Dwi.*

Rilis/am

 

Share this: