Peserta Unpad Wellness Peroleh Materi Mengenai Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Sosial

Peserta Unpad Wellness mengikuti kegiatan senam bersama yang digelar di Plaza Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Jumat (19/7/2024). (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Peserta program “Unpad Wellness” tidak hanya didorong untuk menerapkan perilaku hidup sehat, tetapi juga didorong mampu menjaga kesehatan mentalnya.

Hal ini terlihat dari kegiatan yang digelar Plaza Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Jumat (19/7/2024). Peserta program Unpad Wellness yang berjumlah 100 peserta mengikuti kegiatan senam bersama. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap dua minggu sekali untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan warga Unpad.

Usai senam bersama, peserta mengikuti kegiatan pematerian seputar kesehatan mental yang digelar di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor. Materi tersebut disampaikan Dosen Psikolog Klinis dan Kesehatan Fakultas Psikologi Unpad Aulia Iskandarsyah, PhD, dan Dosen Fakultas Kedokteran Unpad Dr. Veranita Pandia, dr., Sp.KJ(K)., M.Kes.

Dalam paparannya, Aulia menyampaikan materi berjudul “Kesehatan Mental untuk Hidup Sehat, Bahagia, dan Produktif”. Menurutnya, kesehatan yang baik dan sejahtera termasuk dalam SDGs yang harus diraih. 

Unpad sendiri telah menerapkan “Unpad Sehat Pisan” yang merupakan akronim dari “Sehat Pikir, Sehat Spiritual, Sehat Aktivitas, dan Sehat Makan”. Program Unpad Wellness dibuat untuk mendorong kesadaran terhadap kesehatan mental serta pencegahannya. 

“(Program Unpad Wellness) Dipercaya sebagai program yang efektif untuk melakukan health promotion dan health prevention,” ujarnya.

Lebih lanjut, Aulia mengatakan bahwa mental yang sehat adalah jika seseorang mampu menghadapi dan menyesuaikan diri dengan stres dalam kehidupan sehari-hari, memahami potensi diri yang dimiliki, dapat mempelajari sesuatu bekerja dengan baik, serta berkontribusi bagi lingkungannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, cara seseorang menanggapi stres bergantung pada bagaimana mereka memandangnya. Menurut Aulia, kualitas seseorang ditentukan melalui bagaimana cara mereka merespons kondisi stres tersebut. “Kita mau melihat itu (sebagai) stressfull situation atau mau melihat itu (sebagai) challenge,” katanya.

Stres sendiri seyogianya tidak bisa ditahan, tetapi dapat diatasi melalui manajemen stres. Manajemen stres merupakan upaya atau teknik yang digunakan dalam mengendalikan tingkat stres yang dimiliki. 

Terdapat lima cara dalam mengelola stres, yaitu menghilangkan atau mengubah stresor (faktor yang mengakibatkan terjadinya respons stres), menghindari sumber stres, mengubah persepsi terhadap sumber stres, mengendalikan konsekuensi dari stres, serta menerima dukungan sosial melalui keluarga, teman organisasi, atau perkumpulan.

Sementara Veranita menyampaikan materi berjudul “Social and Emotional Wellness”. Dalam paparannya, Veranita menjelaskan bahwa kesejahteraan (wellness) tidak hanya mencakup kesehatan fisik namun juga gaya hidup yang sehat.

“Jika kita menjaga wellness sepanjang hidup, walau proses penuaan terjadi pada kita, tapi kognisi kita akan tetap baik ,” jelas Veranita.

Kesejahteraan sosial merupakan salah satu dimensi dari kesejahteraan. Kesejahteraan sosial merupakan kemampuan untuk membangun dan mempertahankan relasi interpersonal dan komunitas yang positif. 

Social wellness adalah kemampuan kita untuk bisa menularkan hal-hal baik, hal-hal yang positif,” ujarnya. 

Selanjutnya, Veranita menyebutkan bahwa terdapat enam tips dalam memiliki kesejahteraan sosial, yaitu memiliki jejaring yang suportif dari keluarga dan teman, mempertahankan dan mengembangkan pertemanan juga jejaring sosial dengan menjaga batasan dalam hubungan, menghargai orang lain dengan menjaga nilai keanekaragaman, mengembangkan keterampilan asertif, mempertahankan keseimbangan antara waktu sendiri dan bersosialisasi, serta menjaga diri sendiri dalam segala situasi.

Selain kesejahteraan sosial, kesejahteraan emosional juga dibutuhkan bagi setiap individu. Dengan kesejahteraan emosional, seseorang akan dapat memahami emosi yang dirasakan dalam diri. “Kita harus menyadari hal itu dan menerimanya dengan sikap yang positif,” ujar Veranita.

Kesejahteraan emosional juga dapat menumbuhkan harapan pada seseorang akan masa depan yang akan membuat seseorang bahagia. “Kalau kita tidak mempunyai rasa bahagia dan bisa menikmati kebahagiaan, bagaimana kita bisa mempunyai harapan untuk dapat bahagia lagi,” kata Veranita.

Selanjutnya adalah kesejahteraan psikologis, yaitu kemampuan dalam mengatasi stresor secara positif dan adaptif serta memiliki perasaan dan perilaku yang mencerminkan kondisi mental dan emosional yang stabil. “Yang diperlukan dalam psychological wellness adalah kemampuan mengatasi masalah,” ujarnya.

Kesejahteraan sosial, kesejahteraan emosional, dan kesejahteraan psikologis perlu diterapkan oleh setiap individu. “Perlu kita pertahankan dan bahkan kita tingkatkan supaya kita bahagia, produktif, hidup berkualitas, dan well-being atau sejahtera,” pungkas Vernita. (arm)*

Share this: