Rilis

[unpad.ac.id, 30/9/2020] Produk tembakau alternatif yang menggunakan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) dinilai minim risiko dibandingkan dengan produk rokok konvensional. Hal ini didasarkan atas studi yang dilakukan Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian (PUIIPK) Universitas Padjadjaran.
Dosen Fakultas Farmasi Unpad yang menjadi ketua penelitian Auliya A. Suwantika, PhD, MBA, Apt., menjelaskan, studi menghasilkan temuan positif bahwa tembakau alernatif dapat mengurangi risiko bagi para perokok. Bahkan, HPTL juga dapat mengurangi angka ketergantungan rokok.
“Kami meninjau produk HPTL seperti, rokok elektrik, tobacco heating system (THS) dan snus dapat berperan dalam smoking reduction dan smoking cessation,” ungkap Auliya dalam rilis yang diterima Kantor Komunikasi Publik Unpad, Rabu (30/9).
(baca juga: Regulasi Indonesia Masih Setengah Hati dalam Upaya Mengurangi Jumlah Perokok)
Studi yang dilakukan Auliya dan tim PUIIPK Unpad menunjukkan, produk tembakau alternatif yang menggunakan HPTL secara umum memiliki nilai risiko lebih kecil dibanding rokok konvensional. Risiko kecil juga dimiliki HPTL untuk aspek kejadian yang tidak diharapkan atau adverse event (AE).
“Dari hasil studi penelusuran literatur secara sistematis yang telah dilakukan, nilai AE pada rokok elektrik atau e-cigarette (EC), tobacco heating system (THS) dan snus lebih kecil dibandingkan dengan rokok konvensional,” kata Auliya.
Terkait hasil studi ini, Auliya menyarankan untuk dilakukan studi lanjutan yang lebih komprehensif. Hal ini dilakukan agar studi bisa menjadi rujukan bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan perihal HPTL.
(baca juga: Lewat Riset, Guru Besar FK Unpad Temukan Upaya Menurunkan Angka Kematian Akibat Meningitis Tuberkulosis)
“Masyarakat juga didorong untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko,” tambahnya.
Ketua PUIIPK Unpad Irma Melyani Puspitasari, M.Si., PhD, Apt., menjelaskan, para perumus kebijakan dapat melakukan studi lanjutan yang lebih komprehensif, seperti uji toksikologi, studi populasi, uji klinis, dan uji eksperimen terkontrol secara acak.
Ini dilakukan agar regulasi mengenai pengurangan risiko HPTL dapat bermanfaat secara optimal.
“Kami berharap studi ini dapat menjadi langkah awal yang baik untuk memahami potensi manfaat dan profil risiko HPTL,” kata Irma.
Agar HPTL dapat dilihat secara menyeluruh, Irma mengharapkan lebih banyak riset klinis yang mengikutsertakan unsur pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. “Semua ini harus dilakukan demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan produktif,” pungkasnya.(arm)*
