Raih Hibah Indonesia-Australia, Peneliti Unpad Kembangkan Sistem Informasi Penyakit Udang

Aktivitas panen udang lobster di Keramba Jaring Apung Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad di Pantai Timur Pangandaran. (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Tim peneliti Universitas Padjadjaran akan membangun informasi terkait penyakit udang dan pencegahan wabahnya melalui hibah penelitian kolaboratif Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (Koneksi) 2024.

Para dosen yang terlibat yaitu Prof. Dr. rer. pol.Hamzah Ritchi (Fakultas Ekonomi & Bisnis), Rora Puspita Sari, S.E., M.Sc., Ph.D. (Fakultas Ekonomi & Bisnis), Alexander Muhammad Akbar Khan, S.Pi., M.Si., Ph.D. (PSDKU Unpad Kampus Pangandaran), Sunu Widianto, Ph.D. (Fakultas Ekonomi & Bisnis), Robi Andoyo, S.TP., M.Sc., Ph.D. (Fakultas Teknologi Industri Pertanian), Adhi Alfian, MAk., MiM. (Fakultas Ekonomi & Bisnis), Larasati P. M. Sugianto, S.E., BBA., MM. (Fakultas Ekonomi & Bisnis), dan Andreas Recki Prasetyo, S.Pt, M.S.M (Fakultas Ekonomi & Bisnis).

Penelitian tersebut berjudul “Designing Disease Reporting and Monitoring Systems (DRMS): A gender-Inclusive Action Design Research to Prevent Disease Outbreaks in Shrimp Farming in Indonesia”.

“Kami mengembangkan sistem informasi bagaimana menghadirkan reporting dan monitoring penyakit udang,” ungkap Principal Investigator penelitian Prof. Ritchi saat dihubungi Kanal Media Unpad.

Penelitian akan dilakukan selama dua tahun, mulai Juli 2024 hingga Juli 2026 mendatang. Penelitian akan dilakukan di sejumlah area pertambakan udang di Jawa Barat dan berbagai wilayah di Indonesia.

Selain untuk melaporkan penyakit udang, sistem ini juga dapat memonitor wabah penyakit udang di lingkungan sekitar dan memfasilitasi diperolehnya pengetahuan tentang budidaya udang.

“Sistem ini akan menjadi sebuah platform yang kolaboratif antara petambak udang dan stakeholders yang terkait supaya mereka itu bisa report atau melaporkan jika ada potensi penyakit udang di kolam mereka atau di lingkungan di sekitar mereka dan juga mereka bisa memonitor jika ada penyakit udang yang sedang menjangkit satu daerah,” kata Rora selaku Project Manager penelitian ini.

Dalam penelitian tersebut, tim juga ingin melihat keterlibatan perempuan dan penyandang disabilitas dalam proses menghadirkan nilai tambah di sektor akuakultur.

“Desain riset kita mempertimbangkan konsep inclusivity, gender balance atau gender empowerment, economic inclusion terutama untuk petambak yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Jika ada petambak yang memiliki disabilitas juga kita akan masukan sebagai faktor yang nantinya akan menentukan desain sistem itu seperti apa,” kata Rora.

Diharapkan Prof. Ritchi, penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas serta membawa nama baik Unpad di tingkat internasional mengingat hibah penelitian ini berskala internasional.

“Kami berharap ini bisa berdampak kepada peran serta Unpad di tingkat internasional, dalam konteks riset dan keilmuan di sektor sistem informasi, akuakultur, dan gender,” harapnya.

Penelitian juga diharapkan dapat berkontribusi pada perkembangan transformasi digital, khususnya di sektor akuakultur. Ritchi menilai nilai ekonomi dari sektor akuakultur khususnya udang sangat besar dan dapat berkontribusi pada produk domestik bruto Indonesia. Penelitian mengenai penanganan kesehatan udang berbasis teknologi digital juga masih minim.

“Kami melihat bahwa peran teknologi digital ini sangat membantu untuk bisa memberikan kepastian, memberikan kurasi yang lebih presisi dalam mengidentifikasi lokasi atau mendiagnosis penyakit-penyakit udang yang bisa menjadi sebuah katalog unik,” kata Prof. Ritchi.

Lebih lanjut Prof. Ritchi berharap, penelitian ini dapat berkontribusi untuk memberi masukan bagi pemerintah dalam menghadirkan kebijakan akuakultur agar dapat lebih baik lagi.

Koneksi 2024 merupakan pembiayaan riset kolaboratif antara pemerintah Indonesia dan Australia. Dalam penelitian ini, tim juga akan berkolaborasi dengan University of New South Wales (UNSW) Sydney, PT. Multidaya Teknologi Nusantara (eFishery) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai mitra riset. (arm)*

Share this: