Rilis

[unpad.ac.id, 11/5/2020] Duyung (Dugong dugon) atau dugong merupakan mamalia laut yang termasuk ke dalam jenis hewan yang dilindungi. Meski keberadaannya dilindungi, informasi mengenai kehidupan duyung di alam liar yang mencakup morfologi, taksonomi, ekologi, penyebaran, hingga perilaku belum banyak tersedia.
Hal ini menarik minat Program Studi Biologi Universitas Padjadjaran untuk menelisik lebih jauh perihal hewan duyung. Bekerja sama dengan Simbiosa Ikabio Unpad dan Himbio Unpad, digelar Webinar Series 2 “Ada Apa dengan Dugong? Menelisik Kehidupan Dugong dan Ekosistem Lamun”, Sabtu (9/5).
Webinar ini menghadirkan narasumber peneliti dari Yayasan Lamun Indonesia Juraij, M.Si. Dalam pemaparannya Juraij menjelaskan, morfologi duyung sangat mirip dengan lembu laut atau manatee (Tricheus manatus). Hanya saja, duyung memiliki perbedaan pada permukaan kulit yang lebih halus, berat tubuh mencapai 250 – 300 kg, serta panjang tubuh sekitar 2,7 meter.
“Sementara manatee permukaan kulitnya lebih kasar, berat tubuh 500 kg dan panjang tubuh 3 meter,” ujar Juraij.
Habitat duyung tersenbar di perairan Florida, Afrika Timur, Asia Selatan, Indonesia sampai perairan Australia. Penyebaran di Indonesia mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Maluku hingga Papua, dengan lokasi perjumpaan yang sering terdapat di Kepulauan Bintan, Pulau Seram, dan Kepulauan Kei.
Juraij menjelaskan, karena termasuk mamalia, duyung memiliki kelenjar susu. Memiliki gigi (gading) dan bulu sikat pada bagian mulutnya. Hewan herbivora sejati ini memiliki tubuh yang besar, berumur panjang, serta bersifat petualang.
Aktivitas harian duyung sebagian besar adalah makan (feeding) dan bertualang (traveling). Duyung lebih banyak mencari makan di ekosistem padang lamun (seagrass) serta di terumbuh karang. Dari 13 jenis lamun yang ada di perairan Indonesia, ada 3 jenis yang disukai oleh duyung, yaitu Halophila spp., Haludole spp. dan Syringodium isoetifolium.
“Selain makan dan bertualang, duyung juga banyak bersosialisasi dengan komunitasnya, muncul ke permukaan (surfacing), berputar (rolling), dan beristirahat (resting),” terang Juraij.
Perilaku lain dari hewan ini adalah menggaruk punggung untuk menghilangkan alga, istirahat di kolom perairan atau dasar perairan, mengambil napas, serta melakukan aktivitas kawin yang terkadang bisa berbahaya bagi manusia.
Dikatakan sebagai hewan dilindungi, kehidupan duyung memiliki sejumlah ancaman. Ancaman utama yaitu berhadapan dengan predator alami seperti hiu, terdampar ke perairan dangkal, hingga terperangkap jaring nelayan.
Untuk bisa mengamati duyung sendiri, Juraij menjelaskan, dibutuhkan keahlian menyelam, serta keahlian mengoperasikan drone. Ini bertujuan agar diperoleh lokasi keberadaan duyung atau jejak makannya. Survei juga bisa dilakukan di atas perahu atau melalui menara pengintai menggunakan teropong dan kamera.
Ketua panitian Webinar Series Biologi Unpad Budi Irawan, M.Si., mengatakan, webinar yang dimoderatori oleh dosen prodi Biologi Unpad Dr. Teguh Hosudo, M.Si, ini diikuti oleh 250 peserta dari 76 institusi di 25 provinsi di Indonesia.
“Banyak peserta sangat antusias dalam kegiatan webinar series 2 ini, khususnya menambah wawasan mengenai kehidupan liar hewan yang dilindungi,” kata Budi.(art)*
