[Kanal Media Unpad] Direktur Sumber Daya Manusia PT. Pupuk Indonesia (Persero) Tina T. Kemala Intan mengatakan, lulusan perguruan tinggi harus lincah dengan tantangan global saat ini. Apabila generasi muda memiliki karakter yang kaku, dipastikan tidak bisa menghadapi tantangan global yang saat ini dinilai makin berat.
Demikian disampaikan Tina saat mengisi kuliah umum “Optimizing Psychological Science at Work, Strategy and Success Story” yang digelar di Aula Gedung 2 Fakultas Psikologi Unpad Jatinangor, Senin, 18 Agustus 2024. Kuliah umum ini merupakan kuliah perdana semester I tahun akademik 2024/2025 yang diikuti sekira 174 mahasiswa baru Fapsi Unpad jenjang Sarjana, Profesi, Magister, dan Doktor.
Alumnus Fapsi Unpad angkatan 1977 tersebut menjabarkan, saat ini kondisi dunia berubah dari era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity) ke era TUNA (turbulency, uncertainty, novelty, and ambiguity) yang dinilai makin kompleks. Adanya perubahan ini, lulusan perguruan tinggi, khususnya dari bidang psikologi, dituntut untuk lebih adaptif dan kreatif.
“Kalau kita kaku, kita akan kalah. Disarankan untuk belajar dan berusaha dari sekarang,” ujar Tina.
Tina yang menjadi sebagai salah satu direksi PT. Pupuk Indonesia sejak 2021 itu menyampaikan mengenai beberapa pekerjaan yang akan hilang atau digantikan dengan teknologi pada 2025 hingga 2050 mendatang. Untuk itu, Tina mendorong mahasiswa untuk lebih kreatif dalam memiliki keterampilan (skills).
Penguasaan keterampilan jangan hanya sekadar bisa untuk masa kini, tetapi harus mampu menyiapkan keterampilan yang bisa dipakai, setidaknya hingga 2050 mendatang.
“Bagaimana ilmu kita tetap tidak basi sampai saat itu dan dibutuhkan hingga berapa puluh tahun ke depan. Harus ada modal dari sekarang,” jelasnya.
Di hadapan mahasiswa baru, Tina mengatakan bahwa ilmu psikologi sangat dinamis. Jika mahasiswa nanti akan memilih ke jalur keilmuan, maka sebisa mungkin untuk mendalami lebih lanjut mengenai keilmuan psikologi. Sementara di sektor terapan, banyak bidang pekerjaan, termasuk bisnis, yang relevan dengan keilmuan psikologi.
Tentunya, mahasiswa sudah harus memperkaya kemampuan diri yang tidak hanya bergantung pada keilmuan di bangku kuliah. Mempelajari berbagai keterampilan nonteknis (softskills) dengan cara ikut seminar, hingga mengambil kursus atau sertifikasi kompetensi, sangat penting dilakukan.
“Jangan harap bekerja hanya dikasih satu fungsi saja. Kita harus banyak belajar lagi, mapping pelajari organisasinya, fungsinya apa, bagaimana business process-nya, mapping gap-nya, lalu kemudian susun quick wins (dalam waktu dekat),” jelas Tina.
Tina juga menyampaikan beberapa kemampuan yang perlu dimiliki agar terhindar dari kegagalan. Pertama, membiasakan untuk melakukan perencanaan (planning) dan pengorganisasian (organizing). Dua kemampuan ini harus bisa diasah sejak duduk di bangku kuliah. Diharapkan, mahasiswa tidak hanya bergantung pada nilai akademik sebagai modal untuk bekerja, tetapi juga dibarengi dengan keterampilan lainnya, seperti kemampuan berbahasa Inggris atau aktif berorganisasi di kampis.
Kemampuan kedua, mampu memecahkan masalah (problem solving). Banyak pekerja yang tidak bisa bertahan di dunia kerja karena kemampuan kerjanya tidak dipakai di dunia kerja. Salah satu alasannya adalah lebih senang melihat masalah ketimbang mencari solusinya. Kemampuan ini harus terus diasah selama berkuliah di Fapsi.
Ketiga, kemampuan mengambil keputusan. Kemampuan ini berkaitan erat dengan kemampuan memecahkan masalah. Mahasiswa Psikologi harus mampu untuk memecahkan masalah dan jago dalam mengambil keputusan, bahkan di saat genting sekalipun.
“Kalau merumuskan masalahnya salah, solusinya juga akan salah,” imbuhnya.
Kemampuan selanjutnya mampu berinovasi. Mahasiswa, kata Tina, jangan mudah patah hati jika ada penolakan terhadap ide atau gagasan yang dilontarkan. Bisa jadi, ide tersebut tidak bisa diterima karena cara jualannya salah.
“Kemampuan terakhir adalah diversity, equality, dan inclusivity.” Kata Tina. (Rilis)*
