
[Kanal Media Unpad] Indonesia dihadapkan tantangan peningkatan layanan kesehatan yang optimal. Salah satu kuncinya adalah penguatan kolaborasi dengan berbagai elemen, termasuk perguruan tinggi, guna menghasilkan inovasi.
Demikian disampaikan Direktur Operasi PT. Biofarma M. Rahman Roestan saat memberikan kuliah umum “Upaya Penanganan Pandemi Melalui Kerja Sama Perguruan Tinggi dan Industri” di hadapan mahasiswa Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Unpad secara luring di Exhibition Hall kampus PSDKU Unpad, Jatinangor, Sabtu (25/3/2022).
Rahman menjelaskan, menghadapi tantangan peningkatan layanan kesehatan tidak hanya menjadi tugas satu rumpun keilmuan saja. Bidang ilmu lain juga berperan penting. Salah satu contohnya adalah ketika mendorong masyarakat, terutama orang sehat, untuk mau divaksinasi.
“Menghadapi tantangan kesehatan itu tidak mudah. Salah satunya ketika mengajak orang sehat untuk divaksinasi. Ini membutuhkan bantuan teman-teman dari komunikasi,” kata Rahman.
Alumnus Unpad tersebut menjabarkan, banyak orang sehat yang enggan divaksinasi influenza karena harganya yang mahal. Padahal, efektivitas dan efikasi dari vaksin influenza dapat menciptakan imunitas tubuh dari influenza selama setahun.
Di sisi lain, dengan biaya yang sama atau mungkin lebih besar dari biaya vaksin influenza, orang dengan mudah menggunakannya untuk kebutuhan lain.
Selain itu, anggapan bahwa vaksinasi bertentangan dengan keyakinan hingga pemahaman keliru tentang vaksin menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang enggan divaksinasi. Kondisi ini memerlukan pendekatan keilmuan lain yang dapat memberikan pemahaman lebih baik dan sederhana mengenai pentingnya vaksinasi.
Rahman melanjutkan, banyak isu-isu tidak benar di masyarakat mengenai vaksin. Hal ini menjadi tugas perguruan tinggi untuk meluruskannya.
Di hadapan mahasiswa, Rahman mendorong untuk melakukan kegiatan produktif di luar perkuliahan. Riset dan menulis karya ilmiah menjadi aktivitas yang perlu dikerjakan, terutama menuliskan inovasi apa yang sudah dihasilkan perguruan tinggi.
“Tulis apa yang teman-teman kerjakan dan temukan. Jika tidak ditulis, nanti akan diambil orang lain untuk masuk ke jurnal ilmiah lainnya. Ini yang jadi pekerjaan rumah bagi Indonesia,” kata Rahman.
Mengenai inovasi kesehatan, Rahmat mengatakan bahwa Indonesia setidaknya memiliki 200 industri farmasi. Namun, hanya satu industri yang memproduksi vaksin, yaitu Biofarma. Hal ini merefleksikan bahwa Indonesia memerlukan beragam penelitian terbaru khususnya di bidang vaksin.
“China punya lebih dari 30 pabrik vaksin, makanya China lebih maju ketika penanganan pandemi. Makanya, ini jadi tugas kita semua. Penanganan pandemi ini tidak bisa bekerja sendiri,” kata Rahman.*
