Riset Guru Besar Faperta Unpad untuk Dukung Ketahanan Pangan

Tiga Guru Besar baru Universitas Padjadjaran menjalani Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Rabu (7/2/2024). Dua di antaranya merupakan guru besar Faperta, yaitu Prof. Dr. Yayan Sumekar, M.P. , dan Prof. Dr. rer. nat Ir. Suseno Amien. (Foto: Dadan Triawan)*

Laporan oleh Ismail Cahya Putra

[Kanal Media Unpad] Dua Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menyampaikan orasi ilmiahnya dalam Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, Rabu (7/2/2024).

Dua guru besar Faperta Unpad yang dikukuhan tersebut, yaitu Prof. Dr. Yayan Sumekar, S.P., M.P. dalam bidang ilmu persistensi herbisida dan Prof. Dr. rer. nat Ir. Suseno Amien dalam bidang ilmu pemuliaan tanaman in vitro.

Prof. Yayan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Persistensi Herbisida dalam Tanah yang Diberi Bahan Organik, serta Pengaruhnya terhadap Penekanan Gulma dan Optimalisasi Hasil Tanaman Pangan”. Dalam orasi ilmiah tersebut, Prof. Yayan menjelaskan peran herbisida dalam pengendalian gulma pada pertanian budi daya.

Prof. Yayan Sumekar. (Foto: Dadan Triawan)*

Menurutnya, Penggunaan herbisida mempunyai berbagai kelebihan dibandingkan cara mekanis, diantaranya adalah gulma dapat dikendalikan dalam waktu singkat, lebih efektif untuk lahan yang luas, bahaya erosi dan kerusakan akar dapat dihindari.

“Herbisida dapat mengendalikan gulma yang sukar disiang dengan tangan, mengatasi persoalan tenaga pada waktu yang diperlukan, mempertinggi mutu pemeliharaan, dan produksi tanaman lebih optimal,” ujarnya.

Kendati efektif mengendalikan gulma, salah satu permasalahan yang dihadapi dalam penggunaan herbisida adalah persistensi herbisida dalam tanah. Herbisida dengan persistensi sebentar tidak akan efektif melawan gulma. Namun, herbisida yang bertahan terlalu lama beresiko meracuni tanaman budidaya musim berikutnya.

Dari riset yang telah dilakukan, Prof. Yayan membandingkan hasil riset yang dilakukan di tiga negara. Menurutnya, persistensi herbisida di pulau Jawa cenderung lebih aman jika dibandingkan dengan hasil tes tanah dari Cina Utara dan India.

Tanah yang diberikan herbisida di pulau Jawa tidak menunjukan sisa toksisitas tanah setelah 83 hari, lebih cepat dibandingkan dengan hasil riset tanah di India yang memerlukan waktu 90 hari untuk menghilangkan sisa toksisitas dan hasil riset tanah di Cina Utara yang masih menunjukan toksisitas setelah 250 hari.

“Petani jika menggunakan herbisida ini, terutama yang di pulau Jawa, relatif akan aman dari pencemaran lingkungan selain dia bisa mematikan gulma, dengan persyaratan aplikasinya harus sesuai, dijalankan dengan baik, dan dosisnya harus sesuai.” ujar Prof. Yayan.

Sementara Prof. Suseno membawakan orasi ilmiah berjudul “Penerapan Bioteknologi pada Program Pemuliaan Tanaman untuk Ketahanan Pangan di Indonesia”. Dalam orasi ilmiahnya, ia menerangkan pentingnya inovasi bioteknologi dalam menjaga ketahanan pangan serta penerapan inovasi tersebut.

Prof. Suseno Amien. (Foto: Dadan Triawan)*

“Untuk meningkatkan ketahanan pangan Indonesia, maka pengembangan teknologi budi

daya menjadi hal yang penting dilakukan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi tanaman,” ujar Prof. Suseno.

Menerapkan bioteknologi merupakan salah satu cara untuk menopang ketahanan pangan melalui pemuliaan tanaman. Dalam riset yang dilakukan Prof. Suseno sendiri, rekayasa genetik pada tanaman jagung menghasilkan jagung dengan kandungan asam amino yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Prof. Suseno menekankan pentingnya dukungan untuk program-program pemuliaan tanaman seperti yang telah dilakukan. Hasil dari program-program pemuliaan tanaman perlu ditelaah dengan baik. (arm)*

Share this: