Mahasiswa Temukan Kebinekaan dalam Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka

pertukaran mahasiswa merdeka
Rizki Alfadil, mahasiswa asal Aceh Selatan, dan Elzani Fadira, mahasiswi asal Pekanbaru yang menjadi peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di kampus Universitas Padjadjaran. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Menjadi peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) merupakan pengalaman paling berkesan dalam diri mahasiswa. Para peserta tidak hanya merasakan atmosfer belajar di perguruan tinggi di luar kampusnya, tetapi juga mengenal keanekaragaman budaya Indonesia.

Hal tersebut dirasakan para peserta Program PMM yang sedang menempuh studi di Unpad. Sebanyak 246 mahasiswa dari Aceh hingga Papua mengikuti program PMM di Unpad selama satu semester. Beberapa minggu berlalu, mahasiswa mengaku senang bisa berada di kampus Unpad.

Elzani Fadira, mahasiswi Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka asal Pekanbaru, Riau, mengaku mendapat banyak pengalaman berkesan selama menempuh studi di Unpad. Mahasiswi asal Stikes Payung Negeri Pekanbaru yang mengambil kuliah di prodi Keperawatan ini mengaku menemukan “keluarga baru” berupa teman-teman sejawat dengan latar belakang budaya berbeda.

Elza sendiri mantap memilih Unpad sebagai perguruan tinggi tujuan PMM karena Unpad dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia.  Selain itu, banyak dosen-dosennya yang merupakan alumni dari Unpad.

“Saya juga ingin merasakan bagaimana hidup di Jawa Barat,” kata Elza.

Keingintahuan mengenai Jawa Barat juga muncul dalam benak Rizki Alfandi. Mahasiswa Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka asal Aceh Selatan, Aceh, ini mengatakan, Jawa Barat terkenal akan keramahan masyarakatnya. Hal ini menjadi daya tarik bagi Rizki untuk bisa menyaksikan secara langsung.

“Ternyata betul dan di luar ekspektasi saya. Masyarakat Sunda sangat ramah dan ini menjadi bagian dari nilai yang bisa sapat dapatkan dari tanah Pasundan,” kata Rizki.

Mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang mengambil program studi Teknik Pertanian Unpad ini mengatakan, Program PMM sangat kaya dengan nilai kebinekaan. Peserta dapat berbagai hal mengenai keragaman suku, budaya, hingga agama.

“Kita menjadi tahu kekayaan perbedaan akan Indonesia,” ujarnya.

Kezia Ester Angel Yusuf, mahasiswi Universitas Sam Ratulangi, Manado, dan Rezha Audreyla Inayah Mahmudy, mahasiswi asal Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo. (Foto: Dadan Triawan)*

Pengalaman berkesan juga dirasakan Kezia Ester Angel Yusuf, mahasiswi Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara. Selama di kampus asal, mahasiswi angkatan 2020 tersebut berkuliah menggunakan metode daring akibat pandemi Covid-19.

“Pertama merasakan kelas offline itu justru perguruan tinggi orang,” selorohnya.

Kendati merupakan mahasiswa program pertukaran, Kezia mengaku sivitas akademika dan warga Unpad sangat menerima dirinya. Selama di Unpad pula, ia bertemu dengan peserta PMM lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.

Dari pertemuan itu, Kezia benar-benar menemukan pengalaman bagaimana sejatinya keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. “Kita sama-sama saling mengajari (kebudayaaan sendiri),” ujar Kezia yang ingin mencicipi “seblak” atau makanan khas Sunda tersebut.

Perbedaan budaya (culture shock) sempat dirasakan Rezha Audreyla Inayah Mahmudy, mahasiswi asal Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo. Sebagai mahasiswi yang baru pertama kali ke Jawa Barat, Audrey mengaku perlu beradaptasi dengan kondisi sosial budaya hingga suasana perkuliahan di Unpad.

“Dianggap biasa saja, lama-lama jadi terbiasa,” ujar Audrey.

Menjadi peserta Festival Kebudayaan yang menampilkan ragam atraksi budaya mahasiswa Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka menjadi pengalaman tidak terlupakan oleh Audrey. “Effort saat buat makanan khas, mencari baju adatnya, dan kebersamaan bersama teman-teman inilah yang tidak akan saya lupakan,” ujarnya.*

Share this: