Aghniyya Haura Nuryaman Pilih Unpad Karena Ramah Disabilitas

Aghniyya Haura Nuryaman, mahasiswa disabilitas tuli yang diterima di prodi Kesejahteraan Sosial Unpad (Foto: Dadan Triawan)*

[Kanal Media Unpad] Aghniyya Haura Nuryaman, atau akrab disapa Anika, merupakan salah satu mahasiwa baru Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2024/2025. Anika merupakan penyandang disabilitas tuli yang memilih untuk melanjutkan pendidikan di Unpad sebagai mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Anika lulus ke Unpad melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Saat mewawancarai Anika, Kanal Media Unpad dibantu oleh Fransisca Octi Sulistyaningsih, S.Pd., selaku Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan Akomodasi yang Layak (AYL) Unpad. Berkuliah di Unpad merupakan impian Anika sejak dirinya menginjak bangku SMA. Salah satu hal yang menginspirasi Anika untuk berkuliah di Unpad ialah Sang Ibu yang juga merupakan lulusan Unpad.

“Aku tertarik menjadi mahasiswa baru (di Unpad) karena aku mau mengikuti mama aku di sini,” ujar Anika melalui Octi, JBI dan AYL Unpad, ketika diwawancarai oleh Kanal Media Unpad.

Selain itu, Anika juga memilih Unpad sebagai tempat untuk melanjutkan studinya karena Unpad merupakan lingkungan yang ramah bagi disabilitas.

“Karena di Unpad, yang saya tahu di Unpad bisa terima disabilitas, dengan ragam disabilitas. Jadi lebih tahu tentang dunia disabilitas seperti apa kepada semua orang-orang,” ujar Anika yang merupakan anak kedua dari dua bersaudara tersebut.

Sebagai penyandang disabilitas tuli, Anika menerima informasi dengan memahami percakapan sendiri atau meminta tolong pendamping. Selama berada di Unpad pada masa PKKMB, Anika mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan JBI.

Mahasiswa yang berasal dari SMA Labschool UPI Bandung ini memiliki cita-cita untuk menjadi wirausaha. Selain itu, Anika juga menyatakan bahwa melalui kuliah di Unpad, ia berharap agar dapat mewujudkan cita-citanya untuk membangun sekolah bagi anak-anak, baik bagi penyandang disabilitas maupun tidak.

“Cita-cita aku ingin membangun sekolah untuk semua anak-anak, baik dengar maupun tuli,” kata Anika.*

Share this: