[unpad.ac.id, 29/4/2019] Infeksi tulang (osteomyelitis) menjadi ikon pada kasus ortopedi (orthopaedi) dan traumatologi. Ini disebabkan, kasus ini sangat sulit ditangani. Menjadi tantangan bagi para spesialis ortopedi dan traumatologi untuk mengatasinya.

Demikian disampaikan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Hermawan Nagar Rasyid, dr., Sp.OT(K), M.T(BME), Ph.D., FICS, saat memberikan orasi ilmiah berjudul “Konsep Baru dalam Penanganan Infeksi Tulang Kronis untuk Menjawab Tantangan Permasalahan Ortopedi dan Traumatologi di Indonesia” dalam Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Senin (29/4).
Prof. Hermawan mengatakan, infeksi tulang kronis merupakan infeksi tulang yang bersifat kronik. Pada 1970, ilmuwan Bucholz dan Engelbrecht memperkenalkan pertama kali penggunaan campuran antibiotik pada semen tulang sebagai tindakan profilaksis infeksi tulang.
“Sejak saat itu, berbagai penelitian telah banyak dilakukan di seluruh dunia, baik secara in vitro, in vivo, dan klinis, untuk meningkatkan penggunaan antibiotik beads dalam mengatasi masalah infeksi di bidang muskuloskeletal,” ujar Prof. Hermawan.
Ia menjelaskan, penatalaksanaan optimal dari infeksi kronis acapkali membutuhkan kombinasi antara pembedahan dan pemberian antibiotik. Namun, osteomyelitis sulit untuk diterapi dengan cara konvensional. Pemakaian antibiotik yang tidak tepat mengakibatkan efek toksik dan berbagai infeksi karena resistensi terhadap suatu antibiotik tertentu.
“Ini menyebabkan peningkatan biaya dan durasi perawatan pasien. Peningkatan biaya perawatan menyebabkan kalangan bawah sulit menjangkau pengobatan modern di rumah sakit,” ucapnya.
Dalam penelitiannya, Prof. Hermawan mendata para spesialis ortopedi tentang bagaimana cara mereka membuat antibiotik beads untuk kasus osteomyelitis. Hasilnya, setiap spesialis ortopedi memiliki bentuk dan ukuran beads masing-masing.
“Penulis menyimpulkan bahwa beads yang dibuat secara manual ukuran dan bentuknya tidak seragam, memiliki porositas yang kurang banyak pada permukaannya, memiliki rasio perbandingan luas permukaan terhadap volume yang tidak optimal, dan kandungan antibiotik yang tidak seragam,” jelasnya.
Dari hasil penelitiannya, Prof. Hermawan mengembangkan konsep baru pembuatan antibiotik beads berupa beads template system yang dapat dioperasikan dengan mudah dan cepat serta dapat membuat beads dengan bentuk dan diameter yang seragam. Templat ini diharapkan dapat digunakan oleh dokter spesialis ortopedi di Indonesia.*
Laporan oleh Arief Maulana
