[Kanal Media Unpad] Stunting masih menjadi perhatian utama di Indonesia. Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting pada tahun 2021 dan 2022 tercatat sebesar 24,4% dan 21,6%. Angka ini dinilai masih tinggi dari standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.
Salah satu komitmen dalam melakukan pencegahan kelahiran bayi stunting adalah penggunaan dan pengembangan produk Small Quantity Lipid-based Nutrient Supplements (SQ-LNS).
The Lancet Series on Maternal and Child Undernutrition pada 2021 mencatat bukti kuat bahwa penggunaan SQ-LNS dapat menghemat biaya dibandingkan intervensi lain, mencegah malnutrisi anak, dan mendukung perkembangan anak.
Namun, tidak dapat produk SQ-LNS berupa food paste masih memiliki kekurangan terutama mengenai stabilitas produk yang sangat rentan terhadap oksidasi dan timbulnya rasa tengik.
Melihat urgensi ini, tim mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran mengembangkan inovasi berupa formulasi tablet SQ-LNS dari kacang kedelai. Kedelai sebagai komoditas pertanian Indonesia yang memiliki kandungan protein nabati yang tinggi, lemak yang rendah, dan sumber pangan serat.
Formula ini dikembangkan Virginia Heaven Mariboto Siagian, Johnessa Cung, Spica Diani Anandawijaya, Sandya Amelia Febriliani, dan Avika Widyapuspita, dengan dosen pembimbing Prof. Dr. apt. Iyan Sopyan, M.Si. Penelitian ini merupakan implementasi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2024 yang berhasil didanai Kemendikbudristek.

Suplemen ini dikembangkan menggunakan metode mikroenkapsulasi untuk melindungi kandungan protein serta omega-3 dan omega-6 dalam minyak kedelai yang penting untuk pertumbuhan tubuh dan otak janin. Selain itu, tim melakukan fortifikasi untuk menambahkan mineral seperti zat besi dan zinc yang dapat memengaruhi hormon pertumbuhan.
Tim memilih bentuk sediaan tablet untuk memperbaiki kekurangan SQ-LNS berupa food paste sebelumnya. Suplemen tablet SQ-LNS ini memiliki stabilitas produk yang baik dan tidak menimbulkan rasa yang tengik sehingga nyaman untuk penggunaan jangka panjang.
“Riset ini mendukung program pemerintah dalam menurunkan angka prevalensi stunting dan malnutrisi ibu hamil dan menyusui di Indonesia. Kami berharap inovasi ini dapat menunjang tercapainya target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024 dan tahun-tahun berikutnya,” ujar Virginia. (arm)*
